"Sungguh rasa ini membahagiakanku sekaligus menyiksaku" —Aldilla Dharma
Awalnya kita sering ketemuan, mengerjakan tugas kuliah bersama-sama. Seiring berjalannya waktu, ada rasa tak terjelaskan. Aku mulai menyimpan rasa padamu. Ingin terus melihatmu, ingin menyapamu, bahkan ingin menarik perhatianmu. Namun, semua itu hanya angan-anganku. Tak berani kulakukan semua itu. Tugas akhir semester semakin bertambah. Mau tak mau setiap hari kita harus bertemu. Rasa inipun semakin tak goyah. Perasaan ini mendorongku untuk mendekatimu. Aku galau. Tugas kuliah banyak dan rasa ini semakin tak karuan. Apa ini yang dinamakan cinta? Apa yang harus kulakukan yaa Allah? Kenapa sulit sekali menghadapi ini. Seketika Aku teringat dengan hadits yang pernah kubaca.
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)
Aku merenung sejenak.
Ini bukan cinta, ini zina. Setan menghasutku untuk terperdaya olehnya. Setan ingin menjerumuskanku ke dalam dosa ini. Akhirnya, aku memperbanyak istighfar. Cinta ini adalah salah satu ujian untukku. Ujian agar tidak terjerumus pada hal-hal tak wajar. Aku harus fokus pada masa depanku. Mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang mampu menghadapi tantangan dunia yang semu ini.














