Mengapa harus malu belum menikah menjelang 30-an. Kesendirian yang disengaja, ikhtiar dalam ketaatan. Bukankah sungguh elegan. Terjaga karena Allah taa'la. Itulah jalan hidup dari Yang Maha Menentukan.
DEAR READER

Discoholic đĒŠ

JBB: An Artblog!
cherry valley forever
ojovivo
I'd rather be in outer space đ¸
we're not kids anymore.
AnasAbdin
Cosmic Funnies
Lint Roller? I Barely Know Her
KIROKAZE
almost home

Origami Around

dirt enthusiast
Alisa U Zemlji Chuda

Janaina Medeiros
styofa doing anything
Sweet Seals For You, Always

Kaledo Art
seen from Poland
seen from United States

seen from Germany
seen from Singapore
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
seen from Spain

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Germany
@iffanf
Mengapa harus malu belum menikah menjelang 30-an. Kesendirian yang disengaja, ikhtiar dalam ketaatan. Bukankah sungguh elegan. Terjaga karena Allah taa'la. Itulah jalan hidup dari Yang Maha Menentukan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âĸ No registration required âĸ HD streaming
Terkadang ada hal pada orang lain yang kita ngga tahu benar apa yang sudah ia alami, pahit yang ia lewati, sabar yang ia pupuk sendiri. Kita ngga tahu apa yang sudah mereka usahakan, sebesar apa usahanya, sejauh apa ia berusaha. Kita ngga tahu juga apa yang sebenernya mereka rasakan, lelah, resah, gelisah, khawatir, sedih, takut yang disimpan sendiri. Termasuk keridhoannya akan takdir yang di jalani. Jadi, stop berkomentar hal-hal yang kita ngga benar-benar tahu.
Doakan saja, ngga perlu sok paling tahu, ngga perlu kasih solusi tanpa diminta, ngga perlu bandingkan dengan dirimu sendiri, ngga perlu toxic positivity.
05/03/24
Mari meromantisasi hidup kita kembali.
Rasakan kembali sedihnya hati, lelahnya bekerja dalam tekanan, kesalnya diri karena pertanyaan kapan, bahagianya untuk hal2 kecil yang tak kelihatan, sakitnya saat ditinggalkan, berbunganya saat diberi harapan, serunya melakukan kegemaran, leganya mencapai pencapaian, takut akan kegagalan, semua yang kita alami dan rasakan.
Yang mungkin terbiasa hanya lewat sesaat. Tersingkirkan oleh kerja, kerja, kerja, tau-tau sudah lelah seharian.
Meromantisasi artinya menghayati segala yang terjadi, merasakan segala emosi, direnungkan dan dirasakan dengan penuh kesadaran, dengan segala seni dan keindahan hidup.
Secara teori kayaknya sudah ada ya di ilmu psikologi. Tapi sebagai manusia biasa, baru sadar sambil berjalan, baru sadar setelah hilang, baru sadar kalau sudah melewati kesalahan. Namanya juga manusia.
Mari kita romantisasi dengan cara masing-masing. Dihayati pun cukup, tapi dengan bantuan tulisan, lewat potret foto, video, story, catatan gadget, catatan stickynote, catatan kalender, apapun itu bolehkan? Biar tambah menikmati manis, pahit, perihnya hidup.
Biar fulfilling dan meaningful.
Money Politic itu Ngga Normal
Kalau mau yang bener2 bersih, idealis, mah, susah. Wong voters nya aja, yang begitu berharga suaranya, dikasih serangan aja diterima. Ya, kita artinya masih dalam kendali sistem kotor para penguasa berduit. Yang eksekutif dengan kekuasaan dan kebijakan, yang legislatif dengan bagi2 duit, sembako, bantuan sosial lainnya. Kebiasaanya sih begitu. Sudah rahasia umum, bukan?
Jadi jangan terlalu berekspektasi tinggi, sampai bela mati, tutup mata. Mau itu tentang pribadinya, partainya, mau eksekutif ataupun legislatif. Susah mah politik siapa yang mau dipercaya.
