seen from Jamaica
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Russia

seen from India
seen from Malaysia
seen from India

seen from United States

seen from Italy

seen from Italy

seen from India
seen from United States

seen from Canada
seen from China
seen from Spain
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Spain

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dua Rasa Gagal
Omong-omong soal gagal, setiap orang mungkin pernah merasakannya dalam hidup. Kegagalan dan keberhasilan adalah sebuah keniscayaan, akan selalu beriringan. Namun, akhir-akhir ini aku mencoba merasakan kembali tentang dua rasa gagal yang pernah kuhadapi.
Menurutku, ada dua versi gagal dalam hidup; gagal sebelum bertempur dan gagal setelah berjuang mati-matian.
1. Gagal Sebelum Bertempur: Ini adalah kegagalan yang menyakitkan karena kita belum sempat mengecap sebuah perjuangan. Kegagalan versi ini bisa dianalogikan seperti seorang petani yang hendak menanam pohon langka. Sebelum menanam benihnya, kita sudah membayangkan segala macam kemungkinan yang bisa terjadi. Kita takut pohon itu tidak akan tumbuh, takut tanahnya tidak subur atau bahkan takut musim hujan tak datang tepat waktu. Akhirnya, karena terlalu banyak ketakutan dan keraguan, kita tidak menanamnya sama sekali. Pohon itu tetap hanya ada dalam pikiran, belum pernah ada kesempatan untuk tumbuh. Lalu tahukah part paling menyiksa?
Perasaan paling menyiksa adalah ketika kita tahu bahwa orang lain yang memiliki potensi yang sama atau bahkan jauh di bawah kita bisa berhasil menanam pohon yang sama. Akhirnya yang tersisa hanya bising dalam kepala, bertanya-tanya soal, "bagaimana jika aku bisa melakukannya?", "mengapa aku membuang kesempatan ini?", atau "mengapa aku tidak cukup berani?".
Ini adalah kegagalan yang menyisakan banyak 'kalau' dan 'bagaimana jika'.
2. Gagal Setelah Bertempur Mati-Matian: Kegagalan ini juga tetap menyakitkan, namun kita telah mengetahui di mana letak kesalahan dan kealpaannya setelah mengecap pertempuran serta perjuangan. Berbeda dengan kegagalan karena menyepelekan kesempatan, kegagalan ini bisa dianalogikan seperti seorang pemain catur yang telah berlatih bertahun-tahun untuk menguasai setiap strategi. Kita mengatur langkah-langkah dengan cermat, berpikir ribuan langkah ke depan dan melawan lawan yang sangat tangguh. Namun, setelah berjuang mati-matian, kita akhirnya kalah hanya karena satu kesalahan kecil yang tidak diperhitungkan di akhir permainan. Namun tahukah kamu apa yang menyebabkan kegagalan ini tak se-dramatis kegagalan yang pertama? karena kegagalan ini didasarkan atas perjuangan keras. Setidaknya, kita tak pernah merasakan penyesalan karena enggan mencoba. Kita bisa mengoreksi kesalahan, kita bisa mengulanginya lagi hingga menghasilkan yang terbaik. Tidak ada bayang-bayang; 'bagaimana jika...', 'ah andai aku mencoba dari awal'
Aku menulis soal kegagalan ini atas dasar pengalaman pribadi. Aku berharap, teman-teman tidak pernah takut untuk merasa gagal dan terus belajar serta berjuang. Sungguh, sangat menyakitkan rasanya ketika kita tahu bahwa kegagalan itu bukan berasal dari faktor eksternal. Sungguh, sangat menyiksa ketika kita tahu bahwa sebenarnya kita bisa namun akhirnya keberhasilan itu diambil alih oleh orang lain yang setara. Tanpa mengesampingkan faktor rejeki dan takdir, aku tetap ingin teman-teman tahu bahwa perasaan takut gagal itulah yang akan menghambat kita untuk sukses. Ketakutan akan gagal akan menjadi momok hingga kita menyabotase potensi diri tanpa sisa lalu tak pernah menjadi apa-apa.
Jika kita secara terang masih diberi kesempatan untuk mencoba, please jangan abaikan. Maju dan cobalah dengan sekuat tenaga. Tanpa mencoba, kita tidak akan bisa mengukur kemampuan. Tanpa mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana rasa manis kebehasilan. Tanpa mencoba, kita hanya akan menjadi orang yang tak tahu apa-apa.
Jadi, selamat mencoba!
—Maynuverse
Kepada Diriku di Masa Depan
