متون طالب العلم - ترتيب وتحقيق فضيلة الشيخ/ عبدالمحسن القاسم حفظه الله - إمام وخطيب المسجد النبوي
Mutoon Taalib al ilm - The Classical Texts for the Student of Knowledge - Prepared and Checked by ash-Shaikh ‘Abdul-Muhsin al-Qāsim - حفظه الله - Imam Masjid an Nabawee - Madinah.
Level One: - المستوى الأول
1. Nullifiers of Islam - Nawāqid al-Islām - . نواقض الإسلام
2. The Four Principles of Shirk - Al-Qawā’id al-Arba` - . القواعد الأربع
3. The Three Fundamental Principles - Al-Usūl ath-Thalāthah - . الأصول الثلاثة by Shaikh al Islam Muhammad bin ‘Abdul- Wahāb - ـ رحمه الله
4. Forty Hadeeth of Imam an Nawawee - ـ رحمه الله Al-Arba`ūn an-Nawawiyyah - الأربعون النووية
Level Two: - المستوى الثاني
1. Al-Bayqūniyyah by Ta-Ha `Umar al-Bayqūni - المنظومة البيقونية
2. Tuhfat al-Atfāl by Sulaymān al-Jamzūri - تحفة الأطفال
3. Shurūt as-Salāt by Muhammad bin `Abdil-Wahāb - شروط الصلاة وأركانها وواجباتها
4. Kitāb at-Tawhīd by Muhammad bin `Abdil-Wahāb - كتاب التوحيد
Level Three: - المستوى الثالث
1. Manthuma Abī Ishāq al-Albīrī - منظومة أبي إسحاق الألبير
2. Al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah by Ibn Ājurrūm - المقدمة الآجرومية
3. Al-`Aqīdah al-Wāsitiyyah by Ibn Taymiyyah - العقيدة الواسطية
Level Four: - المستوى الرابع
1. Al-Waraqāt by Imām al-Juwaynī - الورقات
2. `Unwān al-Hikam by Abū al-Fath al-Bustī - عنوان الحِكَم
3. Ar-Rahabiyyah by Muhammad bin `Ali ar-Rahabī - الرحبية
4. Al-`Aqīdah at-Tahāwiyyah by Imām at-Tahāwī - العقيدة الطحاوية
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
السيف يمكن تقتل واحد أو أثنين لكن لسانك هذا يحرض الأمة بعضها على بعض ، فعلى المسلم أن يكف لسانه أما أن يقل خير وإما أن يصمت .
ash-Shaikh Dr. Saalih bin Fawzan Al Fawzan حفظه الله :
“Perhaps the sword could kill one or two people. However, your tongue incites the Ummah against each other. Therefore, it is upon the Muslim to hold his tongue: either say good or remain silent”.
Yang sering ngetik, capek nulis shalawat panjang atau doa, maka cukup tekan tombol, terbentuk langsung kalimat shalawat dengan sempurna, bukan SAW, bukan AS, bukan SWT dst...
tapi tulisan arab... lengkap...
download disini.......
تحميل الخطوط
http://fonts.qurancomplex.gov.sa/?page_id=244
Dikeluarkan oleh IT Departemen Komplek Percetakan Al Qur’anul Karim Raja Fahd / Designer not found in the font properties.
setelah itu tinggal kita copy paste ke halaman font yang ada di control panel, setelah itu klik font KFGQPC Arabic Symbol 01
tinggal tekan tombol nya... jadi deh simbol ini di ms.word tulisan anda.
Tidak ada alasan lagi buat anda menulis shalawat dengan singkatan...
Read more: Font Arab KFGQPC Arabic Symbol 01 | Review Font Arab | Catatan Belajar M. S. Rosyidi http://www.msrosyidi.com/font-arab-kfgqpc-arabic-symbol-01/#ixzz2iNmPbUdP
Jika sebelumnya ada kamus almaany. Kali ini ada kemudahan bagi teman-teman yang kesulitan menghafal sharaf (meskipun sebenarnya tidak susah kalau ada kemauan). Bisa dicoba : http://qutrub.arabeyes.org/?verb=ضرب&all=1&transitive=1&past=1&future=1&imperative=1&passive=1&future_moode=1&confirmed=1&haraka=فتحة&display_format=HTML
Itu dari fi'il dharaba, tidak sulit lagi menentukan harakatnya. Sekaligus diberitahukan ia masuk dalam tsulatsy mujarrad atau justru yang lainnya.
