Percayalah, aku sudah tak apa-apa sekarang. Pun jikalau tentangmu melintas, anggaplah itu hanya pepasir pantai yang tak sengaja larut dilautan samudera.
Dulu, senyummu adalah senja sunyi yang ku sematkan. Lalu luruh tiada sesiapa tahu. Sulit memang menepis rindu, tetapi mengejarmu, ibarat lintas fatamorgana menuju jalan buntu.
Jika suatu hari nanti kamu mulai bertanya "siapa aku", ingatlah satu hal, aku pernah memiliki pertanyaan yang sama sejak pertama melihatmu. Lekuk senyummu adalah kedalaman yang selalu ingin ku selami.
Mata teduhmu adalah lelap yang selalu ingin ku tiduri. Sesampai waktu menjeda rasaku, mentiadakanmu dalam hari-hariku.
















