Sekeras apapun usaha kita untuk saling menjauh, menjaga jarak satu sama lain dan ternyata kamu adalah orang yang tepat untukku. Aku bisa apa(?) Selain menerima dan bersyukur 🤲
tumblr dot com
Sweet Seals For You, Always
Alisa U Zemlji Chuda

Kiana Khansmith
Not today Justin
TVSTRANGERTHINGS
noise dept.
Sade Olutola

❣ Chile in a Photography ❣
Jules of Nature
Lint Roller? I Barely Know Her

⁂
Monterey Bay Aquarium
Claire Keane
Xuebing Du
Misplaced Lens Cap

titsay
Game of Thrones Daily
sheepfilms
Today's Document
seen from Germany

seen from France
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Canada
seen from Netherlands

seen from United States

seen from South Africa
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Sri Lanka
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Ireland
@byayunda
Sekeras apapun usaha kita untuk saling menjauh, menjaga jarak satu sama lain dan ternyata kamu adalah orang yang tepat untukku. Aku bisa apa(?) Selain menerima dan bersyukur 🤲

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
pov-ku
Nikah bukan solusi ketika lagi capek belajar karna jadwal kuliah padat dan ataupun ketika lagi capek karna deadline kerjaan yang menumpuk.
pov temanku yang sudah menikah dan umurnya lebih muda beberapa tahun dariku.
"Coba kakak pernah berpikir ketika lagi capek atau stuck sama suatu hal ada teman diskusi yang bisa bantu kakak dalam pemecahan masalah(?)"
Berdoa itu seperti bumerang. Karna doa-doa yang terucap akan berbalik kepada diri sendiri juga.
Mendoakan orang lain tanpa ia mengetahui bahwa kita mendoakannyapun suatu hal kebaikan.
Sudah pernahkah mendoakan hal-hal baik dalam diam?
Selamat istirahat. Jangan lupa berdoa ✨
Bersinar
Tepat dua pekan sebelum mbahku meninggal, tubuhnya drop dan harus dilarikan ke instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat. Tetapirumah sakit dekat rumahku tidak dapat menangani kindisi mbahku saat itu sehi gga harus dirujuk ke rumah sakit umum daerahku, cukup jauh jaraknya dari rumahku. Terletak di alun-alun kota dekat stasiun kotaku.
Sesampainya kami di rumah sakit, satpam instalasi gawat darurat dengan sigap membatu mbahku berbaring di tempat tidur pasien memasuki ruangan. Ibuku mengurus ke bagian adminstrasi sedangkan aku menjaga mbahku di ruang peralihan sambil menunggu kamar rawat kosong dan siap. Oiya, kami ke runah sakit diantar oleh tetangga samping rumahku. Dia sangat baik sekali. Ketika mendengar kondisi mbahku dengan sigap langsung menawarkan bantuan ubtuk mengantarkan kami ke rumah sakit tanpa harus kami meminta pertolongannya. Sungguh mulia sekali tetanggaku ini.
Cukup lama kami menunggu untuk mbahku mendapatkan kamar rawat inap di rumah sakit umum daerah ini. Atau mungjin dokter jaga di rumah sakitnya sudah mengetahui pesan tersirat dan kondisi tubuh mbahku sehingga tidak disampaikan kepada kami sebagai keluarga pasien. Selama proses menunggu di ruang peralihan itu.
bersambung
Platform untuk menulis, membaca dan berinteraksi dengan sesama pecinta literasi
Hey!
Aku mendadak mau sekali ke suatu tempat. Mau banget!
Aku rasa kamu tahu lokasi tujuanku

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kamu lagi kenapa?
Ngga tau
-end-
Iya aku tau kamu capek.
Istirahat ya
Rama
" Ma, dimana lu? " terdengar ucapan Diandra dari kejauhan.
" Assalamualaikum ibu Diandra. Gimana kabar hari ini?" balas Rama.
" Eh, orang nanya itu dijawab Ma. " sahut Diandra sedikit kesal. Baru hari ini ia masuk kerja dan kubikel Rama kosong. Barang-barangnya tidak ada.
" Mbok ya dijawab waalaikumsalam dulu gitu lho. Inimaaih pagi nelpon udah sewot aje. Udah sarapan apa belom nih? "
" Waalaykumsalam bapak Rama yang terhormat. Udah ah cepetan. Lu lagi dimana? Kenapa tempat lu kosong? "
" Gw.. " belum selesai Rama ingin menjelaskan sudah dipotong oleh Diandra.
" Ah parah banget lu. Udah ketemuan aja deh ya pagi ini sekalian sarapan bareng. "
" Ih, anak ajaib bernama Diandra ini jalan pikirannya sulit ditebak sekali. Lu baru cuti kan? Dapet izin pak bos keluar? "
" Udeh. Cincai lah itu. Gw nambah cuti hari ini. Cuma ya emang lagi mau ke kantor sebentar aja. Perasaan gw ngga enak. Lu ngga ada kabar kabar selama gw cuti. "
" Hehe. " hanya itu yang bisa Rama jawab. Di luar dugaan dirinya. Diandra mengajak ketemu duluan dan lebih cepat. Padahalia sudah berencana untuk menghubungi Diandra lebih dahulu.
" Di tempat biasa ye Ma. Jam delapan. Gw tunggu. Awas lu sampe ngga dateng. Gw samperin ke kostan lu. " ancam Diandra
" Yang bener aja jam delapan di tempat biasanya sih ok ya. Mon maap ni ibu sekarang jam berapa? Dipikirnya gw punya pintu doraemon kali. "
" Nah itu gw juga mau. Dah cepet lu siap-siap sekarang ya. Gw udah di jalan."
" Iye yee. Kalo gw balesin lu mulu kapan gw siap-siapnya."
" Oya bener juga. Tiati ye Ma. See you. "
" You too 😊. " pesan terakhir Rama dengan emotikon senyum. Ketika Diandra membaca balas chat terakhir perasaan kurang enak itu semakin menguat. Anak ini ngga biasa-biasanya manis dan romantis gini, segala ada emotikon senyum pula.
Diandra
Baru saja duduk di kursi tempat janjian dengan Rama, Diandra mendapat telpon dari nomor tak dikenal. Siapa lagi ini, batinnya.
" Hallo, dengan ibu Diandra. " sahut penelpon dengan suara tegas.
" Iya betul pak. Maaf ada keperluan apa ya? jawab Diandra ragu.
" Kami ingin mengabarkan teman ibu bernama Rama Permana mengalami kecelakaan. Tertabrak mobil ketika hendak menyebrang jalan. "
" Baik pak. Posisinya di rumah sakit mana ya? " jawab Diandra seolah tegar.
