Obrolan Warung Kopi - Episode 4
"Gue udh baca semuanya," begitu katanya.
Setengah penasaran, setengah tersanjung aku bertanya balik,
"Udah baca yang mana aja?"
"Semua? Kan tulisannya banyak banget,"
"Ya, semuanya sampai yang sebelum Shelter. Yang ada pertemuan kedua keluarga tapi batal. Gue juga nyesuaiin sama timeline yg ada,"
Ooh, cuma sampai tulisan berjudul Bingung, kataku dalam hati. "Itusih gak semuanya, bahkan masih permukaan aja," responku selanjutnya.
Hari ini, obrolan kami seputar menjawab beberapa pertanyaan yang memperjelas frekuensi dan ekspektasi.
Sama seperti kalau kamu mendengarkan radio, kalau gelombangnya gak persis sama, pasti ada suara kresek kresek kan? Suara penyiar di seberang sana akan terdengar jelas dan bersih kalau setelan gelombangnya tepat, misalnya 102,2 FM untuk Prambors Jabodetabek (bukan iklan ya, hehe). Makin tepat frekuensinya, makin sedikit noise (gangguan kresek kresek)-nya. Sebaliknya, kalau salah setel frekuensi, bisa bisa malah nyambung ke channel lain yang artinya mispersepsi, miskom.
Tanpa diminta, di obrolan kali ini aku juga cukup impressed dengan kemampuannya membaca diri ini, hanya dengan beberapa kali interaksi.
Kayaknya lo terlalu sering nge-judge dan menyalahkan diri sendiri, padahal lo sebenarnya seberharga itu.
Based on buku yang gue baca, seseorang itu dibentuk hanya dari 3 hal yaitu rumahnya, lingkungannya, dan pendidikannya. Jadi, ya mungkin ada sesuatu dari salah satu atau lebih 3 hal tersebut yang membentuk lo jadi seperti ini. Bukan apa apa, hanya aja lo belum selesai dengan sesuatu hal itu, makanya lo terlalu sering merasa diri lo gak berharga.
Parahnya lagi, secara gak sadar lo bisa jadi 'membebankan' hal tersebut ke orang lain karena pertahanan yang paling baik adalah dengan menyerang, bukan?
Yeah, I admit it he is right. Tumben kan ada kondisi dimana "woman is always right" gak berlaku haha.
Satu poin menarik lainnya, dia bisa memberikan sebuah offer yang tepat, padahal offer itu sejauh ini hanya ada di pikiran ku aja. Offer yang pada akhirnya menghasilkan win-win solution antara kami. What a good move!
Sekali lagi, ngobrol sama orang ini effortless dan syukurlah dia juga begitu, entah karena dia hanya mencopy apa yang kurasakan atau memang sejak awal dia merasa begitu.