📝 JENGGOT, PEMBEDA ANTARA LAKI-LAKI DAN WANITA 🖊 #jenggot #pembeda antara #laki_laki dan #wanita https://www.instagram.com/p/B_np0lOB3VY/?igshid=cg490snl70ek
seen from China

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States
seen from China
seen from Israel
seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from China
📝 JENGGOT, PEMBEDA ANTARA LAKI-LAKI DAN WANITA 🖊 #jenggot #pembeda antara #laki_laki dan #wanita https://www.instagram.com/p/B_np0lOB3VY/?igshid=cg490snl70ek

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Aku membutuhkan mu" .
Itu yang keluar dari mulutku ketika ternyata suasana yang ku hadapi menjadi tak sama tanpamu.
"Ternyata kmu pembeda dari rutinitas yg kuhadapi" ujarku lagi.
Sayangnya,
Ini hanyalah sebuah ucapan penyesalan dari getirnya bibirku, ketika kau memilih pergi
Maafkan atas sikapku yg mengacuhkanmu,
Aku menyesalinya
28 des 17 24:20
--fikri rk--
Marka Jalan adalah Makna
Sudah barang tentu setiap orang, bahkan kakek tua yang suka nongkrong di pos ronda itu pun tahu bahwa marka jalan adalah pembeda, pemisah antara mereka yang berada di lajur sebelah kanan dan mereka yang berada di lajur sebelah kiri. Masing masing sudah ada porsinya, sudah punya haknya sendiri-sendiri. Apabila ada orang yang melewati marka jalan, ada kemungkinan tertabrak kendaraan yang melaju pada arah sebaliknya, atau paling tidak, kalau kata orang Jawa, dipisuhi.
Marka jalan sebenarnya menyimpan banyak makna. Mungkin kalau si marka ini bisa bicara, dengan sombongnya dia akan berkata, "aku inilah sang pembeda, juga sang penuntun. Aku ada untuk memperjelas, untuk mempertegas!" begitu kira-kira kalau dia bisa bicara--kayaknya. Tentang marka sebagai pembeda, jelas. Dia adalah pemisah antara hak "ku" dengan hak orang lain. Misalnya saja, ada orang yang berdalih terburu-buru karena hampir terlambat ke kantor, atau ingin kejar setoran makanya bus bus kota salip kanan salip kiri melanggar marka jalan, membelah kota. Jelas itu sangat berbahaya, baik bagi diri sendiri atau mereka yang melaju dari arah yang berlawanan. Padahal kalau dipikir-pikir, mereka di lajur sebelah pun punya kepentingannya masing-masing. Tapi ada orang orang yang dengan jemawanya menguasai jalan seperti milik sendiri saja. Melewati marka dan melaju diatas badan jalan yang bukan haknya demi bisa mendahului kendaraan yang ada di depannya. Membuat beberapa kendaraan dari arah berlawanan harus menepi semenepi-menepinya agar tidak disasak si jemawa ini.
Kemudian muncul pertanyaan di benak, jadi pengguna jalan saja sudah korup, mengambil hak badan jalan orang lain. Lantas bagaimana jika jadi pejabat? Mungkinkah ini tandanya mindset korup sudah mengakar, mendasar, biasa dilakukan bahkan dalam hal hal yang sangat kecil sekalipun?
Kemudian marka jalan juga merupakan sebuah penuntun. Teringat selintaslalu cerita seorang guru BK jaman SMP. Dulu beliau bercerita perihal perjalanannya pulang dari suatu acara keluarga di puncak Tawangmangu. Ketika itu magrib menjelang malam dan kebetulan sedang turun kabut. Beliau menaiki mobil yang di dalamnya ada lima orang penumpang dengan satu orang sopir. Kala itu suasana benar benar mencekam karena jarak pandang hanya sebatas tujuh meter dan disamping kiri jalan adalah jurang. Sedangkan tidak ada pilihan selain meneruskan perjalanan, karena untuk berbalik rasanya sama saja, dan disana juga tidak ada penginapan. Seisi mobil hanya bisa memejamkan mata dan berzikir pelan. Tentu si sopir satu-satunya orang yang tidak bisa memejamkan mata. Setengah jam kemudian si sopir berseru ringan alhamdulillah. Sontak seisi mobil membuka mata dan menjumpai mobilnya telah melaju pada jalanan kota yang terang dan lurus, tidak seperti tadi.