Sekarang kita yang millenial ini yang harus siapin generasi alpa dengan sebaik mungkin dan memutus pola2 curang, kotor tak beradab, tak sesuai norma. Susah sih. Butuh banyak orang. Tinggal mau berubah atau nggak. Dari diri sendiri, ke lingkungan terkecil keluarga, saudara, tetangga, RT, desa, dst. Yang paling berat ya dimulai dari diri sendiri.
Politik itu kan seni. Seni merayu dan mememengaruhi orang lain untuk mendapatkan legitimasi. Bisa memengaruhi keluarga aja, kita sudah berpolitik. Nah dimulai dengan politik yang bersih dan baik.
Belajar mulai dari diri sendiri untuk tidak menormalisasikan hal-hal yang memang ngga normal. Jangan hanya sekadar dilakukan banyak orang jadi dinormalkan, padahal tidak sesuai dengan hukum dan norma. Berani berbeda untuk hal yang benar memang challenging.
Semangat diri menormalisasikan yg benar. Bukan menormalisasikan yang banyak dilakukan mayoritas orang.
Buat yang Penting Jangan Kosong Dua
Buat diri yang capresnnya kalah.
Tapi aku sama sekali kali ga menyesal kalau pilihanku ga menang. Ini bukan hanya sekadar menang atau kalah. Tapi juga tentang memberikan hak suara.
Suara kita itu berharga.
Kita udah melakukan tugas kita sebagai warga negara dengan menjalankan demokrasi. Ada yang menang, ada yang kalah. Setidaknya kita sudah berbuat untuk Indonesia.
Kalau kalah, ya udah jalannya memang begitu. Yang penting kita udah ikhtiar, kan. Hal-hal diluar kuasa kita, biarlah Allah yang memiliki rencana yang terbaik. Kek, ya udah, dinikmati aja siapa presiden yang terpilih. Kalau ga beres tinggal kita teruskan ikhtiar dengan cara kita masing2 yang bisa dilakukan; gugat, kritik, aksi, menulis opini, apapun lainnya.
Kita sedang memilih calon presiden dengan opsi2 terbaik menurut kita. Kita sama-sama tahu, 3 paslon yang ada ngga ada yang bener-bener ideal. Masing-masing punya plus minusnya seperti ramai di media sosial, di pembicaraan antar tetangga, di pasar, di kantor, di jalan, di mana-mana. Tiap kita sudah menganalisis kecenderungan yang paling sedikit mudhorotnya. Tentu tiap kepala perhitungannya berbeda, toleransi plus-minus paslon masing-masing orang berbeda. Ga ada pasangan yang pas, ideal, sempurna. 50:50 umumnya. Jadi kita sudah berusaha, berpikir dan memilih sebaik-baiknya buat Indonesia. Ga ada yang sia-sia. Ya memang begini namanya demokrasi.
Yang penting kita memilih dengan penuh kesadaran. Menimbang segala konsekuensi dan kapabilitas mereka. Bukan memilih hanya karena sekadar ikut-ikutan, hanya karena trending/viral, atau hanya karena hal-hal receh diluar substansi.
Jadi kita pun ga tahu, yang memenangkan pesta demokrasi nanti akan mewujudkan realita yang seperti apa. Ga menutup kemungkinan, bisa juga, kan, yang bukan pilihan kita ternyata kerjanya bagus dan baik. Toh, kita belum lihat kerja nyatanya. Masih bisa kita bantu usahakan dengan doa đ
Jangan terlalu kaku sama pilihan kita, ingat ini politik. Kita bela setengah mati pakai hati, pakai emosi, eh, dilain waktu mereka bisa jadi bersatu, berkoalisi, dengan retorika alasan yang meyakinkan. Padahal mah ada aja target kedudukan, jabatan, uang, atau lingkaran jaringan, atau memang buat kebaikan(?) Hmmm, sok baik sangka. Politik gaesss, jangan kagetan hah hoh hah hoh. Kita di bawah baku hantam, mereka yang di atas lobi2, bagi2, simbiosis mutualisme, bisa jadi.
Jadi, santai aja. Yang menang biarlah menang. Yang kalah jangan patah hati. Tetap awasi sebagai warga negara yang berdemokrasi. Jangan apatis. Jangan diambil hati apalagi emosi sama rekan sendiri. Besok sudah kerja kembali untuk menghidupi diri.
14/2/24

