Belajar Jadi Dokter (Part 1)
A: Bisa dimaknai macam-macam, yang jelas dokter itu buat saya 'to cure sometimes, to relieve often, and to comfort always'.
Prinsip yang kedengerannya klise ini justru saya nikmatin banget sewaktu saya udah praktik. Memang enggak semua, tapi ada banyak pasien-pasien yang ketika saya bisa 'menyamankan' mereka dan menghilangkan kekhawatiran mereka soal penyakit mereka, seketika badannya jadi sehat. Karena tugas kami memang membuat kalian nyaman, bayangkan kalau kalian bingung sakit apa dan terus dokternya panik. Makin stress lah itu pasien.
Dokter itu juga makhluk yang diwajibkan untuk menjadi sangat sensitif, sensitif sama sekelilingnya. Bukan cuma sama orang sakit. Makanya enggak heran kalo kalian lihat di cerita-cerita sejarah, banyak dokter (bukan cuma di Indonesia) itu jadi roda-roda pergerakan ketika suatu negara masih berjuang melawan penajajahan.
Kami dibentuk untuk menjadi orang yang sensitif, sekaligus bisa 'mematikan' hati kita. Di satu waktu kami harus peka dengan pasien, masyarakat, dan lingkungan. Tapi di satu waktu kami dipaksa memilih menyelamatkan satu dari dua nyawa (misalnya) karena keterbatasan sumber daya.
Q: Menjadi dokter itu seperti apa?
A: Menjadi dokter itu artinya siap belajar untuk orang lain, siap mengalihkan waktu kita untuk orang lain, dan siap untuk menjalankan profesi yang enggak ada jam kerjanya.
Di tahun kedua saya kuliah kedokteran, saya diingatkan dan memang 'oh iya ya'. Dokter itu salah satu dari sedikit, dan barangkali satu-satunya ya profesi yang bahkan diluar rumah sakit orang-orang masih manggil kita 'dok'.
Dokter itu profesi dimana kalau kita lihat kecelakaan di jalan, atau orang yang tiba-tiba kolaps di depan mata kita, sekalipun itu di luar rumah sakit, kita wajib menolong mereka. Dengan ataupun tanpa dorongan moral.
Q: Berapa bayaran terbesar jadi dokter?
A: Uang memang kadang menjadi dorongan buat manusia terus hidup. Toh setidaknya itu yang barangkali dipikirkan oleh orang-orang awam, melihat dokter dengan tarifnya yang kadang selangit.
Tapi itu yang kelihatan, percaya enggak masih banyak dokter-dokter di Indonesia itu yang underpaid, dan sayangnya enggak kelihatan. Jadi gak menarik lagi ceritanya kalau diangkat.
Bayaran terbesar kami itu kalau pasien yang kami obatin sembuh, atau minimal membaik. Klise? Coba sehari duduk bareng lihat apa yang kita kerjain dalam sehari, atau minimal jadi dokter sehari dan ketika kamu bergaul sama pasien dengan berbagai macam latar belakang seringnya perasaan macem itu akan tumbuh secara otomatis.
Ketemu pasien dengan berbagai macam 'keluguannya' dan berbagai macam keterbatasan mereka. Buat saya privilege menjadi dokter itu luar biasa besar, profesi apalagi di muka bumi ini yang dibayar untuk 'grepe-grepe' untuk pegang-pegang tubuh si pembayarnya, dan untuk buka-buka perut si pembayarnya. Jahat juga sih kalau udah diberikan kepercayaan yang begitu besar, tapi dorongannya cuma uang. Mungkin ada, tapi saya yakin sih itu oknumnya oknum alias cuma sedikit.
Kalau mau berpikir lebih dalam sih, uang-uang yang dibayarkan itu malah jadi 'bonus' aja pada akhirnya. Karena toh saya ngalamin sendiri, ketika satu waktu saya pernah (alhamdulillah dengan bantuan Allah tentunya), ngobatin ibu ibu dan menyarankan orang tersebut suatu tindakan yang ternyata menyelamatkan nyawa dia. Berbulan-bulan kemudian dia datang lagi sama anaknya berobat, dan saya sendiri udah lupa sama dia. Tapi dengan muka bahagianya si ibu bilang makasih karena saran saya dia selamat (seenggaknya itu menurut spesialis yang saya tunjuk dia untuk dirujuk kesana). Pernah rasain kayak gitu? Nah cobain deh, biar apa yang saya bilang ini enggak lagi jadi klise