" Posisi rumah sakit tidak jauh dari cafe seruni bu. Mohon untuk kedatangannya segera ya bu. Terima kasih dan hati-hati di jalan." balas penelpon.
" Baik pak. Terima kasih. Saya segera ke rumah sakit sekarang. "
Diandra hampir pingsan mendengar berita kecelakaan Rama. Berarti kecelakan yang tadi ia lihat sebelum masuk cafe itu adalah Rama. Ia tidak berpikir korban itu adalah Rama, temannya. Posisi lampu orang menyebrang sudah hijau tapi ia melihat ada mobil nelaju dengan kecepatan tinggi melintas dan menabrak para pejalan kaki, yang ternyata salah satu korbannya adalah Rama.
Rama
Diandra masuk ke dalam ruang ICU rumah sakit tempat Rama masih berbaring tak berdaya. Ada banyak peralatan medis yang menempel di tubuhnya guna mendapatkan perawatan terbaik. Diandra duduk di sampinya, berdoa dan sambil memegang tangannya. Berharap ia segera pulih dan bisa bercerita tentang alasan pengunduran dirinya.
" Ma, inget ngga sih pertama kali kita ketemu itu di tempat wawancara di perusahaan tempat gw kerja sekarang. Iya udah bukan kita lagi Ma, karna lu udah resign. Resign mendadak ngga bilang bilang lagi alesannya kenapa ke gw. Ma, dari awal kita ketemu sebenernya gw udah bisa ngerasain ada hal yang berbeda dari lu dan kebanyakan cowo di luar sana. Lutampak dingin tapi sebenernya menyimpan misteri. Ada sesuatu yang lu tutupi dan lu jago banget nutupinnya. Lu selalu ceria dari awal kita ketemu. Ma, plis bangun ma. Gw mau dengerin cerita lu. Gw mau kita main bareng lagi. Gw mau denger suara ketawa lu. Gw mau lu nemenin gw kemana pun gw pergi. Ya walaupun gw ngga pandai baca maps, salah belok atau kelewatan dikit ngga papa ya Ma. Cuma lu orang paling sabar jalan sama gw, mba-mba golonga dua belas persen ngga bisa baca maps dengan bener. Ma, plis yaa. Gw ngga tau kalo ngga ada lu harus cerita sama siapa lagi. Ma, bangun yaa plis. Gw berharap banget lu bisa segera pulih dan sembuh Ma. " tanpa sadar Diandra mengucapkan itu dan meneteskan air mata mengenai telapak tangan Rama.
Menjelang subuh tangan Rama bergerak sedikit dan matanya meneteskan air mata mengenai rambut Diandra yang ternyata sudah terlelap karna letih bercerita sendiri di sampingnya. Sedikit saja gerakan tangan mengusap rambut Diandra. Ia berkata lirih " Maaf ya Ndra. "
Diandra terbangun karna suara alat detak jantung berbunyi nyaring. Nit panjang sekali disertain garis lurus di layar alat detak jantung Rama. Ia panik dan segera menekan tombol panggilan perawat. Perawat dan dokter jaga datang dengan segera dan menghampiri. Mencoba untuk melakukan pertolongan yang terbaik. Diandra diminta untuk menunggu di ruang tunggu. Apapun hasilnya gw ikhlas Ma, batin Diandra di saat yang bersamaan melepas tangan Rama.
Sakti
Sesampainya di kota tujuan, ia langsung menuju masjid terdekat untuk melaksanakan solat Jumat. Ia sampai stasiun sekitar jam sebelas. Masih ada waktu menuju masjid karna adzan dzuhur saat itu pukul 12.09. Cahaya matahari siang ini cukup terik sekali.
" Sak, udah sampe? " chat masuk ke dalam telpon genggamnya lalu segera ia balas.
" Iya nih udah. Di Tugu ya. Di pintu keluar. " balas Sakti
" Tugu? Kamu baru bilang e. "
" Lho, memang kamu dimana? "
" Aku udah standby tiga puluh menit yang lalu di Lempuyangan. "
" Owalah, maaf. Aku ngga ngeh liat tiketnya. "
" Sek yo tunggu aku tak ke situ. Diem aja ya. Jangan kemana- mana! "
" Iyo, tiati. Ku tunggu. "
Seketika Sakti terbangun dari mimpinya dan tersadar sudah sampai di stasiun tempat ia akan melakukan perjalan bisnis dari kantornya. Bersyukur bahwa apa yang ia alami tadi itu hanyalah bunga tidur semata. Ia menyadari bahwa mimpinya kali ini sangat rumit sekali. Ia seperti masuk ke dalam mesin waktu yang membawa ke masa depan dan masa lalu. Alurnya maju mundur seperti cerita novel yang sedang ia baca. Banyak pula menguras emosi di dalamnya. Ada luka batin dan bagaimana cara untuk berdamai serta menerima luka tersebut. Sampai ia berpikir rasanya menyenangkan sekali menjadi seekor ikan mas saja. Ikan mas merupakan hewan paling beruntung karna hanya menyimpan memori kenangan dalam waktu sepuluh detik saja. Ia mau jadi ikan mas untuk melupakan hal - hal kurang mengenak saja dalam hidupnya. Untuk hal baik ia mau selalu mengenangnya.
Selesai
Sakti
Bisa-bisanya Diandra menjalankan ide jahilnya di saat genting seperti ini. Akan ku balas nanti, batin Sakti. Dalam suatu hubungan butuh sedikit bumbu karna kalau terlalu lurus tanpa ada konflik bisa jadi bosan. Terkadang yang orang lain lihat dari hubungan asmara antara Sakti dan Diandra memang yang manis-manis saja. Iya karna buat apa mereka memamerkan kesedihan kepada khalayak ramai, yang ada bukannya pertolongan yang mereka dapat tetapi bisa jadi hinaan yang mereka terima. Sakti ini seolah sudah khatam dan kebal terhadap celaan dari kerabat dekat serta lingkungan sekitarnya.
Semasa sekolah sebagai anak laki-laki yang memliki postur tubuh kurang tinggi seperti anak laki-laki lainnya kerap kali jadi bahan becandaan teman sekolahnya. Belum lagi kulit Sakti yang eksotis. Beranjak dari masa remaja ke dewasa tubuh Sakti pun mengalami perubahan kembali. Dari yang tadinya berpostur kurang tinggi dan kecil sekarang mulai berisi. Hampir masuk ke kategori gemuk dan tetap saja jadi bahan becandaan teman-teman sekolahnya. Konon katanya anak laki-laki akan bertambah tinggi setelah dikhitan begitupun dengan Sakti. Transformasinya sedikit lebih baik perihal tinggi badannya.