Malam ini, rintik hujan merangkai irama yang mengiringi pikiranku. Udara dingin menyelinap, menciptakan suasana yang tenang namun sarat perenungan. Di tengah bisingnya kehidupan para mahasiswi di asrama, aku mencoba menulis sesuatu untukmu—diriku di masa depan. Aku ingin percaya bahwa saat kamu membaca ini, kamu adalah versi diriku yang telah berkembang lebih baik.
Namun, di sini dan saat ini, aku masih seorang mahasiswi yang bergulat dengan pikiran tentang kuliah dan masa depan. Hari-hariku dipenuhi oleh ketidakpastian. Aku sering menghibur diri dengan menonton video motivasi, berharap mendapatkan sedikit dorongan semangat. Anehnya, dorongan itu hanya bertahan sebentar, seolah lenyap begitu layar laptop ditutup.
Aku sadar, masalah utamanya ada padaku. Aku kerap terjebak dalam lingkaran yang sama: mengulang kesalahan tanpa pernah benar-benar belajar darinya. Berkali-kali aku bertekad, namun berkali-kali pula aku gagal. Rasanya lelah, sangat lelah. Tapi anehnya, aku tetap mencoba—entah karena harapan, kebodohan, atau hanya ketakutan untuk berhenti.
Kini, hanya 15 hari tersisa sebelum ujian akhir semester. Aku dikejar tugas, terutama tugas Balaghah yang menumpuk seolah menjadi batu ujian bagi semangatku. Malam ini, aku mencoba melawan lagi. Melawan kemalasan yang tak henti-hentinya merayu untuk menyerah.
Di luar perjuanganku, asrama ini punya ceritanya sendiri. Laron-laron beterbangan, membanjiri lampu-lampu yang mereka kira adalah rembulan. Di lantai, mereka berkumpul tanpa arah, seperti aku yang kadang tersesat dalam tujuan. Aku hanya bisa menatap mereka, bertanya-tanya apa yang sedang mereka pikirkan. Tapi aku manusia biasa, bukan Nabi Sulaiman yang mampu memahami bahasa mereka.
Masjid yang tadi menjadi tempatku bersujud pun seakan ikut bicara. Lampunya dipadamkan, seolah tak mau lagi dianggap rembulan oleh laron-laron itu. Aku tertawa kecil, memikirkan betapa miripnya aku dengan mereka—kadang salah menangkap cahaya, salah menafsirkan arah.
Tapi meski sering salah, malam ini aku mencoba lagi. Aku berharap, ketika kamu di masa depan membaca ini, kamu bisa tersenyum dan berkata bahwa semua usaha ini tidak sia-sia. Bahwa semua malam penuh perjuangan ini adalah langkah kecil menuju dirimu yang sekarang—diriku yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijak.
Tetaplah berjuang, aku di masa depan. Karena aku di masa kini, tak pernah berhenti mencobanya.
Ular Tangga Hidup
Pernah main ular tangga? Sebuah permainan klasik dengan dadu di mana kita harus melewati berbagai rintangan untuk mencapai tujuan. Ketika bermain dan berulang kali terkena ular, apakah Anda termasuk tipe yang santai atau gampang ngambek?
Manusia biasanya senang berencana dan berangan. Sebelum umur 30, aku ingin... Sebelum umur 40, aku ingin... Kalimat-kalimat ini sangat lazim dalam sebuah rencana masa depan. Namun, realita sering menyuguhkan hal yang berbeda. Apa yang kita tata dan usahakan dengan sedemikian rupa seringkali berujung kecewa.
Saya setuju bahwa hidup itu serius, pilihan dan keputusan yang perlu diambil juga sulit. Tapi mungkin kita terlalu keras. Gagal beberapa kali, penghakiman yang kejam datang dari sekitar dan juga diri sendiri: Kamu kalah! Memalukan! Tidak pelu mencoba lagi!
Padahal, kadang-kadang merencanakan masa depan itu seperti bermain ular tangga. Ada pemain yang ingin buru-buru menang, sukses mencapai finish. Biasanya ia tipe yang mudah jengkel ketika berkali-kali terkena ular. Apalagi kalau ditertawakan dan diejek teman-temannya, pasti bete dan tidak mau main lagi. Tapi ada juga yang santai. Melorot terus, tapi tetap tersenyum sambil optimis memberi jampi-jampi pada dadu agar pas mendapatkan tangga.
Sekarang coba tengok rencana masa depan masing-masing. Ada berapa banyak hal yang belum tercapai? Lalu, apa yang terjadi?
Tidak ada.
Kita sebetulnya tidak kenapa-kenapa. Mungkin belum sukses menurut takaran kita, tapi baik-baik saja. Masih hidup, bernapas, dan bisa berjuang terus. Lalu kenapa harus sekeras itu pada diri sendiri?
Mungkin kita belum beruntung dalam melempar dadu.
Mungkin kita perlu melihat hidup dengan sedikit lebih santai dan bercanda.
