Bab 1 — Anak Laki-Laki yang Mengumpulkan Kutipan
Luke selalu merasa hidupnya berjalan terlalu pelan.
Bukan karena hari-harinya buruk, tetapi karena semuanya terasa biasa saja. Ia adalah anak laki-laki yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Di kamarnya terdapat buku-buku dengan halaman yang dilipat, tiket bioskop yang disimpan di dalam laci, dan potongan-potongan kalimat yang ia tulis di kertas kecil lalu ditempel di dinding.
Bukan karena terdengar pintar, melainkan karena kadang orang lain berhasil mengucapkan sesuatu yang selama ini tidak bisa ia jelaskan.
Suatu sore, sebelum tahun ajaran baru dimulai, Luke duduk sendirian di halaman asrama. Angin berembus pelan, membawa bau tanah yang baru terkena hujan. Di kejauhan terdengar suara orang-orang yang sedang memindahkan barang ke kamar masing-masing.
Luke membuka sebuah buku tua yang sudah beberapa kali ia baca.
Namun ia tidak benar-benar membaca.
Ia hanya memandang halaman yang sama selama beberapa menit.
Ia sedang memikirkan hidupnya.
Tentang kenapa ia datang ke tempat itu.
Tentang apakah seseorang benar-benar bisa memulai hidup yang baru.
Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakang.
Perempuan: “Kamu baca bukunya atau cuma menatapnya?”
Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin. Jaketnya terlalu besar untuk tubuhnya. Di tangan kirinya ada segelas kopi dingin yang hampir habis.
Luke: “Dua-duanya mungkin.”
Gadis itu duduk tanpa meminta izin.
Perempuan: “Buku yang bagus biasanya nggak dibaca terlalu cepat.”
Luke: “Kamu pernah baca?”
Luke: “Terus gimana tahu itu buku bagus?”
Perempuan itu mengangkat bahu.
Perempuan: “Karena kamu kelihatan sedih waktu membacanya.”
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Angin sore berembus melewati pepohonan.
Di lapangan, beberapa siswa sedang bermain bola.
Di atas mereka, langit perlahan berubah warna.
Luke akhirnya mengulurkan tangan.
Gadis itu menatap tangannya beberapa saat sebelum menjabatnya.
Lia: “Sebenarnya jangan panggil aku Lia.”
Gadis itu memandang langit.
Seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
Lia: “Aku lebih suka dipanggil Sunday.”
Hanya senyum kecil yang muncul sebentar lalu hilang.
Sunday: “Karena hari Minggu selalu terasa singkat.”
Luke menunggu ia melanjutkan.
Sunday: “Orang-orang menyukai hari Minggu. Tapi mereka juga takut ketika hari itu selesai.”
Luke: “Kamu takut hari Senin?”
Sunday: “Aku takut semuanya harus dimulai lagi.”
Luke tidak sepenuhnya memahami maksudnya.
Namun entah kenapa ia mengingat kalimat itu.
Mungkin karena Sunday mengucapkannya seolah ia sudah memikirkannya selama bertahun-tahun.
Bab 2 — Orang yang Selalu Berjalan Lebih Dulu
Beberapa minggu kemudian, Luke mulai mengenal Sunday.
Atau setidaknya mencoba mengenalnya.
Sunday selalu berjalan sedikit lebih cepat daripada orang lain.
Saat menuju kelas, ia akan berada beberapa langkah di depan.
Saat pulang, ia sering berhenti mendadak hanya untuk memperhatikan sesuatu yang tidak diperhatikan orang lain.
Seekor kucing di bawah mobil.
Lampu jalan yang berkedip.
Daun yang jatuh ke genangan air.
Suatu sore mereka berjalan menuju kantin.
Sunday tiba-tiba berhenti.
Sunday menunjuk ke arah langit.
Luke: “Kenapa memangnya?”
Sunday: “Nggak tahu. Aku cuma suka mengingat bentuk awan.”
Sunday: “Karena besok bentuknya pasti berubah.”
Ia mulai sadar bahwa Sunday adalah orang yang takut kehilangan sesuatu.
Bahkan sesuatu yang belum tentu penting.
Di kantin mereka duduk berhadapan.
Sunday memainkan sedotan minumannya.
Sunday: “Menurutmu orang bisa benar-benar mengenal orang lain?”
Sunday: “Aku nggak percaya.”
Sunday: “Karena semua orang selalu menyimpan satu ruangan yang nggak boleh dimasuki siapa-siapa.”
Ia hanya memperhatikan bagaimana Sunday berbicara.
Kadang suaranya terdengar sangat yakin.
Kadang terdengar seperti seseorang yang sedang meminta tolong.