" Eh, awas ada gajah lewat! "
" Ah, bukan gajah dia mah kuda nil. Liat aja kulitnya dan badannya yang besar itu. "
Sakti pun tak acuh terhadap perkataan kawan-kawannya itu. Ia tetap berjalan melewati korridor kampus seolah kawannya itu patung dan ia tak pernah mendengar apapun penilaian negatif terhadap dirinya.
Diandra
Masa lalunya tidak seperti remaja perempuan pada umumnya yang selalu dihujani kasih sayang berlimpah dari orang tua laki-laki, bapak ia menyebutnya. Sedari kecil ia harus bersekolah dengan dana dari beasiswa. Nilai rapor sekolahnya harus dipertahankan dan ia selalu menjadi juara kelas semasa sekolahnya. Kedua orang tuanya memang tidak berpisah tapi setiap hari ia serasa tinggal sendiri tanpa punya orang tua yang sangat sayang kepadanya. Bapaknya sibuk bekerja hingga pulang larut malam. Ibunya pun sibuk mengurus kegiatan organisasi di luar rumah sampai mereka bertiga pun tidak ada waktu untuk sekadar ngobrol menghangatkan keluarga apalagi makan bersamanya. Semua anggota keluarganya sibuk dengan dunianya sendiri. Hal ini menyebabkan Diandra dituntut untuk mandiri sedari dini. Di saat anak-anak lain selalu diantar jemput anggota keluarganya, sedangkan ia selalu jalan sendiri. Atau dengan mba jika mba asistennya rumah tangga tidak sibuk.
" Nah, ini baru anak bapak. " ucap bapaknya bangga hanya pada saat menlihat nilai hasil belajarnya tanpa mau peduli dengan bagaimana ia belajar dan selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya. Diandra sudah hapal betul perkataan bapaknya itu yang selalu diulang tiap tahun ataupun pertengahan semester.
Sampai suatu ketika, ia melihat bahwa bapaknya sedang berjalan bersama oerempuan lain yang bukan ibu kandungnya. Merekabergandengan tangan cukup mesra di area umum. Sejak kapan bapak seperti itu, batin Diandra. Dan sejak saat itu beberapa nilai ulangan mata pelajarannya menurun. Ia memikirkan tingkah laku bepaka di belakang ibunya. Dalambenaknya apakah ibu sudah mengetahui hal tersebut? Kalau pun belum apakah harus disimpan sendiri saja atau tetap disampaikan kepada ibu. Tapi bagaimana caranya? Diandra bingung dan terbukti saat pembagian nilai rapor tengah semester hasilnya cukup mengecewakan kedua orang tuanya. Katna sudah tidak kuat menahan semuanya sendiri. Akhirnyaia berkata jujur tentang apa yang telah ia lihat dan bagaimana perasaannya memendamkan kejadian selama itu. Dari kejadian itu orang tuanya sadar bahwa mereka sudah punya anak yang harus mendapatkan perhatian lebih serta menjalankan peran orang tua sebagaimana mestinya. Ibunya pun jujur bahwa sebenarnya selama ini ia belum siap untuk memiliki anak, merawat, membesarkan serta mendidik sebagai buah hati amanah dari Tuhan. Di awal pernikahan ibu sudah diskusi panjang dengan bapak dan mereka pun sudah sepakat untuk menunda memiliki momongan sampai mereka siap. Karna memang mereka menikah di usia muda dan sedang meniti karir. Tapi tuntutan dari kedua keluarga besar yang memkasa mereka untuk menjalankan program bayi tabung.
Ketika Diandra terlahir ke dunia, ibunya mengalami baby blues dan post partum depresion. Banyak orang mengira baby blues dan post partum depresion ialah dua hal yang sama ternyata berbeda. Ibunya mengalami perubahan emosi yang naik turun dan sangat mencemaskan kondisi dirinya setelah melahirnya serta ada ketakutan terhadap anaknya. Ditambah timbul gejala post partum yaitu gampang marah, cepat lelah dan hingga hampir ingin mengakhiri hidupnya setelah melahirkan. Beruntungnya kedua keluarga besarnya langsung mengetahui hal tersebut sehingga ibu cepat mendapatkan pertolongan.
Sakti
" Kamu yakin sama aku? Keputusan ini sudah kamu pikirkan matang-matang? " Diandra masih kaget, tak percaya bahwa dirinya dilamar Sakti di stasiun di saat ia akan pulang ke Jakarta.
" Inshaallah aku yakin Ndra bahkan dari awal aku ketemu sama kamu. Bagaimana kamu ngehandle anak murid kamu saat itu. " balas Sakti
" Tunggu, anak murid? Maksud kamu pas aku lagi field trip itu kamu ada di situ? "
" Iya ada aku di situ. Kamu lupa kalo kita papasan di toilet pas kamu menemani kedua anak murid kembar kamu mau buang air kecil? "
" Hah? Masa sih? Kog bisa? "
" Ya bisa Ndra. Namanya juga takdir. Siapa yang bisa mengubah takbir kalau Allah sudah berkata 'Terjadi maka terjadilah' ? "
" Yaa, ya tapi masa lalu aku dan latar belakang keluargaku. Kamu siap nerimanya? "
" Siap Ndra. Inshaallah aku siap. Butuh berapa kali lagi aku bilang siap untuk menyakinkan kamu? "
" Ini serius kan? Ka kamu ngga lagi ngerjain aku balik pas tadi dompet kamu jatuh kan? " terbata-bata Diandra menjawab, serasa lagi mimpi.
" Ndra, plis. Apa aku ini ada tampang bohong? Kamu juga tau masa lalu aku. Aku udah cerita dan kamu tau itu. Sampe aku ngga mau ketemu siapapun. Aku difitnah. "
Diandra tersipu malu. " Ini di depan orang banyak beginj kalo ngelamar aku trus ngajak nikah? "
" Ya mau gimana Ndra? Udah settingan pabriknya aku gini" jawab Sakti dengan muka datar. "Kamu mau cara yang romantis kaya di film-film gitu? Atau siapa aktor favorit kamu di drama korea itu siapa namanya? " lanjutnya.
" Haha,. Kamu ini ih nyebelin banget! Iya ngga gitu juga kali. "
" Ya terus. Gimana? "
" Iya. "
" Iya apa ni maksudnya gimana? Jelasin dong. "
" Iya aku mau jadi istri kamu." jawab Diandra sedikit kesal karna mau gimanapun cetakan Sakti ya memang begitu berpikir selalu logis dan jarang romantis.
" Alhamdulillah. Sini aku peluk dulu"
" Ih apaan sik, ngga ada peluk peluk di tempat umum gini. "
Terdengar suara pengumuman kereta api tujuan Jakarta yang akan Diandra naiki segera tiba di stasiun.