Jadi apabila suatu fi'il dimasukkan pada menu search, maka akan langsung ketemu seperti dharaba di atas. Sekaligus ia sudah ditentukan MASUK pada wazan yang mana. Maka setelah ada kemudahan seperti ini, janganlah malas untuk memperluas kosa kata. Baarakallaahu fiikum.
Ini contoh fiil ruba'iy; jahada, yujahidu : http://qutrub.arabeyes.org/?verb=%D8%AC%D8%A7%D9%87%D8%AF&all=1&transitive=1&past=1&future=1&imperative=1&passive=1&future_moode=1&confirmed=1&haraka=%D9%81%D8%AA%D8%AD%D8%A9&display_format=HTML
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Seorang Doktor Perempuan asing (non arab) yang berhijab menjawab dengan mudah dan cerdas ketika ditanya tentang jilbab: "Sesungguhnya manusia pada zaman purba telajang, dengan bekembangnya pemikiran melewati berbagai zaman, maka manusia mulai memakai pakaian, hingga seperti yang saya pakai sekarang, dan apa yg sy pakai adalah puncak pemikiran, dan tingkatan tertinggi yg telah dicapai manusia setelah melalui berbagai masa, dan bukanlah bentuk keterbelakangan. Adapun buka-bukaan adalah bentuk keterbelakangan dan kemunduran pemikiran manusia ke zaman purba. Kalau seandainya buka-bukaan adalah bentuk kemajuan, maka yang paling maju adalah binatang!"
وثيقة عسكرية تم تهريبها وفيها أمر عسكري بمنع الصلاة الفردية والجماعية على أفراد الجيش السوري...
.
.
سؤال للضال العجوز البوطي.. هذا الجيش اللي رح يحرر فلسطين.. هذا هو الجيش اللي تطلع كل يوم جمعه تخطب لنصرته..
.
.
ما أقول غير .. اللهم لاتزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا.
Ahdaf diartikan sebagai goal atau target. Di antara target yang ingin dicapai dalam pembelajaran bahasa Arab adalah:
I. al-Kifayatu al-Lughawiyah (Kecakapan Berbahasa)
Kecakapan ini meliputi;
al-Ismtimaa' (paham bahasa Arab dari mendengarkan)
al-Qira`ah (paham bahasa Arab dengan membacara)
al-Kalam (mahir berbicara)
al-Kitabah (berdasar kaidah dan kreatif)
2. Unsur bahasa meliputi;
al-Ashwat (suara yang dzahir dengan macam-macamnya)
al-Mufrodat (ungkapan yang kontekstual atau istilah)
II. al-Kifaiyatu al-Ittisholiyah (Kompetensi Berkomunikasi)
Diharapkan pembelajar bahasa Arab mampu berkomunikasi secara lancar dengan bangsa yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab, dengan konteks umum yang diterima khalayak, dengan cara lisan maupun tulis.
III. al-Kifayatu al-Tsaqofiyah (Kecakapan Budaya)
Dengan mengetahui budaya bahasa Arab, maka diharap dapat pula cakap dalam peradaban Islam sekaligus mengetahui bucaya dunia secara umum, selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pada kotak sebelah kanan atas, merupakan contoh ism isyarah sebagai petunjuk untuk kata benda (ism) mudzakkar (laki-laki) yang dekat. هذا bisa diartikan sebagai "ini".
Pada kotak sebelah kanan bawah, merupakan contoh ism isyarah sebagai petunjuk untuk kata benda (ism) mudzakkar (laki-laki) yang jauh. ذلك bisa diartikan sebagai "itu."
Sedangkan kotak kanan kiri bagian bawah dan atas, sama maksudnya, tetapi digunakan untuk menunjuk (isyarah) kata benda (ism) yang muannats (jenis perempuan).
Silahkan kerjakan latihannya di sini
Penjelasan dengan bahasa Arab
تنقسم أسماء الإشارة من حيث الدلالة إلى المشار إليه ثلاثة أقسام هي : ـ
المفرد ، والمثنى ، والجمع بأنواعها المذكرة ، والمؤنثة .