Malam itu listrik di asrama padam.
Beberapa siswa keluar kamar.
Ada yang menyalakan senter.
Ada yang duduk di lorong sambil bercerita.
Luke menemukan Sunday duduk sendirian di tangga menuju atap.
Sunday: “Aku lagi cari tempat yang nggak berisik.”
Kota terlihat kecil dari sana.
Lampu-lampu rumah menyala seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Angin malam terasa dingin.
Mereka duduk berdampingan.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Kemudian Sunday berbicara.
Sunday: “Kamu pernah menyesal?”
Sunday: “Yang paling besar?”
Luke berpikir cukup lama.
Luke: “Aku terlalu sering takut mencoba sesuatu.”
Kemudian ia bertanya lagi.
Sunday: “Kalau bisa mengulang hidup, kamu mau mengubah apa?”
Seolah jawaban itu berada jauh di atas sana.
Sunday: “Aku mau memperbaiki beberapa orang.”
Sunday: “Dan diriku sendiri.”
Luke tidak bertanya lebih jauh.
Ia merasa beberapa jawaban tidak perlu dipaksa keluar.
Kadang seseorang hanya ingin didengar.
Suatu sore hujan turun deras.
Kelas dibubarkan lebih awal.
Semua orang berlari menuju gedung.
Namun Sunday justru berjalan pelan di tengah hujan.
Sunday: “Hujan nggak pernah bikin aku sakit.”
Luke: “Terus apa yang bikin?”
Air hujan membasahi rambutnya.
Untuk pertama kalinya, matanya terlihat sangat lelah.
Mereka berdiri di tengah hujan.
Mobil-mobil lewat perlahan.
Air mengalir di pinggir jalan.
Sunday mengusap wajahnya.
Sulit mengetahui apakah yang jatuh dari pipinya adalah hujan atau air mata.
Luke: “Kamu baik-baik saja?”
Sunday: “Kalau aku bilang iya, kamu percaya?”
Sunday: “Karena kadang aku juga nggak percaya sama jawabanku sendiri.”
Malam itu hujan sudah berhenti.
Air masih menetes dari atap gedung. Jalanan di halaman asrama memantulkan cahaya lampu yang redup. Sebagian besar siswa sudah kembali ke kamar masing-masing. Hanya suara kipas tua di lorong dan sesekali bunyi jangkrik yang terdengar.
Jam digital di mejanya menunjukkan pukul 01.17.
Ia membuka buku yang sama yang beberapa minggu lalu ia baca di halaman asrama, tetapi pikirannya kembali menuju percakapannya dengan Sunday di tengah hujan.
Ia masih memikirkan jawaban itu.
Pintu kamarnya diketuk dua kali.
Sunday berdiri di sana memakai jaket abu-abu yang kebesaran. Rambutnya masih sedikit lembap. Di tangannya ada dua gelas kopi instan.
Sunday: “Kalau nggak bisa tidur, biasanya kamu ngapain?”
Sunday mengangkat salah satu gelas.
Sunday: “Kalau aku jalan.”
Luke: “Ini jam satu pagi.”
Sunday: “Justru itu alasan yang bagus.”
Mereka berjalan melewati koridor yang sepi.
Lampu-lampu sebagian sudah dimatikan. Angin malam terasa dingin setelah hujan. Sepatu mereka menginjak genangan air kecil yang tersisa di jalan.
Sunday memang sering begitu.
Ia berjalan seolah tempat yang dituju bukanlah sesuatu yang penting.
Di dekat lapangan, Sunday berhenti.
Ia duduk di tribun yang basah.
Mereka meminum kopi yang rasanya terlalu manis.
Luke: “Kamu sering nggak bisa tidur?”
Sunday memandang lapangan kosong.
Angin membuat rambutnya bergerak pelan.
Sunday: “Karena malam terlalu jujur.”
Sunday memainkan gelas kopinya.
Sunday: “Siang hari itu ramai. Banyak orang. Banyak suara. Kita bisa pura-pura baik-baik saja.”
Sunday: “Malam nggak kasih tempat buat sembunyi.”
Luke tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa kalimat Sunday selalu terdengar seperti puisi.
Tetapi di baliknya ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Sesuatu yang terasa sedih.
Bab 6 — Hal-Hal yang Tidak Pernah Diceritakan
Keesokan harinya Sunday tidak masuk kelas.
Guru hanya melanjutkan pelajaran seperti biasa.
Teman-teman mereka menganggap itu hal biasa.
Namun Luke terus melihat ke kursi itu.
Saat makan siang, Sunday juga tidak muncul.