Dengan heran Guru itu bertanya, "kok bisa pak? Dengan jarak pandang hanya tujuh meter, dengan jalan yang berliak-liuk, dan jurang di sebelah kiri?"
"begini Bu, meskipun hanya tujuh meter tapi ketika kita melaju akan ada tujuh meter berikutnya, begitu terus. Asal kita pelan dan berhati-hati, didepan kita pasti ada tujuh meter jarak pandang kan. Dan demi menghindari terperosok jurang, di kanan jalan kan ada marka jalan. Tinggal ikuti saja marka itu, pastilah tidak akan salah jalan ke jurang. Begitu bu." ucap pak sopir dengan ringannya.
Sang guru menangkap sebuah pelajaran berharga yang keesokan harinya langsung diceritakan kepada murid-muridnya. Bahwa pejalanan kemarin hampir mirip seperti perjalanan hidup. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita pada waktu yang jauh namun bila kita mematuhi marka jalan yang menjelma sebagai aturan hidup beragama maupun bernegara, maka kita akan terbebas dari jurang yang dapat menjerumuskan hidup kita.
Untuk itulah, marka jalan menyimpan banyak makna. Tentang upaya membumihanguskan tabiat korupsi dengan langkah awal yang sangat sederhana, tidak melanggar marka jalan. Juga tentang menjadikan aturan beragama dan bernegara sebagai marka jalan hidupnya.
Marka adalah pembeda. Marka ada sebagai pemberi makna.
Garis Pembeda
Berjuang di kampus memiliki banyak makna dan arti. Terlalu umum kalau hanya menjual kata berjuang. Karena yang berjuang dari kesendirian untuk tak sendiri lagi, juga layak disebut berjuang. Yang berjuang demi penghargaan dan pengalaman pribadi juga layak disebut berjuang. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Saya tak membesarkan perjuangan yang ini, tapi izinkan saya membahas sedikit hingga alasan kenapa saya menyebutnya jalan perjuangan.
Saya pernah merasakan berjuang sebagaimana mahasiswa umumnya. Berjuang demi akademik, demi prestasi pribadi juga demi ketenaran diri sendiri. Ya, setidaknya saya masih manusia dengan hal itu pernah menjadi orientasi. Tapi semua itu berhenti ketika dihadapkan dengan sebuah kata bernama PENGABDIAN. Tidak ada hubungannya memang dengan judul di atas, namun semoga janji saya untuk menjelaskan jalan perjuangan ini bisa membuat kita memahami bersama.
Saya sudah kenyang dengan pengalaman setahun menjadi ketua himpunan. Mulai dari ancama Drop Out karena harus bertanggung-jawab atas ulah beberapa oknum yang menyebabkan terjadinya pertikaian antara himpunan saya dengan himpunan teknik elektro di kegiatan wisuda. Sampai yang paling besar adalah tragedi semi final futsal yang tidak akan pernah terlupakan. Semua itu lagi-lagi membuat saya kenyang, bahkan tak ingin lagi rasanya menambah porsi meski hanya untuk sesuap pengalaman.
Rencana selanjutnya adalah memantaskan diri untuk bisa lulus dari tahap sarjana dan selanjutnya melanjutkan mimpi yang kemarin sempat tertunda agendanya -kuliah pasca sarjana. Saya sudah meng-azzam-kan diri untuk tidak terlibat lagi. Titik dan tidak ada alasan lagi, cukup sudah perjuangan saya dengan organisasi mahasiswa. Ekonomi keluarga dan desakan untuk segera lulus menjadi alasan utama. Selain itu rencana hidup mengatakan saya harus fokus di tahun ke 4 ini. Fokus! Itu yang tidak saya dapatkan saat menjabat sebagai ketua himpunan setahun kemarin.
