Lagi kesel banget sama netizen. Kenapa ya orang gampang banget nyinyir kekurangan orang lain? Hanya karena orang lain ini nggak bisa melakukan pekerjaan sederhana. (Baca: masak nasi dan mie)
Bukannya setiap orang juga punya kekurangan, ya? Bukan berarti karena semua orang bisa masak nasi dan mie, lalu dia nggak bisa, lantas kamu boleh nyinyir dia.
Bukan berarti karena satu kekurangan dia, kamu jadi gelap mata dan nggak mengakui kelebihan dia yang lainnya.
Walaupun aku perempuan, tetap ada tuh pekerjaan rumah yang aku nggak bisa lakukan. Karena apa? Karena mungkin aku nggak pernah ada di kondisi untuk melakukan pekerjaan itu makanya aku nggak bisa. Sampai suatu saat nanti mungkin aku bisa karena tuntutan hidup. Masih ada kesempatan belajar, kan? Masih ada kesempatan untuk berubah, kan?
Nah, kenapa orang ini nggak bisa melakukan hal sesepele itu? Jawabannya mungkin sama sepertiku. Ya mungkin karena lingkungan dia yang bikin dia nggak pernah ada di kondisi melakukan itu makanya dia nggak bisa. Ini aku sedang ngomongin privilege juga, ya. I mean, mungkin di dalam hidupnya, dia dapat rejeki berupa selalu punya orang-orang baik yang membantu dia dalam melakukan berbagai hal yang dianggap sepele—oleh banyak orang.
Santai aja, coba deh pikirin juga. Mungkin ada juga tuh hal—utamanya ini ngomongin soal pekerjaan rumah yang kamu nggak bisa lakukan. InsyaaAllah ada, hahahahaha. Ya masa apa-apanya serba bisa, gimana hidupnya mau dilengkapi sama orang lain, ea.
Ini juga bukti bahwa manusia nggak ada yang sempurna. Kalau apa-apa bisa, bukankah nanti akan terlihat terlalu sempurna untuk menjadi seorang manusia?
Untuk siapapun yang suka nyinyir, andai kata dia baca nyinyiran kalian dan sakit hati, emangnya bisa kalian minta maaf ke dia? :')
Asli, sakit kepalaku kambuh baca segala jenis nyinyiran. Gimana kalau aku jadi dia yang dinyinyirin seantero media sosial, ya? Duh.
Bandung, 11 Juli 2020 | 18.21 | @wedangrondehangat