ذا : للمفرد المذكر بدون هاء التنبيه ، وهذا : إذا سبقه الهاء .
ذي : للمفردة المؤنثة بدون الهاء ، وهذي : مع هاء التنبيه .
ذان : للمثنى المذكر بدون الهاء ، وهذان : مع هاء التنبيه .
تان : للمثنى المؤنث بدون الهاء ، وهاتان : مع هاء التنبيه .
أولاء : لجمع المذكر والمؤنث بدون الهاء ، وهؤلاء : مع هاء التنبيه .
أولى : لجمع المذكر والمؤنث بالقصر ، ولا تتصل بها هاء التنبيه مطلقا
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menutup risalah agama dengan Islam, yang telah menutup para rasul dengan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan telah menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya dengan Al-Quran al-Kariim, dan telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa agama terakhir ini, wa ba'du.
Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa bahasa pengantar risalah terakhir ini, sebagaimana al-Quran al-Kariim disampaikan dengan bahasa Arab. Hal ini terekam dalam beberapa ayatnya:
وهذا كتاب مصدق لسانا عربيا
"sedang al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang" (An-Nahl: 103)
إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)
Umat Islam generasi terdahulu (salaf) pada masanya telah memelihara bahasa Arab dan telah telah banyak dari mereka yang mencapai pada tujuan bahasa itu sendiri, bukan sekedar sebagai sarana menyampaikan risalah, dan diwariskan turun temurun sehingga dengannya mencapai kemuliaan dan keunggulan.
Dan di saat ini, orang Arab dari kalangan muslimin telah menaruh perhatian dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa Arab untuk membantu umat muslimin, dikarenakan beberapa sebab berikut ini:
Sesungguhnya bahasa Arab merupakan bagian dari agama, Ibnu Taimiyah rahimahullah, berkata: "telah diketahui bahwa mempelajari bahasa Arab dan mengajarkannya merupakan fardhu kifayah." Dan beliau berkata juga: "Sesungguhnya bahasa Arab bagian dari agama, dan mengetahuinya adalah fardhu dan wajib, karena sesungguhnya memahami al-Kitab dan as-Sunnah adalah fardhu, dan tidak akan dipahami keduanya kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidaklah sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka ini (mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab -pent) adalah wajib." Ibadah seperti sholat, doa, membaca al-Quran al-Kariim, dan banyak syi'ar agama Islam tidak dapat terlaksana dan tidak sempurna pemahamannya serta tadabburnya, kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidak diperbolehkan siapapun dari umat muslimin mengerjakan shalat tanpa menggunakan bahasa Arab, sedangkan shalat adalah fardhu 'ain.
Mengetahui bahasa Arab menjaga dari terjerumusnya dalam syubhat dan bid'ah. Imam Syafi'i rahimahullah berkata: "Tidaklah terjadi kebodohan manusia, dan tidaklah terjadi perselisihan kecuali mereka telah meninggalkan bahasa Arab, dan lebih cenderung dengan bahasa Aristhoteles." Dan beliau berkata juga: "Tidaklah seseorang mengetahui secara jelas keseluruhan ilmu al-Quran, saat ketidaktahuan tentang luasnya bahasa Arab, dan dari banyak prespektifnya serta keseluruhan makna dan keunggulannya. Dan barangsiapa yang mempelajarinya, hilanglah darinya segalah syubhat yang mana keragu-raguan (syubhat) ini bisa terjadi kepada orang yang tidak tahu bahasa Arab." Dan telah berkata Al-Suyuthi rahimahullah: "Telah aku temukan generasi terdahulu (salaf) sebelum As-Syaifi'i, memberikan petunjuk sebagaimana petunjuk dirinya karena sebab terjadinya bid'ah adalah kejahilan atas bahasa Arab." Berkata al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang ditujukan kepada pelaku bid'ah: "Inti kerusakan mereka karena kerusakan bahasa Arab mereka."
Mengetahui bahasa Arab merupakan salah satu cara untuk memudahkan memahami agama Islam, sebagaimana firman Allah ta'ala:
“Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (QS. Ad Dukhan: 57)
Bahasa Arab merupakan syi'ar agama Islam dan muslimin, dan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling agung sebagai syi'ar umat yang dengannya menjadi mulia. sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah, rahimahullah.