Rencana dan tekad itu masih teguh hingga suatu malam, telepon saya berbunyi. Seperti yang sudah saya duga, ini tidak akan mudah. Salah satu senior di kampus memberi sinyal yang tidak saya inginkan, aktif kembali di politik kampus. Alasan demi alasan terus ia sampaikan, namun di dalam hati azzam itu tetap teguh. Sambil berkata mantap, “Maaf saya sudah punya rencana dengan hidup saya”. Berakhirlah komunikasi malam itu.
Besok malamnya senior lainnya datang, menelpon untuk tujuan yang sama dengan alasan yang agak sedikit lebih menohok hati saya. Entah kenapa untuk senior yang satu ini saya tidak bisa menolak. Meski jurus yang sama sudah saya naikkan tingkat keacuhannya, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi saat kata-kata pamungkas itu keluar. “Silahkan istikharah dulu. Saya gak mau jawabanmu malam ini. besok saja!”
Tahun ke 4, seharusnya saya sedang asyik dengan skripsi dan tugas rancang untuk menyelesaikan beban studi yang tersisa. Seperti yang sudah saya bilang di awal, rencana saya dengan investasi nilai di awal cukup berhasil. Alhasil, di semester 7 tak terlalu banyak beban studi yang harus saya selesaikan. Namun, semester ini lah yang sejujurnya menentukan bagi nasib akademik saya. Tugas Akhir/Skripsi di peminatan saya tidak lazim diselesaikan dalam waktu 1 semester. Jadi, kalau saja saya memilih untuk “manja” dengan keadaan, maka mungkin ceritanya akan lain. Ya, akan lain!
Saya sedang asik dengan memikirkan konsep Move On bersama Ojan dan kawan lainnya. Jawaban yang saya ambil dari telepon malam itu adalah, mengubur (lagi) mimpi itu demi alasan yang tak tentu. Tak tentu karena memang tak ada hubungannya dengan disiplin ilmu, tak tentu karena saya hanya berharap semua yang saya lakukan, kelak Allah lah yang mengganti dengan hal lainnya. Ya, saya ambil keputusan untuk aktif dalam pemilihan raya Badan Eksekutif Mahasiswa.
Sayangnya ini bukan tentang cerita manja karena ingin menumpahkan cerita. Tidak, saya tidak pernah menyesal memilih jalan ini. Bukankah sudah pernah saya bilang sebelumnya. Kalau Allah tidak pernah salah alamat mengantarkan hamba-Nya. Begitupun dengan saya, mahasiswa teknik yang ke-asik-an dengan dunia sosial politk.
Selepas memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan politik kampus di tahun ke 4, maka sejatinya saya telah memutuskan untuk mengambil konsekuensi itu. Lulus tidak tepat waktu! Bagi saya, tidak ada kata setengah dalam berusaha. Sama juga seperti doktrin yang Mas Harris sampaikan di Kantin FTK lalu. Kuliah itu wajib dan setiap mahasiswa harus selesai dengan persoalan itu. Sedang organisasi itu pilihan, tapi kalau kamu masuk di dalamnya. Maka tidak ada pilihan kecuali totalitas!
Garis pembeda, sengaja saya sampaikan dalam tulisan ini untuk mereka yang masih bimbang dengan hidup mereka. Kadang tidak semua yang indah menurut orang banyak, juga indah untuk kita. Kadang yang ideal itu tidak selalu cocok untuk kita. Kadang yang manis pun tidak selalu klop dengan semut yang mencarinya. Satu hal yang perlu kita semua ingat, kita hanya bisa berencana, Tetap Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa-lah yang mampu menentukan hasilnya.
Jalan (mahasiswa) itu jalan yang penuh onak dan duri. Bukan untuk bermain-main apalagi dipilih lantaran alasan ketidak sukaan pada satu pihak! Sekali lagi tidak! Maka kalau kita tercelup di dalamnya, satu-satunya alasan adalah kita lakukan karena mengharap Ridha-Nya, bukan lagi karena imbal manusia apalagi pamrih dari mereka, Juga ingat, di garis pembeda ini kita akan terlihat beda seperti namanya. Siapa yang mampu menjalankan perannya maka akan ‘bahagia’, namun kalau bermain dengannya bukan hanya citra diri pribadi, nama besar “keluarga” juga sedang di-pertaruh-kan disana!
@panduheru
#15
ajari aku cara untuk membedakan kita
0:28 01/02/2014

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming