Kamu tahu? Setiap kali diriku mengingatmu, air mata ini tak mampu terbendung. Mereka jatuh, perlahan, lalu membasahiku. Sama seperti diriku. Jatuh, perlahan, basah akan kenangan indah namun penuh dosa yang pernah kita lalui bersama disini, di kota istimewa ini. Aku takkan menyalahkanmu, pun diri-Nya. Aku yang sekarang sangat bersyukur karena Dia telah mengamankanku darimu. Meski pada akhirnya aku pula lah yang mengudeta karunia dari-Nya tersebut. Katanya, perasaan itu tak bisa dipaksa. Perasaan suka, pun benci. Aku tak pernah memaksa diriku untuk menyukaimu. Kurasa, orang disekitarmu pun begitu. Tapi kau harus tahu, sejak diriku memintamu tuk mencari pahala kita masing-masing, hingga detik tulisan ini kuketik, aku terpaksa harus memaksa diriku sendiri yang lemah iman ini untuk tak menyukaimu. Tahukah kau betapa sulitnya menjadi seorang perempuan sepertiku? Yang dari luar terlihat sangat riang, padahal dalamnya menyedihkan bak rumput gersang. Yang hanya bisa menghujani diri sendiri, dikala semua orang terlelap mengistirahkan diri. Sepi. Kuakui, aku sangat lemah dalam hal perasaan. Bahkan aku harus menangis seorang diri, hanya karena memikirkan alasan untuk dapat berhenti menyukaimu. Seandainya kau tahu, aku takkan membohongi diri sendiri, kamu yang ada di kota ini, masih menjadi seseorang yang kusukai. Aku takkan bahas cinta karena aku masih berusaha tuk meraih cinta dan ridha-Nya, sebelum aku siap menerima cinta darimu. Ya, levelku masih di taraf suka yang (kemungkinan akan) berpotensi mendatangkan zina (lagi) untuk diriku sendiri. Menyukaimu adalah perihku. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan aku bisa bertahan menahan perasaan yang perlahan menggerus imanku ini? Sejak saat itu, aku mulai tak mengenalmu. Tak pernah aku tahu apa kegiatanmu. Aku terpaksa untuk tak mencari tahu. Sengaja aku tak menyapamu meski sekalipun. Kau harus tahu, semakin aku berusaha untuk tak menyukaimu, yang terjadi malah sebaliknya. Maaf jika aku terus berusaha untuk tak bersilaturahmi denganmu. Itulah satu-satunya bentengku. Setiap batu yang kususun demi membangun benteng pertahanan iman, seketika hancur lebur. Bentengku seketika runtuh tanpa sisa oleh sedikit sapaan darimu. See? Begitu lemah diriku, jika harus menghadapimu. Satu kata ‘hai’ darimu saja sudah mampu meluluhlantahkan keimananku. Mengusik pikiranku. Mengguncang perasaanku. Bagaimana bisa aku paksa diriku untuk mengabaikanmu jika tiap ada yang menyebut namamu pun pikiranku secara otomatis memutar rekaman memori indah kita dulu, kala kau dan aku masih tak tahu makna islam secara sungguh? Berbagi cara kulakukan demi menghilangkan perasaanku padamu, namun tak ada yang berhasil. They just did not work, at all. Mulai dari men-delete kontak bbm, menghapus kontakmu di handphone, menghapus semua fotomu di laptop, hingga menggunting dan membuang fotomu ke dustbin... Meski pada akhirnya aku menyesal sendiri kenapa aku bisa sejahat itu pada fotomu. Aku hanya bisa menyerukan ‘payah’ pada diriku sendiri. Membereskan masalah hati yang sepele seperti ini saja aku tak mampu. Bagaimana bisa aku menyandingi orang sepertimu, yang pastinya sudah banyak ditunggu oleh para muslimah untuk dipanggil ke rumah. Sebenarnya ini bukan masalah masa depan. Seperti yang pak ustadz kemarin bilang bahwa jangan pernah libatkan perasaan dalam percakapan kalian. Itulah masalah terbesarku. Aku tak bisa jika tak melibatkan rasa sukaku padamu dalam setiap percakapan yang terjadi diantara kita. Kenapa kau tak berusaha tuk membantuku meminggirkan perasaan itu kala kita sedang terlibat dalam percakapan berdua? Apa kau sengaja? Jika kau sengaja pun setidaknya kau pasti tahu bahwa yang kulakuan -mencoba menjauhimu agar berkurang rasa sukaku- ini demi kita berdua dan juga demi mereka yang nantinya akan kita ceritakan cerita hina yang mempelopori proses hijrah masing-masing kita kelak. *This would be my last story for you. Hope you'll find and read this, someday.*