Menguatnya bahasa Arab sebab dari kemuliaan Islam dan muslimin, berkata Musthofa Shodiq ar-Rofi'i: "tidaklah hina bahasa sebuah kaum kecuali kaum tersebut telah jatuh dalam kehinaan, dan tidaklah terjadi kerusakan pada kaum tersebut kecuali bahasanya telah pergi dan mundur. Oleh karenanya, penjajah asing pasti memaksakan bahasanya kepada penduduk yang terjajah."
Bahasa Arab merupakan pengikat yang paling kuat antara kaum muslimin, dan umat menjaganya dengan mengajarkannya untuk mendekatkan para penuntut ilmu dengna bahasa arab. Maka kemiripan secara dzahir -termasuk dalam bahasa- mewariskan kesamaan dalam bathin, termasuk dalam hal kebudayaan dan akidah.
Pengajaran bahasa Arab merupakan bagian terpenting dari sarana mengenalkan kebudayaan Islam, maka bahasa mengandung kebudayaan yang menggunakannya.
Dan Allah-lah Maha pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, shalawat dan salam atas Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian.
Sumber: Mukadiman Buku Al-Lughatul Al-Arabiyah Baina Yadaika
Hampir sama dg bahasa-bahasa yang lain, untuk dapat memahami dan menguasai bahasa ‘Arab, ada beberapa cabang‘ilmu pokok yang harus dipelajari. Berikut ini akan dijelaskan dengan padanannya dalam tata bahasa Indonesia agar lebih dapat difaHami dan selanjutnya dapat memberikan gambaran "perjalanan" yang mesti ditempuh dalam mempelajari bahasa ini. Cabang-cabang ‘ilmu tersebut antara lain:
1. ‘Ilmu –l-AshwaaT (علم الأصوات)
‘Ilmu ini dalam tata bahasa Indonesia biasanya dikenal dengan nama “fonologi,” atau ‘ilmu tata bunyi. Maksudnya, ialah suatu ‘ilmu yang membicarakan perihal bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur-kata, dan sekaligus mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.
Sedang dalam tata bahasa Inggris, ‘ilmu –l-ashwaaT ini hampir sama dengan “phonetics,” yang biasanya telah dikenal pada permulaan mempelajari bahasa Inggris. Dan ternyata demikian pula halnya, ‘ilmu –l-ashwaaT juga harus kita kuasai sebagai langkah awal dalam mempelajari bahasa ‘Arab.
Pokok masalah yang dibicarakan dalam ‘ilmu –l-ashwaaT ialah cara mengucapkan abjad ‘Arab dengan fashiih dan benar (makhroj huruuf Hijaa-iyyah) baik ketika berdiri sendiri sebagai abjad maupun setelah dirangkaikan dan diberi harokatmenurut keperluan yang ada.
‘Ilmu –l-ashwaaT adalah kunci pertama dalam mempelajari bahasa ‘Arab, sehingga kemampuan dasar yg berkaitan dengan ‘ilmu –l-ashwaaT ini haruslah dikuasai sebelum melangkah kepada ‘ilmu-‘ilmu selanjutnya. Dan buku-buku yang berkaitan dengan ‘ilmu ini sudah banyak beredar. Namun lebih baik jika dalam mempelajari makhroj huruuf Hijaa-iyyahkita dapat memperoleh bimbingan langsung dari mereka yang aHli, sehingga kita dapat mengetahui fakta langsung dari bunyi huruuf Hijaa-iyyah dan tidak kalah penting juga, agar kesalahan bunyi huruuf yang kita hasilkan tanpa kita sadari dapat dibetulkan.