(Bersambung)
Sakti
Tepat pukul delapan pagi, ia sudah berada di stasiun Purwokerto untuk mengantarkan Diandra pulang ke ibu kota, Jakarta. Merelakan bangun sebelum matahari terbit dan ayam berkokok demi sang kekasih tercintanya ini sampai tepat waktu dan tidak ketinggalan kereta. Walaupun semalam ia baru bisa memejamkan matanya jam tiga dini hari.
Dinginya udara di penginapan sangat menusuk ke tulang membuat ia tak bisa terlelap. Dari pada membuang waktu percuma ia manfaatkan untuk mengedit foto. Mungkin jika dipakai sambil bekerja rasa ngantuk itu akan muncul. Tetapi tidak muncul juga hingga pukul tiga dini hari. Dan ia sengaja menidurkan diri karna selepas mengantarkan kekasihnya, ia harus menuju kota lain. Ada yang membutuhkan jasa motretnya. Sakti termasuk orang yang sangat memanfaatkan cuti untuk dapat menambah penghasilan. Tidak akan isa sia-siakan kesempatan ini. Selain menambah portofolionya, iajuga menambahan jaringan pertemanan serta biaya akomodasi sudah pasti ditanggung kliennya. Travelling tapi tidak memakai uangnya sendiri menjadi salah hal yang membuatnya bahagia dan sangat menyenangkan.
" Semua sudah dicek Ndra? " ucap Sakti mengingatkan kekasihnya jangan sampai ada barang yang tertinggal karna jarak tempuh dari penginapan menuju stasiun memerlukan waktu sekitar satu sampai dua jam jika perjalanan lancar.
" Wait, ku cek dulu. " jawab Diandra cepat. Sambil bergumama sendiri Diandra mengecek lagi semua barang bawaannya dan tak lupa dokumen penting perjalanan. Tiket kereta api dan kartu tanpa penduduk. Duahal ini sangat pebting, jika tidak. Bagaimana bisa ia cek in dan menaiki kereta api nantinya.
" Siap sudah komplit semua. Tiket kamu ada di kamu nih. Tapi aku kasih sekarang aja ya karna kita beda tujuan di stasiun nanti. " ucap Diandra sambil menyerahkan tiket kereta api Sakti tujuan kota selanjutnya. Sakti menerima tiket itu dan memasukannya ke dalam dompetnya. Supaya lebih mudah pas cek ini nanti, ia taruh di dekat posisi ia menaruh kartu tanda penduduk.
Diandra
" Mas, aku masih ngantuk banget. Kegiatan kita cukup padet ya selama dua hari kemarin. "
" Iya, mukamu keliatan lelah banget. Masih mau tidur sebentar menuju stasiun? "
Dengan memasang wajah memelas dan memohon langsung di jawab " Iya mas, gpp ya? "
" Apa sih yang ngga boleh buat pujaan hati mas. " ledek Sakti.
Sakti
Semasa kecil Sakti termasuk anak yang cukup bahagia dengan kasih sayang dari orang tuanya sebelum di kemudian hari kedua orang tuanya memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing. Usia Sakti saat itu sembilan tahun dan hak asuh Sakti berada di tangan orang tua laki-laki, papanya. Sedangkan adik perempuan Sakti ikut orang tua perempuan, mamanya. Sejak saat itu pula, Sakti berjuang untuk tidak selalu diledek oleh teman-temannya karna postur tubuh Sakti yang kecil.
Ada perasaan iri kepada teman-temannya setiap moment bagi rapor tengah semester, hasil belajar. Teman-teman lainnya selalu dengan orang tua mereka komplit, ayah bunda. Sedangkan ia, jika terkadang papanya ada perjalanan bisnis. Sudah dipastikan yang akan mengambil rapornya ialah mba asisten rumah tangga atau pun supir papanya. Tidak usah bertanya tentang mamanya. Karna sejak perceraian dengan papanya, mamanya sudah memutuskan untuk pindah ke bagian benua lain untuk bekerja dan menetap di sana serta melebarkan sayap bisnisnya untuk lebih pesat dan semakin berkembang. Adik Sakti pun ikut bersama mamanya. Enak sekali, pikir Sakti. Tapi apa yang terjadi tidak seindah yang dilihat. Beberapa kali adiknya sering cerita via sambungan jarak jauh atau terkadang via video call bahwa sama saja, ia pun merasakan kesepian dan dituntut untuk hidup mandiri di negara asing. Serta tuntutan agar lancar berbahasa asing tersebut sehingga tidak mengalami diskriminasi sebagai orang asing atau pun turis yang hanya sedang berlibur semata. Semakin berkembang dengan pesatnya teknologi bisa merekatkan hubungan yang tadinya jauh makin dekat. Tapi ibarat pisau bermata dua. Perkembangan teknolgi pun bisa berdampak buruk seperti menjauhkan hubungan yang harusnya dekat.
Setiap kali papanya melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau bahkan luar negeri, sepulang sekolah Sakti selalu main di rumah temannya. Iya papanya mulai melebarkan sayap bisnisnya secara perlahan ke kancah international. Bukan untuk mengikuti jejak mantan istrinya terdahulu. Tetapi awalnya mereka berbisnis bersama, hanya saja karna ego dan kesalah pahaman. Mereka mutuskan untuk berpisah. Sudah tidak bisa berjalan bersama karna visi misinya tidak selaras lagi.
Tomo Hiro, namanya. Anak laki-laki pertama keturunan Jepang- Indonesia. Ayah Tomo berkebangsaan Jepang dan ibu Tomo orang Indonesia asli. Namun, karna gen fisik mengalir cukup kuat dari orang tua laki-laki, maka postur tubuh Tomo mengikuti kebanyakan orang Jepang. Berambut lurus, agak jabrik, berkulit putih serta bermata sipit.
Merasakan seperti punya rumah baru setiap kali Sakti berkunjung dan bermain bersama Tomo di rumahnya. Ibunya pun begitu hangat. Tomo merupakan anak tunggal, tidak memiliki kakak ataupun adik. Sehinggaibu Tomo pun sangat senang sekali Tomo ada teman bermain sepulang sekolah dengan Sakti. Bukan hanya bermain, di rumah Tomo pun Sakti sering menginap untuk mengerjakan tugas sekolah bersama.
" Selamat sore Ibu. Saya Wira orang tua kandung Sakti. Maaf apakah anak saya sedang berada di rumah ibu? " begitu chat yang masuk ke dalam telpon genggam ibu Tomo. Sebelumnya memang ibu Tomo yang secara suka rela memberikan nomornya ke Sakti untuk diberitahukan kepada papanya supaya tidak khawatir keberadaan Sakti dimana, sedang apa dan bersama siapa.
" Sore Pak Wira. Iya betul. Nak Saktu sedari pulang sekolah sudah di sini bermain bersama anak saya. Sekarang Sakti sedang makan pak. Ada yang ingin disampaikan ke Sakti pak? " balas ibu Tomo.
" Alhamdulillah, syukurlah kalo begitu bu. Maaf saya merepotkan karna Sakti sering bermain ke sana bu 🙏" emotikon tangan permohonan maaf menyertai chat ke ibu Tomo. Sebagai orang tua, papa Sakti ada perasaan bersalah cukup dalam atas perceraiannya. Seharusnya Sakti dan adiknya tidak menjadi korban kegoisan kedua orang tuanya.
" Tenang saja pak. Sakti aman dan nyaman bermain bersama Tomo di sini. " balasan terakhir dari ibu Tomo yang mebuat papa Sakti tersenyum getir.
Sakti terlalu larut melihat kebahagian keluarga kecil di depannya ketika hendak memasuki stasiun tujuan membuat hatinya seperti ditetesi perasan air lemon, perih.
Diandra
" Ndra, dompetku dimana ya? " Sakti panik melihat dompetnya tidak ada di tempat semula ia taruh. Bagaimana ia bisa cek in. Tiket dan kartu tanda penduduk ia taruh di dalam dompet itu.
" Hah, serius mas? Coba cari lagi. " ucap Diandra seolah tidak tahu dimana dompet Sakti. Padahal dompet itu sudah berada di tangan dirinya. Pas Sakti jalan menuju loket pemeriksaan dompetnya terjatuh. Diandra melihatnya dan langsung ia simpan. Tapi bukan Diandra namanya jika ia tidak jahil tethadap kekasihnya itu.
(Bersambung)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Rama
Hari ini adalah hari terakhir Rama bekerja di perusahaan ini. Tapi ia belum juga memberi kabar kepada Diandra perihal pengunduran dirinya. Padahal ia sudah mengajukan surat pengunduran diri ini sesuai aturan oerushaaan yaitu tiga puluh hari sebelum harinya agar surat tersebut diproses dan ada serah terima kerjaan ke orang baru yang akan menempatkan posisi Rama saat ini. Nanti saja, pikir Rama. Karna Diandra sedang cuti dari perjalanan bisnis di akhir pekannya. Ia akan coba menghubungi Diandra untuk bertemu di lain waktu. Ia juga mengundurkan diri dari perusahaan ini dan pindah ke perusahaan lain yang masih sama-sama di Indonesia, masih satu negara. Pasti masih ada kesempatan bertemu Diandra lagi untuk menjelaskan sebab pengunduran dirinya kali ini.
Empat tahun masih jelas di ingatan Rama bagaimana mereka bertemu di lobby perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. Mereka sama-sama lagi di tahap interview kerja. Jatuh cinta pada pandang pertama seolah klise tapi nyata adanya. Bagaimana tidak. Siapa pula yang tidak tertarik pada sosok Diandra dari pertama kali bertatap muka. Senyumannya yang manis, sorot matanya yang begitu meneduhkan. Menjadikan semua orang yang melihatnya pun seolah tidak ingin waktu cepat berputar. Diandra pintar memadu padankan pakaian yang ia kenakan. Warna yang ia kenakan harus selalu pas dan sesuai dengan moodnya hari itu. Karna apapun yang ia kenakan harus mampu menaikan kondisi moodnya sepanjang hari. Dari pakaian ia mampu mengelola emosinya dengan baik. Dan dari warna pakaiannya pula dapat mencerminkan suasana hatinya di hari itu.
Di tahap akhir wawancara kerja di perusahaan tersebut mereka bertemu kembali. Saling bercerita bagaimana bisa sampai lolos ke seleksi tahap akhir ini. Karna bukan sembarang orang bisa masuk sebagai karyawan di perusahaan ini. Seleksinya pun sangat ketat. Tidak ada istilah bisa masuk lewat jalur orang dalam sekalipun ada kerabat dan atau saudara kita yang telah bekerja di sini. Hasil seleksi murni dari hasil test wawancara selama dua hari ini. Kemampuan selama belajar di sekolah atau pun perguruan tinggi sangat diuji di sini. Perusahaan ini sangat menjunjung tinggi kompetensi dari sumber daya manusianya. Bukan hanya pintar tapi juga harus berbudi pekerti baik. Oleh karna itu di seleksi tahap awal adalah tentang pertanyaan kemampuan dasar sesuai bidangnya masing-masing. Bukan pertanyaan jebakan hanya saja pertanyaan itu ada di materi awal mereka sekolah. Masalah jawaban benar atau salah mereka pun pasrah saja, sudah jauh waktu mereka menerima materi ini pas di sekolah kejuruan dahulu. Maka dari itu ada himbauan di awal sebelum mengikuti seleksi tahap awal wawancara ini mewajibkan seluruh peserta untuk sarapan. Karena jika tidak bisa dipastikan akan pingsan menjawab soal kompetensi tersebut. Pas jam makan siang pun di sediakan oleh perusahaan tempat wawancara. Hari pertama selesai dilanjut hari kedua di esok harinya. Hari kedua hari untuk tes wawancara psikotest. Dan seperti di awal disampaikan bahwa semua peserta wawancara wajib sarapan di pagi hari untuk menjaga stamina agar kuat menjalani test hari kedua ini sampai akhir test. Test wawancara pun berlangsung lebih lama dari test kompetensi kemarin. Ruangan yang kondusif dan stamina prima dari peserta adalah faktor pendukung agar test ini dapat berjalan dengan lancar. Beberapa peserta sudah ada yang selesai melakukan test psikotest ini. Ada beberapa bagian yang diharus mengerjakan soal secara bersama dalam satu waktu. Dan jika bagian itu sudah selesai, peserta boleh melanjutkan ke bagian test berikutnya tanpa ada batasan waktu. Ada yang selesai lebih cepat, bahkan ada peserta yang menyelsaikan test menjelang ashar tiba. Pas sesi makan siang tentu saja sudah disediakan lagi oleh perusahaan. Jika tidak peserta harus membeli makanan di luar dan itu memerlukan waktu yang cukup lama katna tempat wawancaramya jauh dari pemukiman penduduk.
Pengumuman hasil seleksi tes kemampuan kompetensi dan psikotest akan diberitahukan melalui email dalam tujuh hari ke depan. Jika lolos maka akan ke tahapan selanjutnya yaitu tes kesehatan. Dan dari hasil test kesehatan tersebut akan diinfokan kembali siapa saja yang lolos untuk bisa langsung mengikuti pelatihan karyawan sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam perusahaaan ini.
Ingatan Rama masih sangat jelas bagaimana ia pertama kali bertemu Diandra dari tahap awal test hingga kemarin sebelum Diandra izin cuti kerja. Berat sekali rasanya meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini. Tapi mau bagaimana lagi ada satu impian Rama yang sangat ia idam-idamkan dan ini pun sudah menuju tahapan akhir hingga akhirnya lolos dan diterima. Ia pun sudah siap melepas semuanya untuk memasuki fase baru dalam hidupnya di masa pelatihan nanti.
