“Jangan sampai terlambat ya Ra! Ini hari pertama masuk sekolah kan?”
“Enggak dong, tapi nyaris tadi jalanan macet parah, pantesan aja.”
Pesan itu dikirim pukul 06.30. Aku baru membukanya pukul 08.00. Hari ini hari pertama masuk sekolah. Jalanan sesak. Wajah-wajah baru sumringah sekali menyambutnya. Seperti di lapangan upacara senin itu. Karena sekolah kami punya dua tingkat, menengah dan atas hari itu terlihat begitu berwarna. Seragam dari tingkat dasar sampai menengah membuat gradasi yang apik. Merah putih, biru donker dan abu-abu. Tapi, tetap saja semua kalah dibanding pesan yang masuk pagi itu.
“Udah berangkat kerja?”tanyaku
“Aku hari ini ada rapat di luar kota. Baru tadi pagi nyampe.”
Selang beberapa detik dia mengirim foto, berpose di depan sebuah gedung yang terpampang nama sebuah yayasan amal.
“Berangkat kapan?” tanyaku penasaran.
“Semalem”
“Keretaan apa naik pesawat?”
“Pesawat Ra, ada rapat umum sama pemilik yayasan.”
Namanya Fahreza Mahardika. Aku memanggilnya Reza, meskipun kebanyakan memanggilnya Dika. Kami teman seangkatan dan satu kelas. Dia mantan ketua BEM sewaktu di kampus dulu. Fansnya banyaknya minta ampun. Bukan karena dia ganteng, tinggi , putih dan berkarisma. Bukan. Akan tetapi dia supel dan perhatian. Fansnya ada di tiap lapisan kehidupan kampus. Dari teman seangkatan, mahasiswa berprestasi yang IPK nya 4.00, adik tingkat, kakak tingkat, mahasiswa beda fakultas. Darimana aku tahu ? dari debat calon ketua BEM waktu itu. Ramai sekali, mereka membawa banner, bunga dan atribut lain. Sudah seperti nonton timnas saja. Meneriakkan namanya sambil bertepuk tangan juga tak lupa yel-yel yang disiapkan jauh-jauh hari. Sedang aku, bahkan tak minat menonton. Bising sekali. Dan aku pusing melihat acara seperti itu.
“Nonton breaking nnews ya! Aku masuk TV.”
Aku tak membalas. Namun langsung mengambil remote TV. Benar saja. Dia muncul disitu. Kepalanya diikat kain. Khas sekali mahasiswa aksi. Aku tersenyum. Ada bangga sedikit disana. Namun bukan suka, apalagi cinta. Tahun terakhir di kampus aku semakin dekat saja. Dia sering meminta bantuanku, sedang aku mau saja membantunya.
“Ra, olahin dataku ya.”
“Bawa aja ke tukang olah data, gak punya duit?”
“Nah itu, kan kamu tahu. Besok pagi aku ambil udah selesei kan? Siangnya aku bawa bimbingan ke kampus.” Pintanya agak memohon
“Ya udah deh,”
Begitu saja. Aku selalu tak tega dan kasihan padanya. Jika cinta adalah kasihan berarti aku sudah cinta waktu itu. Tapi saat itu yang aku pahami aku hanya kasihan padanya.
“Jadwalmu udah keluar Ra, barusan aku cek. Hari Rabu pekan depan jam 13.00.”
“Iya udah tahu, barusan Eva ngasih tahu. Doaian ya. Tapi kamu gak perlu dateng. Bikin aku grogi. Aku udah minta tolong Moly buat bantu. Sari gak bisa dateng karena harus pulang”
“Ngapain grogi, aku kan gak ngapa-ngapain. Gak ada tanya jawab juga.”
“Pokoknya enggak boleh.”
Aku malu sebenarnya. Kemampuan presentasiku gak sebaik dan sekeren dia. Tapi di hari sidang uji dia datang. Datang paling awal dan mengambil kursi di deretan paling depan. Tersenyum sambil mengangkat tangannya. Mungkin artinya menyemangatiku. Betulan saja aku grogi. Beberapa pertanyaan tak bisa kujawab. Saat itu aku merasa menajdi orang yang paling bodoh di muka bumi. Aku hanya membuka-buka lembaran skripsi. Yang bahkan jawaban itu tak ada di situ. Tanganku gemetar sampai kemudian sidang di break sebentar untuk mendiskusikan hasilnya.
“Minum dulu Raya, tanganmu gemetar dan silahkan untuk dapat keluar sebentar.” suruh dosen pengujiku.
Bahkan aku tak bisa membuka boto air mineral. Lemas. Pingin pingsan saja.
“Bismillah, Minum Ra!” dia menyodorkan sebotol air mineral.
Aku langsung mengambilnya. Dan meminum hampir separuhnya.
“Haus banget ya?”
“Ih, gimana kalau nanti ujiannya diulang? Pengen pingsan aja.”
“Jangan mikir enggak-enggak mana ada ujian diulang. Paling revisi doang. Udah tenang aja”
“Mana bisa, tuh kan aku kan udah bilang. Ngapain dateng?”
“Ya gak apa-apa, kan aku juga perlu ngisi lembar mengikuti sidang buat syarat ujian.”
Aku cemberut. Benar saja dia bukan datang untukku. Harusnya aku sadar dari waktu itu. Setidaknya kedepan aku tak akan sepatah itu.
Ujian selesei. Aku lulus. Aku pamit pulang kembali ke kampung halaman. Menemani Ibu dan bapak. Seperti janjiku yang sudah-sudah.
