"Senja menjingga seindah ini, sambil menanti adzan Maghrib tiba tiba pikiran malah random, _Ada yang tahu gak, manusia purba kalau lagi gabut ngapain? Apakah mereka juga duduk menatap senja sambil mikirin cara berburu mamut?_"
Manusia modern kalau gabut macam saya membuat story WA, maka sepertinya manusia purba pun melakukannya lewat coretan di dinding gua sebagai bentuk penanda eksistensi diri. Buktinya, cap tangan di Gua Leang-Leang Maros adalah "status medsos" purba. Sebuah validasi visual bahwa mereka pernah ada di sana. Dorongan pamer saat gabut ternyata warisan genetik.
"Ah, saya kalau gabut gak pernah update status." Ujar seorang kawan.
Iya, gak salah. Gak semua manusia purba juga ninggalin jejak cap tangan di dinding gua. Sebagian dari mereka mengisi waktu dengan mengasah estetika. Manusia purba melubangi cangkang kerang, gigi hewan, atau batu indah untuk dijadikan kalung dan gelang. Buktinya, para arkeolog menemukan manik-manik purba dari cangkang kerang berusia 142.000 tahun di Gua Bizmoune, Maroko, yang berfungsi sebagai perhiasan sekaligus penanda status sosial klan mereka.
Lalu muncul pertanyaan baru, Apa manfaat kepikiran pikiran gabut manusia purba? Tidak ada.
Saat masih berburu dan meramu, manusia purba adalah makhluk paling merdeka. Mereka menjelajah, bekerja paling banyak hanya 4–6 jam sehari, lalu sisanya santai. Konsep waktu manusia purba sangat fleksibel. Kalau di sini tidak ada buah, mereka tinggal pindah ke sana (nomaden). Gabut adalah kemewahan yang melahirkan peradaban. Tanpa kegabutan manusia purba di masa lalu, kita tidak akan pernah punya seni cadas, perhiasan, atau kreativitas.
Begitu manusia mulai bercocok tanam dan beternak lalu menetap, kebebasan waktu itu lenyap. Manusia akhirnya dikontrol oleh musim, kalender tanam, jadwal panen, dan jam memberi makan ternak. Demi bertahan hidup, manusia mulai menimbun hasil panen, mengklaim kepemilikan tanah yang kemudian pada akhirnya memicu konflik sosial. Untuk mengatur itu semua, lahirlah sistem kasta, pajak, aturan hukum, dan birokrasi. Kebebasan alamiah manusia purba resmi ditukar dengan struktur sosial yang kaku. Kekosongan dan kegabutan manusia purba justru adalah puncak kebebasan sejati mereka
(MAMMOTH GABUT)