Sore harinya Luke menemukan Sunday duduk di belakang perpustakaan.
Tempat itu jarang didatangi orang.
Ada pohon besar yang membuat halaman kecil itu selalu teduh.
Sunday sedang mendengarkan musik menggunakan earphone.
Ia melepas salah satunya ketika melihat Luke.
Sunday: “Kamu nyari aku?”
Luke duduk di sampingnya.
Luke: “Aku kira kamu sakit.”
Sunday: “Aku cuma capek.”
Ia tidak langsung menjawab.
Daun-daun bergerak karena angin.
Suara kelas olahraga terdengar samar dari kejauhan.
Sunday: “Pernah nggak kamu merasa semuanya berjalan, tapi kamu nggak ikut bergerak?”
Sunday memeluk kedua lututnya.
Sunday: “Kadang aku merasa semua orang tahu mereka mau ke mana.”
Sunday: “Sedangkan aku bahkan nggak tahu besok mau jadi orang seperti apa.”
Luke: “Aku juga nggak tahu.”
Luke: “Aku cuma pandai terlihat tenang.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Sunday tertawa.
Sunday: “Berarti kita sama-sama pembohong.”
Bab 7 — Cerita Tentang Rumah
Malam berikutnya mereka kembali ke atap.
Tempat itu perlahan menjadi milik mereka.
Hanya angin, lampu kota, dan langit yang dipenuhi awan.
Sunday berbaring sambil melihat ke atas.
Luke duduk di sampingnya.
Setelah lama diam, Sunday bertanya.
Sunday: “Menurutmu rumah itu apa?”
Sunday: “Aku nggak yakin.”
Sunday: “Karena ada orang yang pulang tapi tetap merasa sendirian.”
Ia tidak langsung menjawab.
Sunday: “Aku kangen beberapa bagian dari rumah.”
Sunday: “Suara hujan di jendela.”
Sunday: “Bau teh hangat.”
Matanya mulai menerawang.
Sunday: “Dan seseorang yang sekarang sudah nggak ada.”
Sunday: “Kamu nggak mau tahu?”
Luke: “Kalau kamu mau cerita, aku dengerin.”
Matanya memantulkan cahaya bulan.
Sunday: “Ayahku meninggal waktu aku masih kecil.”
Angin malam terasa lebih dingin.
Sunday: “Aku bahkan mulai lupa suara beliau.”
Sunday: “Dan itu yang paling aku takuti.”
Sunday: “Karena kalau kita lupa seseorang, rasanya seperti mereka meninggal dua kali.”
Luke tidak tahu bagaimana cara menghiburnya.
Jadi ia hanya duduk di sana.
Kadang kehadiran lebih penting daripada jawaban.
Bab 8 — Sunday yang Sebenarnya
Beberapa hari kemudian Luke menemukan sebuah buku kecil di perpustakaan.
Buku itu tertinggal di meja.
Ia mengenali tulisan itu.
Di dalamnya terdapat banyak potongan kalimat.
Beberapa halaman berisi puisi.
Beberapa hanya satu kalimat.
"Aku takut menjadi orang yang tidak diingat siapa pun."
"Kadang aku berpura-pura ceria supaya tidak ada yang bertanya."
"Ada hari-hari ketika aku ingin berhenti menjadi diriku sendiri."
Malamnya ia mengembalikan buku itu kepada Sunday.
Mereka duduk di tangga asrama.
Sunday menerima buku itu perlahan.
Sunday: “Karena aku nggak sebaik yang kamu kira.”
Luke: “Aku nggak pernah menganggap kamu harus baik-baik saja.”
Sunday: “Aku capek jadi orang yang terlihat kuat.”
Luke menghela napas pelan.
Luke: “Kamu nggak harus kuat terus.”
Air matanya akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Luke melihat Sunday menangis.
Bukan tangisan yang keras.
Hanya air mata yang diam-diam turun.
Sunday: “Aku takut ditinggalkan.”
Sunday: “Semua orang pernah bilang begitu.”
Malam itu mereka tidak banyak bicara.
Mereka hanya duduk berdampingan.
Mendengarkan suara kipas di lorong.
Mendengarkan suara angin.
Dan untuk pertama kalinya Luke mengerti bahwa mencintai seseorang berarti bersedia melihat bagian-bagian dirinya yang bahkan tidak ia sukai.
Bab 9 — Perjalanan Jam Dua Pagi
Jam dinding di lorong menunjukkan pukul 02.04.
Asrama sudah sepenuhnya sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar dan sesekali anjing menggonggong dari kejauhan. Luke sedang mencoba tidur ketika suara ketukan pelan kembali terdengar di pintunya.
