Duka yang Dilokalkan, Berkah yang Dinasionalkan
Dipahat oleh: Saiful Haris Arahas
Di tanah yang pernah diajari laut tentang kesabaran, dan gunung tentang keteguhan, hujan turun bukan sekadar membawa air.
Ia membawa kehilangan, menggenangi halaman-halaman harapan, menghanyutkan jejak kaki yang sedang mencari esok.
Di Aceh, banjir tidak pernah sekadar bencana.
Ia adalah wajah ibu yang menatap dapur tanpa api, tangan petani yang pulang tanpa padi, dan mata anak-anak yang belajar mengeja sabar di atas lantai yang tak lagi kering.
Lalu terdengar suara dari kejauhan.
"Itu musibah daerah."
Betapa ringkas sebuah kalimat, namun begitu panjang gema lukanya.
Daerah diminta tabah. Daerah diminta kuat. Daerah diminta bangkit dengan sisa tenaga yang belum hanyut.
Namun ketika laut Andaman menyimpan cahaya di perut bumi, ketika minyak dan gas ditemukan sebagai anugerah yang tak ternilai, suara itu kembali datang, kali ini lebih lantang.
"Itu kekayaan nasional."
Maka aku pun bertanya kepada angin yang melintasi Selat Malaka, mengapa air mata begitu mudah menjadi milik daerah, sementara cahaya dari perut bumi begitu cepat menjadi milik negara?
Bukankah hujan jatuh di tanah yang sama?
Bukankah ombak memecah di pantai yang sama?
Bukankah rakyat yang memikul musibah adalah rakyat yang juga menjaga bumi hingga lahirlah kabar tentang kemakmuran?
Ah... Barangkali memang beginilah negeri ini.
Ketika langit runtuh, kami diminta berdiri sendiri.
Tetapi ketika bumi tersenyum, kami diminta berbagi bahkan sebelum sempat mengecap manisnya.
Aku tidak sedang menolak Indonesia.
Aku hanya sedang mencari di mana keadilan menyimpan alamatnya.
Sebab cinta kepada negeri tidak pernah tumbuh dari banyaknya pidato, melainkan dari keyakinan bahwa setiap tetes air mata akan dihargai setara dengan setiap tetes minyak yang keluar dari perut bumi.
Wahai Aceh...
Tetaplah menjadi laut yang tidak iri kepada ombak.
Tetaplah menjadi tanah yang tidak lelah menumbuhkan harapan.
Tetapi jangan pernah berhenti bertanya, mengapa duka selalu diminta tinggal di rumahmu, sementara berkah selalu diajak pergi meninggalkanmu?
Sebab sejarah bukan hanya ditulis oleh mereka yang menguasai kekayaan, tetapi juga oleh mereka yang berani menyuarakan keadilan.
โข
โข
โข
Lueng Bata, Banda Aceh
31 Juli 2026













