Kepalsuan Empati yang Estetik
Hujan turun menderas, di sebuah kedai yang menjual ketenangan semu, kamu duduk menikmati sore yang begitu romantis menurutmu, dalam dunia yang kamu pikir hanya milik kalian berdua.
Sementara di luar sana, hidup sedang mencambuk mereka yang tak punya atap dengan hujan yang sedang tak punya perasaan.
Amati punggungmu sendiri di foto itu. Sebuah kanvas ironi yang 'mahal', bukan? Kau duduk di sana, di balik sekat hangat, mengagumi betapa 'estetiknya' kesenangan dibalik penderitaan yang kau saksikan dari kejauhan.
Uap kopimu membumbung, menciptakan kabut tipis yang nyaman di wajahmu. Kabut itu bukan sekadar penghangat, tapi filter egois yang sengaja kau pasang agar kau tidak benar-benar harus melihat pori-pori yang menggigil di punggung tukang gerobak di seberang sana. Kau takut kehangatan artifisialmu terganggu oleh dinginnya kenyataan yang mereka alami.
Dalam hatimu, mungkin kau merapal doa-doa klise yang murah: 'Semoga mereka dilindungi', tapi kau ucapkan bukan untuk keselamatan mereka, tapi untuk menenangkan nuranimu sendiri yang terusik, agar kau bisa menghabiskan kopimu tanpa rasa bersalah yang berarti. Itu bukan doa, itu penebusan dosa palsu.
Berhentilah menyebutnya romantis. Sebab ini terlalu dramatis bagi mereka, ini adalah pertempuran. Dan bagimu, ini hanyalah sekadar kafein yang harus dihabiskan sebelum kembali ke kenyamanan yang abu-abu.
Duduklah yang manis. Teruslah berpura-pura. Jadikan hidup mereka yang basah kuyup itu sebagai konten yang 'menyentuh' di media sosialmu. Ketik caption penuh 'kekhawatiran', lalu pulanglah ke ranjangmu yang kering, tinggalkan mereka bergelut dengan aspal yang licin. Bukankah sangat nyaman menjadi pahlawan tanpa pernah harus mengigil sebab basah?
[ini adalah realita dalam kehidupan, kita seringkali bukan sedang peduli, tapi hanya sedang menonton sebuah sinopsis penderitaan orang lain dari baris kursi paling depan yang kering dan hangat, sambil mengeluh kalau kopinya kurang manis.]