Ia sudah tahu siapa yang berdiri di luar.
Ketika pintu dibuka, Sunday mengenakan jaket hitam yang sama seperti biasanya. Di tangannya ada dua botol teh dingin dan sebuah senter kecil.
Luke: “Kamu memang nggak pernah tidur?”
Sunday: “Aku lagi pengen pergi.”
Sunday: “Kalau aku tahu tujuannya, itu bukan perjalanan.”
Lima belas menit kemudian mereka sudah berjalan keluar dari area asrama. Jalanan kota kecil itu kosong. Lampu jalan berdiri berjauhan, menciptakan bayangan panjang di aspal yang masih sedikit basah.
Mereka berjalan tanpa banyak bicara.
Kadang Sunday menendang batu kecil di jalan.
Kadang ia berhenti hanya untuk melihat langit.
Malam terasa sangat tenang.
Setelah hampir tiga puluh menit berjalan, mereka sampai di sebuah jembatan kecil yang melintasi sungai.
Air sungai bergerak pelan.
Angin malam bertiup lebih dingin.
Sunday duduk di pagar beton jembatan.
Luke ikut duduk di sampingnya.
Tidak ada yang berbicara.
Kemudian Sunday membuka suara.
Sunday: “Kamu takut kehilangan orang?”
Sunday: “Makanya aku jarang terlalu dekat sama orang.”
Sunday: “Itu yang bikin aku takut.”
Untuk pertama kalinya ia melihat kelelahan yang selama ini disembunyikan Sunday.
Bukan lelah karena kurang tidur.
Bukan lelah karena tugas.
Tetapi lelah karena terlalu lama memikul sesuatu sendirian.
Luke: “Kamu pernah bilang kalau semua orang punya ruangan yang nggak boleh dimasuki siapa-siapa.”
Luke: “Apa aku boleh masuk sedikit?”
Suara air sungai terdengar di bawah mereka.
Sunday: “Waktu ayahku meninggal, aku marah sama semua orang.”
Sunday: “Aku marah sama rumah. Sama kota tempatku tinggal. Sama diriku sendiri.”
Sunday: “Dan sejak itu aku takut kehilangan orang lagi.”
Sunday: “Kalau aku nggak terlalu dekat sama siapa-siapa, mungkin rasanya nggak akan sesakit itu.”
Kemudian ia berkata pelan.
Luke: “Tapi kamu tetap sendirian.”
Karena ia tahu Luke benar.
Mereka duduk di sana sampai hampir pukul empat pagi.
Langit mulai berubah warna.
Udara terasa lebih dingin.
Sunday berdiri dan memandang ke arah timur.
Sunday: “Aku suka matahari terbit.”
Sunday: “Karena setiap hari dikasih kesempatan lagi.”
Luke berdiri di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, mereka menyaksikan matahari terbit bersama.
Hanya dua orang yang sedang mencoba memahami hidup masing-masing.
Dan bagi Luke, pagi itu terasa sangat penting.
Karena ia menyadari bahwa beberapa orang tidak datang untuk mengisi kekosongan.
Mereka datang untuk menunjukkan bahwa kekosongan itu memang ada.
Bab 10 — Hal yang Takut Diucapkan
Hari-hari setelah perjalanan malam itu terasa berbeda.
Luke dan Sunday semakin sering bersama.
Dan anehnya, Luke merasa nyaman dengan semua itu.
Suatu sore hujan turun lagi.
Mereka berteduh di perpustakaan yang hampir kosong.
Hanya ada suara hujan di jendela dan halaman buku yang dibalik.
Sunday sedang menggambar sesuatu di buku catatannya.
Akhirnya ia menyerahkan buku itu.
Di dalamnya ada gambar dua orang yang duduk di atap sambil melihat langit.
Luke mengenali tempat itu.
Luke menatap gambar itu cukup lama.
Luke: “Kenapa nggak pernah cerita kalau kamu suka gambar?”
Sunday: “Karena aku takut orang menganggapnya jelek.”
Luke mengembalikan buku itu.
Sunday memandangnya beberapa detik.
Sunday: “Kamu selalu bilang begitu.”
Luke: “Karena aku memang suka.”
Hujan di luar semakin deras.
Ruangan menjadi lebih dingin.
Sunday memandang jendela.
Sunday: “Kalau suatu hari aku pergi, apa kamu bakal lupa?”
Pertanyaan itu membuat Luke terdiam.
Luke: “Kenapa kamu sering ngomong soal pergi?”
Namun senyum itu terlihat sedih.
Sunday: “Karena semua orang akhirnya pergi.”
Luke: “Aku nggak suka kalimat itu.”