Sakti
Setelah pertemuan pertama kalinya dengan Diandra di salah satu tempat rekreasi di kawasan Jakarta Utara itu. Sekarang Sakti bertemu lagi dengan Diandra secara tidak sengaja dan tanpa terencana di salah satu toko buku di kawan Jakarta. Sakti sempat bergumam dalam hati, bagaimana jika ia bertemu dengan belahan jiwanya di toko buku yang sering ia kunjungi. Apakah mungkin? Kaya kejadian di drama Korea saja, pikirnya. Dan sekarang ia bertemu lagi dengan Diandra. Jalannya takdir tidak ada yang bisa menebak arahnya akan kemana.
Ketika hendak membayar belanjaannya di kasir ternyata dompet Diandra tidak ada di tasnya.
" Ya ampun. Aku baru inget terakhir pake tote bag yang abu-abu itu. " ucap Diandra setelah mencari-cari dompetnya di tas yang sedang ia pakai saat ini. Setelah melihat antrean di kasir cukup panjang dan makin mengular. Ya ini akhir tahun banyak potongan harga. Maklum saja banyak yang berburu buku dan alat tulus kantor di sini. Sakti hanya mengamatinya dari kejauhan sambil tersenyum dan bergumam perempuan ini cocok jadi ibu dari anak-anakku kelak.
Diandra
Sifat pelupa yang masih saja ada di dalam diri Diandra tidak pernah akan bisa hilang nampaknya. Seharian berkegiatan di luar ruangan dan ia lupa mengaplikasikan tabir surya ke wajahnya menyebabkan wajahnya memerah nampak seperti kepiting rebus.
" Aw, mukaku perih banget. " ucap Diandra sambil melihat dirinya di kaca.
" Kegiatan kita hari ini seharian di luar lho Ndra. Bisa-bisanya kamu lupa pake sunscreens. "
" Ya abis aku pikir kan ngga akan seterik tadi cahaya mataharinya. Lagipula kita berangkat masih gelap juga kan. " balas Diandra membela diri.
" Kamu tuh. Ya udah sekarang istirahat ya persiapan buat berangkat pulang besok." Walau sedikit kesal Diandra tetaplah Diandra. Saktihanya bisa menghela napas. Cueknya sifat Sakti takkan bisa jika ia harus berhadapan dengan kekasihnya ini. Untung saja di projek kali ini bekerja sama berdua dengan dirinya. Jika tidak, entahlha. Pikir Sakti.
(Bersambung)
Diandra
Seiring berjalannya waktu Diandra semakin tidak ingin mengingat hari ulang tahunnya, walau pun sebenarnya ia sangat mengingat jelas kapan tanggal, bulan dan tahun lahirnyabaik secara Masehi ataupun Hijriah. Yang ia ingat sampai hari ini ialah tidak pernah ada pesta perayaan tanggal lahirnya itu. Iya sejak ia kecil sampai sekarang satu kejutan pun tak pernah ia dapatkan. Bahkan beberapa kali ada kejadian kurang enak selalu terjadi berulang kali dari tahun ke tahun di tanggal itu. Ibunya kerap kali mengusirnya dari rumah di tanggal ulang tahunnya. Hal ini sempat terjadi selama dua atau tiga tahun berturut-turut, ia lupa kapan lebih tepatnya. Di tahun pertama ia berpikir sedang diberi kejutan tapi setelah melewati tanggal ulang tahunnya ternyata biasa saja. Ternyata memang ibunya mengusirnya dengan niatan yang serius. Ia tidak pulang ke rumah pun tidak dicari siapa pun. Tidak pernah ada penjelasan yang pasti kenapa kejadian itu berulang. Mungkin ibunya sedang ada masalah di kantornya dan Diandra selalu jadi pelampiasan amarahnya yang selalu terjadi di tanggal ulang tahunnya. Sebagai anak, Diandra hanya bisa pasrah saja saat itu.
Sampai suatu ketika ia habis pulang kerja mendapatkan telpon dari nomor telpon baru yang ia sendiri tidak tahu itu nomor siapa karna tidak bertuan nomor tersebut di telpon genggamnya.
"Hallo dengan Diandra" sahut penelpon.
"Iya betul dengan saya sendiri" balas Diandra.
" Kamu jangan coba dekat-dekat dengan suami saya ya" ucap penelpon.
Diandra bingung. Suami siapa ini. Ia mencoba mengingat kembali sedang dekat dengan siapa tapi memang ia sedang tidak dekat dengan siapapun. Belum sempat Diandra memberi klarifikasi, penlpon sudah melontarkan kata-kata lanjutnya yang cukup mengejutkan tentang fakta yang harus ia terima.
" Kamu ngga tahu kan kalo mas Doni menikah. Saya istri sahnya. Dia sudah punya tiga anak. Anak yang pertama baru masuk SMA. "
Jujur Diandra kaget sekaget kagetnya karna selama ini mas Doni yang ia kenal tidak pernah menginfokan bahwa ia sudah menikah dan punya anak. Diandra dekat dengan mas Doni pun sebatas teman pulang kampus bersama kedua teman kampus lainnya. Sama sekali Diandra tidak ada perasaan apapun ke mas Doni ini.
Sepanjang telpon itu berlangsung Diandra hanya bisa membalas "iya , iya , iya" Padahal dalam hatinya kurang ajar mas Doni ini, lelaki sudah beristri masih saja mendekati perempuan-perempuan single di kampusnya. Memang apa ada yang kurang dari istrinya?
" Tolong bilang juga sama kedua teman kamu yang lainnya ya Diandra. Jangan coba-coba dekati suami saya! Dia sudah beristri dan anaknya sudah tiga. " ucap kalimat terakhir dari penelpon.
" Iya mba, tapi sa " Belum sempat Diandra membalas perkataan yang terakhir, sudah terdengar nada *tut tut tut. Sambungan telpon terputus. Ingin rasanya Diandra melanjutkan perkataannya tadi " Iya mba, tapi saya beneran ngga tau mas Doni sudah beristri dan punya anak juga. Dia aja yang kegenitan sama saya dan temen- temen lain di kampus."
Argh, sebal sekali. Ada apa dengan hari ini. Kenapa beberapa kejadian di hari ini cukup mengejutkan dirinya. Belum lagi kejadian di kantor tadi yang membuat Diandra hampir menangis. Kalau saja tidak ada Rama yang menghibur dirinya seketika itu juga, Diandra sudah menangis di depan rekan kerjanya yang jahat itu. Dari awal ia di tempatkan di bagian ini saja sudah merasa bahwa rekan kerjanya sangat menyebalkan. Ya sampai akhirnya tadi Rama datang secara tidak diduga menghiburnya yang hampur meneteskan air mata.