2. ‘Ilmu –Sh-Sharf (علم الصرف)
‘Ilmu ini hampir sama dg ‘ilmu “morfologi,” dalam tata bahasa Indoenesia, yaitu ‘ilmu bentuk kata. Hanya sedikit berbeda dalam beberapa segi penekanannya, di mana sebagaimana kita ketahui dalam bahasa Indonesia ada dua macam bentuk kata, yaitu kata dasar ( morfem be-bas) dan kata imbuhan ( morfem terikat ). Penggunaan teori ini misalnya dari kata dasar “tulis” dengan bantuan morfem terikat dapat kits bentuk sejumlah kata baru seperti : menulis,-tulisan, penulis, tertulis, tulislah, tempat menulis, -waktu menulis, alat menulis, dan seterusnya. Di sini morfem “tulis” dalam proses perubahan tersebut masih tampak unsur keasliannya walaupun kadang-kadang huruf t nya menjilma menjadi n , sepertimenulis dan bukan mentulis.
‘Ilmu –sh-shorf dalam salah satu intinya juga mengarah ke sana, hanya saja yang disebut kata dasar itu setelah menjadi kata jadian ternyata tata - bunyi dan tulisannya banyak mengalami perubahan. Contohnya :
كَتَبَ = Telah menulis
يَكْتُبُ = Sedang menulis
كَاتِبٌ = Penulis
مَكْتُوْبٌ = Yang ditulis
مَكْتَبٌ = Tempat menulis
Selain terdapat perubahan tata-bunyi dan bentuk tulisan itu, sebagaimana tampak di atas bahwa artinya adalah menulisdan bukan tulis
Walau demikian, dalam segi tertentu, jelas terdapat persamaan antara ‘ilmu –sh-shorf dengan morfologi. Dan karena itulah, seharusnya tidak terlalu sulit bagi kita, orang Indonesia untuk mempelajari ‘ilmu –sh-shorf ini sebagai langkah ke dua dalam mempelajari bahasa ‘Arab guna mengetahui bentuk-bentuk serta proses perubahan suatu kata menurutqaa’idah yang berlaku dalam bahasa ini.
3. ‘Ilmu –N-Nahw (علم النحو).
Menurut peristilahan tata bahasa modem, cabang ‘ilmu semacam ini dikenal dengan nama “sintaksis,” yaitu bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses pembentukan kalimat. Jadi sasarannya bukan lagi perihal huruufdan bukan pula kata, melainkan kalimat yang sudah berdiri secara lengkap sempurna serta memiliki arti yang dapat difahami seseorang. Dalam tata bahasa Indonesia, sintaksis ini antara lain membicarakan tentang jabatan kata dalam kalimat, misalnya subyek, predikat, obyek,dan sebagainya.
Demikian pula halnya ‘ilmu –n-nahw, salah satu pokok pembicaraannya adalah seperti itu. Hanya perlu diketahui bahwa‘ilmu –n-nahw, selain membicarakan uraian kalimat menjadi beberapa kata dengan jabatan nya masing-masing, ada segi lain yang cukup penting yaitu perihal terjadinya perbedaan bunyi aakhir dari sesuatu kata atas dasar perbedaan jabatannya dalam kalimat. Misalnya setiap subyek harus diharokati dhammah pada huruuf yang paling aakhir, sedang untuk obyek penderita harus diharokati fathah pada huruuf yang paling aakhir tersebut. Kita ambil sebagai contoh
اَلْعِلْمُ نَـافِعٌ
‘ilmu itu bermanfaat
اَنَا اَطْلُبُ الْعِلْمَ
saya menuntut ‘ilmu.
Dari contoh di atas tampak pada kata ‘ilmu. yang pertama sebagai subyek diharokati dhammah yakni (العِلْمُ) sedang yang kedua sebagai obyek penderita diharokati fathah yakni (الْعِلْمَ)
Dalam praktek penggunaannya, ‘ilmu –n-nahw ini sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan ‘ilmu –sh-sharf dan ‘ilmu –l-ashwaaT. Atau dengan kata lain ‘ilmu –n-nahw selalu membutuhkan bantuan dari ‘ilmu –sh-sharf dan ‘ilmu –l-ashwaaT. Barangkali atas dasar pertimbangan inilah, banyak fihak yang beranggapan bahwa ‘ilmu –n-nahw adalah satu -satunya dalam tata-bahasa ‘Arab. Karena dengan.menyebut ‘ilmu –n-nahw, berarti telah masuk di dalamnya ‘ilmu –sh-sharf dan‘ilmu –l-ashwaaT.