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âĸ No registration required âĸ HD streaming
Kebetulan Saja
Ada kebetulan yang di rencanakan. Menurutmu seperti kebetulan. Padahal memang sudah jalan yang Allah pilihkan.
Segala bentuk kebetulan yang membuat hatimu berdegup, "jangan-jangan" yg kau lontarkan karena mungkin kebetulan, seakan-akan memenangkan gejolak hatimu. Padahal kebetulan-kebetulan itu pun terjadi pada banyak insan. Jangan sampai kebetulan-kebetulan itu membuat hati mu melemah dan terkungkung angan.
Yang ada, memang seperti itu jalannya. Hal-hal diluar kuasa kita hanya atas seijin-Nya. Yang perlu kita dilakukan adalah mencari hikmah dan pembelajaran yang bersemayam.
24/1/4
Saat Ini ke Masa Depan
Saat ini, sedang dimasa menyadari "hasbunallah" itu harus dinikmati. Bener-bener dinikmati. Diresapi setiap nafas, langkah, pikiran yang singgah. Menikmati setiap potongan cerita, adegan, momen, dan kisah perjalanannya, dengan qodarullah, hasbunallah.
Karena yakin ujung nya nanti ada ketetapan Allah yang begitu indah, yang terbaik, yang sudah Allah siapkan.
Hingga saat itu tiba, kita akan bersyukur karena melewatinya dengan cara yang baik. Tidak ada penyesalan menyia-nyiakan waktu menunggu selama ini.
Menikmati "hasbunallah": berpasrah, berserah kepada Allah jadi menambah baik sangka kepada Allah. Tentang masa depan yang tak terpandang, tapi percaya terbaik yang akan datang.
23/1/3
Free free Palestine!!
Cerpen: Salah Menaruh Harap
Aku berdiri disana bukan dengan sengaja.
Aku tidak mencarimu, aku tidak mengejarmu, aku tidak mendekatimu, aku tak mengenalmu.
Kau yang mengawali, kau yang bergerak.
Namun seakan menguap lalu hilang tanpa sesal dan maaf.
Apalah sebuah kepastian, bukan tergantung, tapi ia memang tak pernah ada.
Kenapa aku yang jadi korban?
Padahal aku hanya menikmati jalan yang memang harus aku lewati. Aku berdiri disini bukan dengan sengaja.
Kau yang mengawali, tapi tidak pernah mengakhiri.
Mengapa aku yang harus menerima luka duri?
Jawab:
Karena kau menaruh harap.
Ia hanya beririsan dengan luka mu.
Sehingga, meski tak pasti, tanpa isi, tanpa informasi, kau membuka secercah ruang. Aku tau kau berusaha menghalau membangun benteng pertahanan. Tapi bentengmu goyahkan?
Tuhan bermaksud memberitahumu, bahwa benteng mu tak sekokoh perkiraanmu. Bahwa benteng mu masih butuh banyak material untuk menjadi kuat. Bahwa benteng mu masih perlu diperbaharui terus menerus. Agar tak tertembus panah-panah yang tak diharapkan.
Walau agak sakit, walau terasa tidak nyaman, walau terasa menyesakkan, walau perih, marah, kecewa, terluka, Kau jadi belajar, kan? Mengevaluasi, kan? Dan tentu saja jadi lebih kokoh, kan?
Selamat, kamu telah tumbuh melewati satu duri.
2023/1/3
Bervalue sesempurna yang kita mau mungkin mudah. Tapi ada saatnya akan diuji.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âĸ No registration required âĸ HD streaming
Cerpen: Pertahanan Diri
Siang itu ia datang memberi semangat dengan suara lembutnya. Sangat lembut hanya kepada ku, tidak yang lainnya.
Malam itu ia menyapa dengan bahagia. Membisikkan kata-kata penuh rasa.
Pagi itu dengan senyumnya, mencoba berbicara. Hanya empat mata diantara banyak hiruk pikuk lainnya.
Senja itu ia berikan ruang waktu spesial, untukku rehat dari melelahnya aktivitas padat.
Sore itu ia ulurkan tangannya, menyambutku untuk membantu. Meski tangannya tak ku gapai, sungguh baik, ya.
Hari-hari itu aku berdoa, ditegapkan langkahku, diluruskan kembali ke jalur kepercayaanku, diingatkan peganganku, dikuatkan pendirianku, ditambahkan lagi nilaiku, dimajukan prinsipku. "Jangan oleng, jangan tumbang, jangan hanyut," kataku, atas banyak macam rayuan, yang tak tahu kemana arah tujuan. Searahkah? Berada dijalan yang sama kah? Setujuankah?
Ku perhatikan tiap-tiap langkahnya, batas-batasnya, hari-hariannya, sepertinya frekuensi kita berbeda. Sinyalnya ku terima, tapi banyak semutnya.
Jika lah aku lupa meminta kepada Nya, mungkin aku tersesat diantara gelombang isyarat semu sementara atau tentang kode salah terka.
