Nanti, di usiamu yang sudah dewasa,
Semoga kamu terus bisa berbuat baik pada semesta.
Maaf untuk mimpi-mimpi yang terkubur kemarin,
Maaf kami tidak bisa menjadi dewasa secepat yang kamu butuhkan,
Semoga kamu bisa paham, bahwa kami menghidupi mimpi untuk turut menghidupi mimpimu juga,
Jangan kemana-mana, tunggu kami sampai.
Sudah sekitar setengah tahun, kami tidak pernah saling menelfon. Sekiranya, Juli tahun lalu kami terakhir bertemu.
Kalau ditanya, “nama lengkapnya siapa?”
“ya, misalnya kaya aku, nama lengkapku Eka Arini Sangkuati dipanggilnya Rin. Kalo Ari siapa?”
Ari suka main bola, sepedahan kemana-mana, dan ke makam ibunya setiap seminggu sekali.
Dulu, ibunya sakit keras; kanker payudara. Beliau adalah seorang Tenaga Kerja Wanita di Malaysia, bertemu sang suami ketika masa kerjanya, dan bersama-sama membersarkan Ari. Ketika sakit, katanya, beliau sudah tidak bisa diurus lagi, sehingga beliau dipulangkan ke rumahnya di Indonesia, tepatnya Lombok Tengah, Praya, bersama Ari. Kedatangan beliau sempat membuat masyarakat khawatir. Bagaimana tidak? Dengan keadaan yang tidak dinafkahi, beliau dipulangkan begitu saja bersama Ari, dalam keadaan sakit parah pula. Ini membuat beberapa organisasi masyakarat, kala itu, menggalang dana untuk membantu beliau dalam pengobatan.
Aku yang dulu tergabung dalam organisasi Forum Anak Lombok Tengah, berusaha untuk lebih melirik anaknya, Ari, yang dulu kondisinya juga memperihatinkan, karena ia tidak lancar berbahasa Indonesia, sehingga tidak mudah untuk beradaptasi dengan teman seumurannya.
“Ari, dulu pernah sekolah?” tanya ku
“Pernah, kak, setahun saja. Dulu saya sekolah bersama semua, digabung-gabung, ada yang kecil-kecil juga ada yang sudah tua,” dengan logat melayunya
“Umurnya sekarang berapa?” tanya teman yang lain,
Ari seharusnya sudah masuk Sekolah Menengah Pertama (tahun 2018), tapi pendidikannya malah terhenti. Melihat itu, organisasiku berusaha untuk mengajari Ari sampai ia bisa mengambil paket A dan melanjutkan sekolahnya. Ini mulai kami lakukan selepas Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas tahun 2018.
Kami belajar membaca, menulis, berhitung, berbahasa indonesia yang baik, dan mengaji bersama Ari. Ini kami lakukan bersama tetangga-tetangga yang seumuran dengannya. Kurang lebih 6-7 orang yang membersamai kami setiap hari.
Kira-kira, sampai di bulan ke-2 kami belajar bersama, Ibunya meninggal dunia.
“Ngga apa-apa, kak. Kak, kata mama, kita belajar terus, ya.”
“Iyaaa, kata mamanya apa?”
“Dia bilang, “Ari mau ya sekolah lagi.””
Sampai di bulan ke-3, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Mulai tes untuk masuk universitas, ikatan dinas, dll.. Waktu itu, aku berusaha untuk terus mengumpulkan teman-temanku mengajar. Tapi, di sisi lain, aku juga harus paham bahwa, selain mimpi Ari, mereka juga harus berusaha menghidupi mimpi mereka sendiri.
Menuju bulan ke-4, aku sudah tidak bisa berada di Lombok. Jakarta memanggilku untuk segera memulai dunia baru.
Di bagian terakhirku membersamai Ari, aku membawanya ke salah satu Kepala Seksi di Dinas PPPA, pembina organisasiku, menanyai bagaimana cara agar Ari bisa sekolah lagi. Dengan baik hati, beliau berkata akan menanyai hal tersebut kepada Dinas Sosial dan memintaku untuk menunggu kabar darinya. Beberapa hari setelah itu, beliau mengabari bahwa Ari belum bisa mendapat bantuan karena belum terdaftar sebagai warga setempat, nama Ari tidak ada di dalam Kartu Keluarga (KK) neneknya (karena Ari tinggal bersama nenek). Cara yang bisa ditempuh adalah membawa Kartu Keluarga (Malaysia) dan Akta Lahir Ari ke Dinas Sosial agar nama Ari bisa ditambahkan ke Kartu Keluarga neneknya.
“Ari, ngga mau telfon bapaknya?”
“Ngga apa-apa, yuk, kak Rin aja yang ngomong.”
“Kemarin-kemarin bapak sudah telfon, katanya mau kirimin saya uang, tapi ngga ada. Katanya mau bantu nene, tapi ngga pernah. Ngga mau lagi telfon bapak.”
Sampai akhirnya, sekarang, aku belum bisa menemukan titik tengah dari pendidikan Ari. Bagaimana ia harus sekolah, bisa lancar membaca, juga berhitung. Di awal Jakarta-ku, Ari hampir tiap minggu menelfon, selalu bertanya, “Kak Rin kapan pulang?” dan aku selalu berusaha untuk menenangkan, “Iyaa, sebentar lagi pulang.”
Juli tahun lalu, ketika libur semester 2, kami terahir bertemu. Aku mengajaknya mengikuti sebuah acara organisasiku di hari Sabtu-Minggu. Ari masih baik, masih suka tertawa, masih suka kemana-mana memakai sepeda, dan masih menganggap kami kakaknya.
“Kak Rin sering-seringlah kesini, sama temennya yang lain. Sama kak Diyat, kak Ranti, kak Gina, kak Astrid, kak Andin, semuanya...” katanya setiba aku mengantarnya pulang hari itu.
“Iya, kapan-kapan tak ajakin main sama mereka lagi, ya.”
Ia menutup pertemuan bulan Juli dengan sebuah pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa dijawab;
“Kak Rin, kapan kita belajar lagi?”
Jakarta, Februari 2020. 3 bulan menuju rumah; pulang; sebentar lagi, Ri.