" Dorr! " suara Rama mengagetkan Diandra yang sedang fokus terhadap kerjaannya.
" Astagfirullah. Maa, apaan sih ngagetin aja! " ucap Diandra.
" Eh, nape lu mata lu berkaca-kaca gitu? Muka ditekuk lagi. Ada apa sini cerita sama kaka. " ledek Rama karna melihat ada yang beda dengan Diandra. Biasanyaia selalu ceria tapi tidak dengan hari ini.
" Ih Ma, apaan sih! Udah sana ih. Ganggu aja lu. " ada perasaan senang Rama menghampirinya tapi ada perasaan sebal juga karna kerjaannya belum selesai sudah ditambah kerjaan lain dan harus selesai saat itu juga. "Alamat lembur lagi nih. " batin Diandra.
" Yee, galak amat sih Ndra. Jangan galak-galak ah! " masih saja Rama mencoba mencaurkan suasana.
" Emang kerjaan lu udah selesai? Gw masih ada kerjaan nih bantuin dong Ma. " ucap Diandra memelas
" Santai Ndra. Udah jam makan siang nih. Makan siang dulu kali baru lanjutin kerjaan lagi. "
" Lho, emangnya udah jam berapa? " diliriknya jam tangan di tangan kananya. " Ya ampun udah jam segini ternyata. Gw ada janji bales chat klien pas jam makan siang lagi. " Diandra panik. Karna selain kerja kantoran ia juga memiliki penghasilan tambahan dari bisnis yang ia jalankan di akhir pekan. Akhir pekannya tidak bisa diganggu gugat. Kalau pun harus lembur di akhir pekan sudah pasti akan ia oper ke juniornya. Ia lebih memilih membesarkan bisnisnya secara perlahan untuk bekal setelah ia mengundurkan diri dari perusahaan ini.
" Tuh kan, gw hadir di waktu yang tepat dong berarti Ndra. "
" Iye Ma,iye. Gw bawa bekel juga. Mau makan apa lu? "
" Hmm, apa ya. Gw pikir-pikir dulu deh sambil jalan ke depan. "
Diandra hanya melirik Rama, " Ck ck ck."
" Ya udah Ndra. Tunggu gw di kantin ya. Mau beli makan dulu gw. " ucap Rama sambil berjalan menjauhi Diandra.
" Iye, Rama Permana nu bageur bin bawel. "
Akhir pekan ini Diandra sudah ada janji dengan kliennya di luar kota. Ini merupakan kali pertamanya mengambil job di akhir pekan jauh dari domisilinya sekarang. Ibarat kata pepatah sambil menyelam minum air. Perjalanan ke luar kota sekaligus melakukan pekerjaan. Senang sekali rasanya, bagi Diandra. Pekerjaan akhir pekannya selalu membuat hati Diandra bahagia, walau pun pasti tiap kerjaan ada risikonya. Tapi pekerjaannya ini berbeda. Selelah apapun ia menjalankannya tetap selalu senang dan bahagia. Klien yang satu itu termasuk kliennya selalu repeat order atas jasa Diandra. Maka dari itu pas momen pernikahaannya pun hanya mau dihandle oleh Diandra. Sudah terlanjur suka sama hasul karya Diandra. Memang untuk pekerjaanya kali ini ia melakukannya dengan sepenuh hati. Bukan karna ia tidak mencintai pekerjaan kantorannya saat ini. Bagaimana bisa ia bertahan tujuh tahun lebih di kantornya yang sekarang kalau tidak cinta. Perasaan yang sangat berbeda ia rasakan semenjak pindah divisi dan tiap hari kerja bertemu rekan kerja yang jahat.
Tiket perjalanan pulang pergi, hotel tempat ia akan beristirahat serta akomodasi selama perjalanan luar kota ini sudah dipesan dan ditanggung semua keperluannya oleh klien baik hati. Diandra hanya membawa diri dan pakaian secukupnya serta asisten untuk membantu dirinya.
(Bersambung)
Rasanya masih sama seperti dulu ketika pertama kali Sakti datang ke tempat ini bersama keluarganya. Senang dan bahagia. Sedari Sakti kecil, ia selalu suka dengan dunia bawah laut. Baginya melihat keindahan bawah laut dengan segala jenis ekosistem di dalamnya sangat membuat hatinya damai dan bahagia. Dan hari ini ia kembali bersama Diandra, kekasihnya yang akan dia nikahi tiga bulan dari sekarang. Mereka datang ke sini lagi untuk melakukan sesi foto sebelum pernikahan. Foto pre-wedding, istilah kekiniannya. Mereka ingin mengabdikan moment dimana secara tidak sengaja mereka bertemu.
Sebagai guru TK Permata, saat itu Diandra sedang menemani murid-muridnya bertamasya ke taman rekreasi di salah satu tempat di kawasan Jakarta Utara.
Hari ini Sakti kembali menjalankan kegiatan sehari-harinya sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan, setelah mengikuti kegiatan terapi selama ia cuti. Tetapi tidak hanya sebagai karyawan saja. Sekarang ia juga memiliki bisnis kecil-kecilan yang dijalankan di akhir pekan sebagai seorang freelance photografer. Ya, tukang foto keliling yang melayani berbagai macam event.
Kemampuan fotografi ini berawal ketika Sakti bertemu teman SMPnya, Taufan. Secara tak sengaja Sakti bertemu Taufan di salah satu warung makan di malam hari di kawasan Jakarta Timur. Dari situlah awal mula ketrampilan serta teknik foto Sakti mulai terbentuk. Awalnya, ia sudah suka moto apa saja yang ia lihat dengan telpon genggamnya. Dan semenjak bertemu Taufan perlahan mulai belajar teknik motret berbagai macam objek dari benda mati hingga objek bergerak. Dengan sabarpun Taufan mengajari Sakti. Taufan melihat ada bakat terpendam dari diri Sakti yang jika diasah lebih dalam dapat menghasilkan uang.
Menjadi sibuk merupakan jalan yang Sakti pilih sekarang. Ia tidak mau terlalu larut dalam trauma masa lalunya. Ia harus memberi akses orang baru untuk datang ke dalam kehidupannya. Karna itu juga ia setidaknya harus membuka diri, jika memang dirinya membutuhkan pertolongan.
Selalu bangun sebelum matahari terbit, melakukan yoga serta meditasi pagi membuat Sakti merasa dirinya lebih bugar dari biasanya. Dari terapi itu ia sudah lebih bisa belajar belajar dengan trauma masa lalu, belajar untuk memaafkan dan melepaskan dan menemukan kembali diri sendiri lebih dalam. Kegiatan kemarin hanya lima hari. Sakti ada kemauan untuk bisa ikut kegiatan yang agak panjang selama empat belas hari. Mungkin nanti jika ia sudah full tim sebagai fotografer, bisa lebih fleksible mengatur waktu kerjanya sendiri.