Tentu bedanya dalam permainan ini nasib kita ditentukan dadu, sedangkan di kehidupan sungguhan selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari semua 'ular' yang pernah menjatuhkan.
Hidup selalu datang dengan kejutan. Mungkin bisnis kita tiba-tiba mandek, pasangan selingkuh, pekerjaan tidak sesuai harapan, orang terkasih meninggal, apapun bisa terjadi. Sudah melangkah hati-hati sekalipun, kita bisa terjatuh.
Jika saat ini Anda merasa gagal, stuck, atau tidak tahu harus melakukan apa, mungkin Anda sedang jatuh terkena ular. Ketika orang-orang di sekitar sukses dan Anda masih gitu-gitu aja, mungkin di ronde ini mereka yang sedang mendekati finish. Peran Anda sekarang adalah bertepuk tangan, ikut merayakan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain. Saat tiba-tiba Anda mendapatkan bantuan tak terduga, mungkin itu adalah tangga keberuntungan. Roda terus berputar, kesempatan kita akan datang pada waktunya.
Tanpa perlu membanding-bandingkan, kita nikmati saja permainan ular tangga kehidupan ini. Syukuri setiap tangga dan ambil hikmah dari setiap ular. Daripada bersungut-sungut, bukankah lebih seru bermain ular tangga sambil tertawa?
Mengambil Peran Utama
Di penghujung hari aku memandang langit warna jingga nan mempesona.Menunggu matahari untuk mengakhiri tugasnya. Sambil menyeruput teh hangat yang telah aku pisahkan dengan gula. Kawan-ku datang lantas berkata :
“Bila akhir dari sebuah kisah berujung gundah dan hampa, aku tidak mau menjadi peran utama dalam cerita tersebut. Toh, berpikir waras saja siapa juga yang mau berakhir dengan kecewa.Lebih baik menjadi penonton yang bisa menikmati jalannya dari kisah tersebut.”
“Oohh… Iyaa, benar juga.” Ucapku kepadanya.
Aku katakan “Ya” kepada kawan di samping—ku ini. Namun pikiran-ku justru berbenturan di kepala-ku. Pertanyaannya adalah apakah semua film berakhir dengan kekecewaan? Jawabannya adalah tidak mungkin menurutmu juga tidak.
Pertanyaan selanjutnya bagaimana kita bisa mengetahui akhir dari sebuah kisah? Jawabannya terlibat dalam cerita tersebut. Entah menjadi penonton, figuran atau peran utama. Mungkin jawabanmu sama sepertiku.
Tapi, maksudku begini. Jika kita mengambil peran menjadi penonton maka hasil akhir yang didapatkan adalah kita hanya bisa melihat saudara, kerabat, serta teman dekat kita yang telah menggapai cita-cita yang mereka impikan sejak lama. Aku yakin dalam kisahnya mereka harus menerjang ombak deras atau batu yang besar. Tapi, toh mereka bisa melaluinya dengan kesabaran. Kata pepatah “Kalo mereka bisa, kenapa kita tidak?”
Maka pertanyaan selanjutnya mengapa kita tidak mencoba mengambil peran utama? Mencoba hal-hal yang berwarna. Keluar dari sebuah zona. Zona nyaman yang membuat kita berdiam di digit yang sama. Bila hasil yang didapatkan adalah gelisah dan kecewa, jangan berhenti. Teruslah mencoba.
Bukankah kegagalan berawal dari keberhasilan? Bukankah kegagalan bisa kita jadikan pelajaran?
Gagal bukan berarti berhenti. Tapi sejenak untuk menepi. Hingga ketika engkau berjalan kembali. Kau tidak tersandung lagi.
Aku menemukan sebuah tulisan namun entah milik siapa : Kegagalan hanya bersifat sementara. Belajarlah dari kegagalan tersebut agar bisa bangkit kembali untuk meraih mimpi mimpimu. Rancaekek, dan aku masih di digit yang sama.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Saya mencoba untuk tenang.
masih baru di aplks tumblr. mirip2 twttr sihh .. oke jugaa . pilihan fontnyaa mcm2 .. mencoba nyaman 😌
Memulai
Terkadang kita harus mencoba sesuatu hal yang baru dengan tantangan dan kegiatan yang memang belum pernah kita coba sebelumnya. Memang tak mudah bagi seseorang untuk mencoba hal tersebut tapi apakah akan tetap terus di tempat yang sama jika ada jalan untuk hal baru? Mulailah segala sesuatu itu, ambil dan jalanilah hingga kamu kembali merasa nyaman dengan hal tersebut. Jangan pernah kamu takut memulai, Jangan pernah kamu takut akan Gagal. Karena Memulai dan Gagal adalah satu kesatuan yang akan terjadi. Jika kamu tidak pernah memulai, kamu tidak pernah tau apa itu gagal. Do what you want to do! Jangan sampai kamu malah menyesal tidak pernah memulai atau melakukan hal baru itu. Semangat dan Selamat Mencoba