Buat si kebo yang pedenya masyaallah
Entah sudah berapa lama aku tidak lagi menulis puisi. Aku sengaja berhenti, sebab segala yang aku tulis akan selalu berujung pada tema luka. Baik secara sengaja ataupun tidak, selalu saja luka, luka, luka. Aku lelah. Jadi aku berhenti menulis. Mungkin dua bulan yang lalu adalah yang terakhir, tapi entah, aku lupa kapan tepatnya. Yang jelas, yang paling aku ingat, puisi terakhir adalah puisi untukmu. Isinya perihal merelakan.
Sebelumnya, kau lebih dulu mengirim tulisan untukku, isinya perihal pamit yang kau bilang mampu mengantar kita menuju bahagia yang lain dan meninggalkan bahagia yang sudah babak belur dibelut luka. Sebagai contoh, mungkin yang kau maksud adalah dirimu sendiri. Kau yang dengan mudah menemukan bahagia yang lain setelah berpamit. Apapun maksudmu aku tidak peduli bagaimana benarnya. Tapi, kepalaku masih menilaimu baik, mataku masih melihatmu bersayap, dan hatiku, tentu, masih menyayangimu. Jadi, kuanggap tulisan itu hanya sebuah permintaan supaya aku bisa bahagia, bahkan setelah kau pamit.
Kemudian puisi terakhirku lahir. Isinya perihal merelakan dan kebohongan bahwa aku sudah bahagia dan akan terus bahagia. Ya, aku berbohong. Alasannya, supaya kau tidak merasa bersalah atas tetes air mata yang masih saja jatuh hingga hari ini, yang masih saja jatuh saat tiba tiba suaramu sayup sayup kembali terdengar di telingaku, atau namamu tiba tiba terbesit dalam benak, atau apa saja yang bisa membawamu kembali muncul sebagai kenangan.
Mungkin singgah yang sebentar itu sudah cukup bagimu. Dan saat kau berpamit, tanda segalanya akan selesai, aku tidak kaget apalagi bertanya tanya. Aku hanya lupa. Lupa bahwa sedari awal aku sudah tahu, aku adalah persinggahan dari segala penat, lelah, kesepian kesepian, luka luka, keterpurukan dan apapun yang membutuhkan tempat untuk bersandar, tapi bukan sebagai rumah untuk pulang. Aku hanya persinggahan. Dan kau hanya singgah. Setelah semua pulih. Kau pamit. Kita selesai.
Kemudian aku akhirnya tahu. Kau sudah menemukan tempat bersandar yang jauh lebih nyaman dari pada aku. Entah ia akan kau jadikan rumah atau lagi lagi hanya sebagai persinggahan.
Apa urusanku?
Jadi, rindu yang selama ini kutabung karena kukira kau akan kembali pada akhirnya, kini harus aku simpan rapat rapat sendirian. Rindu yang cantik sekaligus malang yang tak kunjung menemukan kesudahan ini biar kurawat seorang. Rindu ini cuma sepihak, ia tak layak meminta tuannya. Selamanya, rindu yang kutabung ini takkan kupecahkan.
Tapi hari ini aku kembali menulis. Tidak peduli jika luka yang hampir kering ini kembali sobek dan menganga lagi. Aku cuma ingin menulis pesan ini.
Kapanpun kau butuh tempat bersandar, kembalilah, singgahlah lagi. Aku masihlah persinggahan. Ini sebabnya aku kembali menulis.
Aku masih menyayangimu sebagai teman. Bukan sebagai yang lainnya, lagi.