Setahun setelah dunia pasca kampus aku merasa ada yang aneh. Perasaan kasihan itu berubah menjadi sebuah harapan. Seiring dengan perhatiannya yang terkesan berbeda dari sebelumnya. Seperti ketika aku memutuskan menghadiri wisuda Sari.
“Udah samapai mana? Naik apa?”
“Naik Bis. Bentar lagi nyampe.”
“Dijemput siapa? ada kan yang jemput atau aku minta Sisil atau yang lain buat jemput kamu?”
“Enggak usah, aku udah bilang ke Ika minta dijemput”
“Hati-hati ya, langsung ketemu di audit aja. Nanti berkabar lagi”
“Iya”
“Eh, ntar tidur di kosan siapa?”
“Ya kosan Sari lah, mau tidur dimana lagi emang?”
“Tanya doang,”
Setiba di auditorium, aku menghubunginya menyampaikan posisiku dan bertanya posisinya.
“Aku di bawah spanduk ucapan selamat,”
“Aku juga di bawah situ, kamu pake baju apa Ra?”
“Jilbab coklat,”
“Mana si, kok gak ada? Aku di bawah spanduk selamat dan sukses.”
“Aku di bawah spanduk selamat datang wali mahasiswa”
Aku kemudian membalikkan badan. Yang dicari ternyata sedang menacari juga. Kemudian pandangan kami bertemu. Saling tertawa.
“Ketemu kan? Orang beda ucapan selamatnya, gimana sih!”
Pertemanan kami mengalir begitu saja. Dia menyempatkan berkunjung ke rumah satu sampai dua kali dalam setahun. Padahal jarak kami seratus dua puluh lima kilometer. Dia yang sering meminjam ponselku dan memotret dirinya sendiri.
“Apa-apaan sih, galeriku penuh fotomu.”
“Jangan dihapus ya Ra! buat kenang-kenangan.”
Aku hanya bersungut-sungut.
“Ra, kalau di masa yang akan datang kamu pada akhirnya berproses dengan Reza, aku pesan dijaga betul-betul ya. “
“Proses apaan?”
“Ya nikah, lah mau nyari yang kek mana lagi ? kan udah enak udah saling kenal.”
Aku hanya tertawa. Barangkali waktu itu aku menyangkal perasaanku. Terlalu gengsi untuk bilang “Iya”.
Hingga peristiwa itu terjadi.
“Kak, jangan kaget ya, Bang Reza mau nikah.”
Sebuah pesan singkat mengagetkanku. Tiga tahun pasca kehidupan kampus. Ketika perasaan-perasaan dengan definisi baru tumbuh. Ketika harapan itu bersemi. Ternyata harus disudahi dengan sesuatu yang bahkan aku tak pernah mengira sebelumnya. Ada yang nyeri di ulu hati. Ada yang sesak di dada. Sekelilingku berputar, langit-langit kamar kelabu, kuning, buram lalu gelap.
“Ra, kenapa nak? bangun sayang” suara lembut yang tak asing lagi. Tapi kenapa mataku susah sekali untuk kubuka.
“Bangun ya, pelan-pelan.” pintanya untuk kali kedua.
Perlahan kelopak matuku bisa kugerakkan. Aku membukanya. Masih sedikit buram. Tapi aku kenal tempat itu. Itu kamarku. Berharap tadi yang kudengar itu mimpi buruk saja. Namun, ternyata tidak.
“tadi akamu menjerit, Ibu kira da apa, ibu susul ke kamar kamu udah pingsan, kenapa nak”
Bulir itu turun, satu, dua kemudian berubah menjadi deras. Aku tidak sedang bermimpi ini kenyataan.
“Reza Bu, Reza mau nikah. Raya gimana Bu, “ aku sudah tak tahan menjatuhkan kepalaku di pelukan Ibu.
Aku tak bisa mendefinisikan perasaan itu. Aku tak pernah merasakan sebelumnya. Aku hanya ingin menangis. Perasaan sedih, tidak rela, kesal, penasaran bercampur jadi satu.
“Sudah-sudah,” dielus kepalaku dengan lembut. Pundaknya sudah basah oleh tangisku. Tetiba aku ingin menghilang saja dari dunia ini. Tak ingin bertemu siapa-siapa dan tak ingin kemana-mana. Padahal pekan itu pekan liburan semester. Hari-hari yang begitu aku nantikan.
Aku menyesali diri sendiri. Merutukinya, menyalahkannya. Kenapa tidak dari dulu sadar. Bahwa dia tak sepenuhnya mau menjalin hubungan yang lebih serius. Harusnya aku paham bahwa tak ada yang spesial atas kebaikannya. Karena memang dia baik. Lantas, untuk apa aku harus ge er. Bukankah dia baik kepada semua orang. Maka aku harusnya bersikap biasa saja. Atas kunjungan satu dalam tiga ratus enam puluh lima hari. Bukankah dia tak sepenuh hati ingin mengunjungiku hanya sekedar mampir ketika ada tugas kantor di kotaku. Seperti ketika dia datang ketika sidang ujian dulu. Tak pernah sepenuhnya datang. Baginya aku hanya pilihan-pilihan saja, tak pernah menjadi prioritas. Harusnya aku sadar dari dulu. Penyesalan memang datang terakhiran. Bisa kah dia sedari awal memberitahuku agar aku bisa skip bagian itu tanpa kemudian penyesalan muncul di kemudian hari.