Perasaanku, ku lawan dengan pikiran. Kami mengobrol tapi tidak berbicara. Kami beradu namun sunyi sekali. Kami berdiskusi, bermusyawarah dan bermediasi. Akhirnya kami sepakat tanpa berjabat. Pikiranku menang, menolong hati yang sempat menabrak pembatas jalan.
Indahnya untuk diselesaikan, diikhlaskan dan meridhoi semua perasaan. Berakhirkan?
Ketika logika masih bermain lebih dari perasaan. Selamat, kamu telah selamat. Kamu diselamatkan oleh dirimu sendiri.
Merah jambunya hanya ujian. Kamu lolos ke tahap berikutnya, ya!
Belum tentu suatu hal yang dilakukan oleh banyak orang adalah sesuatu yang normal, apalagi benar.
Benar tetap benar. Baik tetap baik. Tanpa butuh kuantitas makhluk yang mengerjakan.
Money politic contohnya.
Inikah overthingking
Malam boleh hening.
Tapi lelap tak kunjung mengetuk.
Karena kepala ramai sibuk.
Mengurai cerita sehari tadi.
Yang tak sempat dikeluarkan macam-macam ganjalan hati.
Mata menutup.
Otak meletup.
Menganalisis berbagai kemungkinan.
Yang akan datang, yang akan diselesaikan.
Detik terus mengutara.
Seperti nyenyak tetapi terjaga.
Istirahatku akan berlalu tanpa rehat.
Jika maaf tak diikhlaskan untuk lewat.
Ini akhir hari ini, memaafkan jiwa2 yang menitip goresan.
Yang memaksa masuk tanpa sopan.
Pada akhirnya, kita sendiri lah yang mampu mewarasakan diri.
Meski kadang perlu lewat meditasi.
Istirahatkan jiwa dan tubuh yang lelah malam ini.
Berdamai diri, menerima hari.
Hingga tertutup mata tanpa permisi.
Meredakan gemuruh kepala sampai jumpa mentari.
Tua itu pasti. Terlihat tua itu persepsi. Awet muda itu anugerah Ilahi. Tua, terlihat tua, ataupun awet muda, tetap belum tentu dewasa.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âĸ No registration required âĸ HD streaming
Dulu aku pikir, kenapa ya orang-orang sering banget ngomongin menjadi dewasa itu sulit. "Adek-adek ga usah pengen cepat-cepat gede, ya", "nikmati sekolah aja dulu ngga usah pengen cepat-cepat kuliah atau kerja". Maksud aku, kenapa ya dibuat seolah-olah menakutkan. Kek, yaudah, jalani aja ngga usah dipikirin. Karena semua akan terus berjalan dan terlewati, kan.
Tapi ternyata ada masa dimana masalah menghampiri. Terasa berat, terasa beban, jadi overthingking. Ya, manusia dan manusiawi. Mau ngga mau, ya, kepikiran dan dipikirin. Setelah diresapi, sulit, ya. Atau aku yang telat mindfulness momen menjadi dewasa?
Dipikirin pun ternyata gapapa. Yang penting jangan berlebihan. Ngga stuck hanya dalam ruang pikiran. Ngga membuat benang kusut, yang sebenarnya ngga kusut. Apalagi sampai mempengaruhi aktifitas.
Dipikirin pun ngga masalah. Asal tetap ambil langkah untuk terus berjalan. Tetap terus belanjut melangkah, hadapi, selesaikan, jangan lari atau menghindar.
Karena ada masanya hidup jadi sulit. Ada masanya hidup ngga baik-baik aja. Ada masanya problem datangnya dari eksternal. Ada masanya problem datang dari diri sendiri atau lingkungan paling dekat. Ada masanya cemas, gelisah, khawatir, takut, sedih, campur aduk.
Dewasa masanya ngga bisa lagi orang tua, kakak, saudara lainnya ya ambil tanggung jawab. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Segala bentuk tindakan kita, apa yang kita jalani, yang kita abaikan, keputusan hidup, uang yang kita gunakan, teman yang kita pilih, tekanan dalam pekerjaan, interaksi sosial, sampai masalah2 remeh pun keputusan dari diri sendiri yang harus dipertanggungjawabi sendiri. Di era ini, pun, bagi sandwich generation ngga cuma memegang tanggung jawab diri sendiri tapi juga keluarganya.
Dewasa masanya menyanggupi, menunaikan kehidupan dengan segala lika likunya. Dipikirin pun ngga masalah, yang penting bagaimana menanggapinya, menyelesaikannya, menanganinya. Tentu apapun yang kita ambil, yang kita putuskan, punya konsekuensinya masing-masing yang harus ditanggung oleh diri. Butuh banyak modal softskill untuk melaluinya.
Jadi, gitu ya, kenapa jadi dewasa itu sulit.
Selamat belajar dengan cepat, tapi jangan buru-buru. Dinikmati sambil mindfull.
Masya Allah ya, ternyata memang hal-hal yang diluar kuasa kita biarkan Allah yang bekerja