Sepertinya Memang Demikian
Apa yang kau lakukan semalam telah membuatku linglung layaknya manusia yang hilang kendali dan arah. Kau mengembalikan keadaan yang kualami tepat setahun yang lalu pada hari ini. Malam itu aku sadar semua kesalahanku tak akan pernah bisa ditebus bahkan setelah setahun lebih aku berkutat hanya pada rasa kehilangan dan pencarian angan-anganku. Kau tak pernah merasa bahwa itu sulit, bukan? Aku tahu memang semua ini terlalu mudah untuk kau alami, untuk kau ceritakan, untuk kau rasakan sehingga kau dengan mudahnya menimpakan itu semua padaku.
Sudahlah, Cheery. Aku pernah berharap dan mungkin akan terus menjadi orang bodoh yang menulis tumblr ini. Bahkan aku tahu, kau tak akan berubah kendatipun kau mengetahui tulisan ini sekalipun. Kau tak akan berubah oleh satu tulisan dari seseorang yang mencintaimu dengan dalam dan tak pernah berubah hingga tulisan ini dibuat.
Terima kasih telah memaafkan kesalahanku. Memang semua kejadian yang berlalu merupakan kesalahanku dan aku layak menerimanya. Kau percayai semua cerita-cerita karangan yang kau anggap benar sehingga pandanganmu terhadapku masih saja tak berubah. Apa kau tahu jika semenjak kepergianmu itu, rasa sepi yang selalu aku nikmati dan renungi setiap waktu? Dan kenapa kau tak pernah tahu? Dan kenapa kau masih perlu pembuktian? Dan kenapa kau masih berpikir bahwa aku sakit hati hanya karena malam itu? Sesempit itukah pandanganmu?
Bahkan siang dan malam aku masih saja ingin menulis, disertai dengan harapan kosong bahwa yang diharap akan datang menjemputku dengan mata yang berbinar-binar. Itu semua hanya angan-anganku yang kosong. Semua itu hanyalah ilusi yang membuatku semakin sakit, semakin sakit lagi ketika mengetahui bahwa kau terus membohongiku dengan sandiwaramy dulu dan berkata kau tak pernah bisa memahamiku. Terlalu banyak cerita yang kusimpan sendiri. Aku merasa kau tak pantas mendengarnya karena kau tak akan pernah mempercayaiku. Terlalu banyak orang yang aku percaya kendatipun dia menusukku dengan hasutan yang kejam.
Malam kemarin kembali, dan aku benar-benar kembali seperti mengejek perjuanganku sendiri dan menertawakan diriku. Untuk apa aku selama ini mengharapkanmu, kehilangan yang terlalu kurasa dan kau tak pernah mengharapkanku. Untuk apa aku selalu setia mengenangmu, memberi tempat untukmu, menanti kabarmu, mendengar ceritamu. Ketahuilah bahwa aku tak bermaksud untuk diam saja dalam percakapan itu. Kau tahu? Ketika aku semakin mendengar ceritamu, semakin aku mengetahui bahwa perjuanganku selama ini sia-sia, kau tak perlu mengetahui kesulitanku yang kualami bertubi-tubi hingga membentukku menjadi seperti ini.
Kau tahu? Sulit menjadi aku dan kau tak akan tahu bahwa aku sulit mempercayai orang terutama wanita semenjak setahun yang lalu.
Makassar, 12 Desember 2016
Teruntuk kau yang tak pernah mengharapkanku,