" Mas, ini udah aku beliin topi hitam buat nanti ya. Kamu tinggal pake aja.
Oh iya, tema kita black and white ya lokasinya udah aku share loc ya. See you. "
" Sip Ra. Kamu hati-hati di jalan ya. Share live loc kamu pas mulai berangkat ya Ra. "
" Okey mas. "
Selesai
Mulai hari ini sampai lima hari ke depan Sakti menjalani program healing detox di salah satu provinsi di Indonesia. Ya, Bali. Setelah melakukan banyak riset dan tempst terbaik dimana, Sakti memutuskan untuk rehat sejenak dari rutinitasnya dan berusaha memperbaiki serta menerima kondisi dirinya di masa lalu sehingga bisa lebih produktif menjalani kesehariannya.
Tidak mudah baginya menerima kenyataan bahwa istri tercintanya meninggal dalam perjalanan yang mereka tempuh menuju tempat orang tua Sakti. Ia begitu mencintai dan sangat menyayangi istrinya, Diandra. Orang yang secara tidak sengaja ia temui lagi di toko buku favoritnya. Setelah sebelumnya ia hanya bisa berpapasan saja di stasiun MRT, tempat mereka sama-sama transit dari dan menuju kantornya masing-masing.
Dalam sehari, Sakti wajib menkonsumsi lima macam jus yang berbeda. Iya hanya jus saja, kombinasi estrak buah dan sayur. Untuk sarapan dihidangkan jus dari buah naga dan kelompok berrys. Jus kedua ada campuran kunyit, lidah buaya dan jeruk nipis yang menyegarkan. Jus ketiga ada campuran apel, wortel dan seledri. Jus keempat ini green jus yang terdiri dari bayam, mentimun dan seruas jahe. Jus terakhir, satu jam sebelum meditasi itu ada campuran pepaya dan seruas jahe.
Selama program ini, semua peserta diwajibkan menkonsumsi makanan dan minuman yang hanya disediakan. Tidak diperbolehlan makan dan minum selain daripada itu. Bagi Sakti ini bulan hal baru karna semasa istrinya hidup, ia sudah terbiasa dengan menu hidup sehat seperti ini. Walaupun, terkadang ada cheating day.
Kegiatan hari ini ditutup dengan kegiatan meditasi dan untuk hari esok dimulai dengan bangun pagi sebelum matahari terbit. Kemudian dilanjut dengan yoga di pagi hari.
“ Baru hari pertama aja sudah semenyenangkan ini. Bagaimana hari esok ya?” batin Sakti.
(Bersambung)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebelum Sakti memasuki ruangan pak Bagas dalam hatinya berkata, " Bismillah. "
Tok tok tok. Ada suara, " Ya, masuk. " Sakti memegang daun pintu lalu membukanya.
" Pagi pak. Maaf apakah bapak memanggil saya? "
" Eh, iya kamu Ti. " sambil memperbaiki posisi duduknya Bagas melanjutnya pembicaraannya.
" Saya mau minta tolong kamu handle meeting hari ya. Karna saya lupa kemarin harusnya saya ada janji sama Aruna untuk beli cincin pernikahan kita. Nah, takutnyq kliennya hari ini sampe sore lagi. Jadi, dihandle sama kamu aja ya. "
" Iya pak, baik. Hmm, tapi pak saya mau izin cuti untuk pekan depan. "
" Pekan depan? "
" Iya pak. "
Bagas melihat kalender duduk di atas meja kerjanya. " Hmm, boleh. Masih aman ya itu. Kamu jangan lupa isi formnya ya. "
" Baik pak. Terima kasih. Saya izin kembali ke meja kerja saya. "
" Ya, oke. Silakan. "
---
Di perjalanan pulang Sakti kembali mengingat kenangan yang harusnya manis bersama istrinya. Kejadian naas dua tahun lalu yang menewasakan istrinya itu masih sangat membekas di benaknya dan cukup membuat dia trauma mengendarai kendaraan sendiri. Itulah alasannya kenapa, ia selama ini lebih memilih transportasi umum untuk bekerja dan berpergian.
---
" Selamat datang kepada para peserta di desa kami. Kami harap teman-teman semua dapat melaksanakan rangkaian selama lima hari ke depan di sini dengan baik. "
Sakti dengan sadar mendaftar acara ini. Karna menurutnya ia sudah harus membutuhkan pertolongan atau trauma kejadian itu dan mau lebih produktif lagi dari biasanya.
(Bersambung)
Sesampainya Sakti di stasiun MRT Dukuh Atas, seketika itu pula ingatan kembali tentang pertama kali bertemu istrinya. Diandra, namanya yang cantik. Istri yang ia nikahi dua tahun lalu.
---
" Ya ampun, itu masnya jalan cepet amat. Yang baju coklat. Kayanya bukan. Bertopi? Bukan juga. Yang mana ya? ", batin Diandra celingak celinguk mengingat postur tubuh mas-mas yang lanyardnya terjatuh ini. " Nah, itu dia. "
Diandra mengejar mas-mas untuk memberikan kepada pemiliknya.
"Mas, ini lanyardnya terjatuh. "
" Eh, iya mba. Terima kasih." , Sakti kaget kenapa lanyardnya ada di mba ini. Setelah meraba lehernya baru sadar memang lanyardnya terjatuh pas ia mengikat tali sepatunya yang lepas tadi dan langsung jalan.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Sakti melihat wajah Diandra sudahbsering. Hanya saja dia cuma berpapasan saja. Rute Sakti berbeda dengan Diandra. Sakti harus naik mrt dari stasiun Dukuh Atas untuk turun di halte Astra. Sedangkan Diandra selalu keluar dari stasiun mrt Dukuh Atas. " Oh, mungkin kantor mba ini di gedung sekitaran sini. " , batin Sakti.
---
Pengeras suara memberikan informasi bahwa sebentar lagi stasiun Astra. Sakti tersadar dari lamunannya. Sudah saatnya ia turun dan berjalan kaki ke kantornya yang tak jauh dari stasiun.
Belum sempat Sakti duduk di kursi tempat karjanya, Biyan menghampiri sambil membawa berkas.
" Ti, ini ada deadline untuk hari ini dari pak Bagas. Eh, tapi bapak mau ketemu sebentar. Lo dipanggil ke ruangannya sekrang. "
" Ok. Thanks yan. "
" Hmmm, mungkin udah saatnya. " , batin Sakti menuju ruangan pak Bagas.
(Bersambung)