Terlepas dari perbedaan pendapat yang ada, memang kenyataannya ‘ilmu –n-nahw ini mempunyai kedudukan yang teramat penting, malahan seringkali dianggap sebagai inti dari tata-bahasa ‘Arab. Dan oleh karena itu, adalah satu keharusan bagi kita untuk menguasai ‘ilmu tersebut. Sebab hanya dengan cara inilah kita akhirnya berhasil memiliki kemampuan berbahasa ‘Arab dalam arti yang selengkapnya.
Cabang ‘ilmu ini dalam tata-bahasa modern disebut “leksikologi,” yaitu ‘ilmu yang membicarakan perihal perbendaharaan kata. Bagi orang yang ingin menguasai bahasa ‘Arab, maka ‘ilmu ini pun hares pula diperhatikan, mengingat bahasa ‘Arabterkenal sebagai bahasa yang sangat kayo dengan kosakata. Adakalanya sebuah kata mempunyai banyak pengertian, dan sebaliknya puluhan bahkan ratusan kata tetapi hanya memiliki satu arti. Misalnya untuk menyebutkan “singa” diperkirakan ada 500 kata yang satu sama lainnya merupakan sinonim, dan untuk pengertian “ular” ada 200 kata yang dapat kita pergunakan.
Masih pula terdapat masalah lain yang merupakan bidang pembahatsan ad-diraasatu –l-mu’jamiyyah, yaitu perihal idiomatik dalam bahasa ‘Arab. Maksudnya ialah ‘ilmu yang mempelajari ketentuan khushuush dalam tata bahasa ‘Arab”, ketentuan mana diperoleh dan didengar dari kebiasaan berbahasa di kalangan masyarakat ‘Arab, dan perlu diketahui bahwa karena kekhususannya itulah akhirnya ketentuan sebagai dimaksud tidak dapat dimasukkan ke dalam qaa’idah tata bahasa ‘Arab yang berlaku secara ‘umuum.
Perihal idiomatik itu perlu dipelajari, karena jika tidak maka seseorang dapat berbuat kesalahan dalam mengartikan dan menyusun kalimat berbahasa ‘Arab. Misalnya kata قَضَى yang arti ashlinya menghukumi, suatu saat bisa diartikan menghendaki dan pada situasi yang lain berarti menghancurkan, semua ini tergantung pada konteks susunan kalimatnya.
5. ‘Ilmu –l-Balaaghah (علم البلاغة).
‘Ilmu ini pada pokoknya membicarakan tentang gaya-bahasa seperti penggunaan kata-kata kiasan, personiflkasi, dan sebagainya. Jadi sasarannya telah menyangkut keindahan bahasa, atau semacam ilmu kesusasteraan dalam bahasa Indonesia.
Misalnya kalimat
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذَلِّ (dan rendahkanlah kepada ke duanya ( orang tua ) itu sayap kehinaan).
Tentu saja yang dimaksud bukan sayap dalam arti yang sebenarnya, sebab mana mungkin ada manusia yang memiliki sayap.
Dalam bahasa Indonesia juga banyak dipergunakan kata-kata kiasan atau yang bukan maksud sesungguhnya, seperti : Ibu menanak nasi, sebenarnya yang dimasak adalah beras; lautan maaf, sejuta kata, menyelami perasaan, dan sebagainya. Tentu saja akan salah apabila kata-kata semacam itu kita faHami menurut arti ashlinya, dan oleh karena itu perlu memperhalus perasaan berbahasa dengan bantuan ‘ilmu sastera atau ‘ilmu –l-balaaghah dalam tata bahasa ‘Arab.
Namun demikian, kita pun menyadari bahwa cabang tata bahasa ‘Arab yang disebut ‘ilmu –l-balaaghah agaknya belum mendesak untuk dipelajari oleh seseorang yang baru dalam tahap permulaan mengenal bahasa ‘Arab. Dalam arti, dibanding ‘ilmu-‘ilmu lain yang diuraikan sebelumnya, ‘ilmu –l-balaaghah masih dapat dikemudiankan mempelajarinya. Ini bukan berarti bahwa ‘ilmu –l-balaaghah tidak penting. Sebab betapa pun juga, dalam kenyataannya, bahasa ‘Arab tidak ada yg lepas dari sentuhan ‘ilmu –l-balaaghah, baik itu dalam bentuk bahasa lisaan ataupun tulisan.