Luke menarik napas pelan.
Untuk pertama kalinya ia merasa takut.
Takut pada kemungkinan kehilangan seseorang yang bahkan belum benar-benar ia miliki.
Luke: “Karena aku mulai peduli sama kamu.”
Suara hujan memenuhi ruangan.
Tidak ada suara selain hujan.
Matanya perlahan berkaca.
Tangannya sedikit gemetar.
Sunday: “Karena aku nggak tahu bagaimana caranya menjadi orang yang layak dicintai.”
Luke tidak langsung menjawab.
Ia melihat gadis yang selama ini selalu terlihat kuat.
Yang selalu berjalan lebih dulu.
Dan ternyata selama ini hanya seorang manusia yang takut.
Luke: “Aku juga nggak tahu caranya mencintai seseorang.”
Sunday mengangkat kepalanya.
Luke: “Mungkin kita sama-sama belajar.”
Air mata perlahan jatuh dari mata Sunday.
Sunday: “Kamu aneh, Luke.”
Namun kali ini diamnya terasa berbeda.
Di luar, hujan masih turun.
Dan untuk pertama kalinya, Sunday tidak merasa sendirian.
Sedangkan Luke mulai menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari:
Ia sedang jatuh cinta pada seorang gadis yang lebih suka dipanggil Sunday.
Dan kadang, hal paling menakutkan bukanlah kehilangan seseorang.
Melainkan menyadari bahwa seseorang itu sudah menjadi rumah, padahal kita belum tahu apakah ia akan tinggal.
Bab 11 — Malam yang Terlalu Cepat
Hari-hari setelah hujan di perpustakaan terasa lebih hangat.
Sunday mulai lebih sering tersenyum. Ia masih menyimpan banyak hal di dalam dirinya, tetapi setidaknya sekarang Luke tahu bahwa di balik semua candaan dan kalimat-kalimat aneh itu ada seseorang yang sedang berusaha bertahan.
Mereka mulai memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil.
Luke selalu membeli dua roti setiap pagi karena tahu Sunday sering terlambat sarapan.
Sunday selalu meninggalkan catatan kecil di buku Luke.
Kadang hanya satu kalimat.
"Kalau capek, istirahat."
Atau kadang hanya gambar awan.
Suatu sore mereka kembali ke atap.
Matahari hampir tenggelam.
Sunday duduk sambil memeluk kedua lututnya.
Sunday: "Kalau suatu hari kita nggak ketemu lagi, kamu bakal marah nggak?"
Luke: "Kenapa kamu selalu ngomong soal pergi?"
Sunday: "Aku cuma penasaran."
Luke: "Aku mungkin sedih."
Sunday memandang matahari yang perlahan turun.
Sunday: "Jangan sedih terlalu lama."
Tetapi entah kenapa, percakapan itu terasa berbeda.
Seolah Sunday sedang mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan secara langsung.
Bab 12 — Surat yang Tidak Selesai
Malam itu Luke tidak bisa tidur.
Ia duduk di meja belajarnya dan mulai menulis.
Untuk pertama kalinya ia menulis tentang Sunday.
Tentang bagaimana gadis itu mengubah cara ia memandang hujan.
Cara ia memahami kesedihan.
"Ada orang yang datang ke hidup kita seperti lagu yang tidak sengaja diputar. Awalnya biasa saja. Tetapi lama-kelamaan kita hafal setiap nadanya."
Di luar jendela, hujan turun pelan.
Sunday: "Kalau suatu hari aku cerita semuanya, kamu bakal pergi nggak?"
Luke membaca pesan itu beberapa kali.
Beberapa menit tidak ada jawaban.
Kemudian pesan baru muncul.
Luke tidak tahu bahwa pesan itu akan menjadi salah satu pesan yang terus ia baca berulang-ulang.
Bab 13 — Telepon Tengah Malam
Jam menunjukkan pukul 00.47.
Sebagian besar penghuni asrama sudah tertidur.
Luke sedang membaca ketika suara langkah cepat terdengar di lorong.
Seseorang mengetuk pintunya.
Ketika ia membuka pintu, Sunday berdiri di sana.
Tangannya sedikit gemetar.
Akhirnya ia berkata pelan.
Sunday: "Aku harus pergi."
Sunday mengusap air matanya.
Luke melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sunday: "Aku harus pergi sendiri."
Namun ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah.
Sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah diceritakan Sunday.
Sebelum pergi, Sunday menatap Luke.
Seolah ingin mengingat wajahnya.
Air mata kembali jatuh dari matanya.
Sunday: "Terima kasih karena pernah ada."
Luke: "Kamu ngomong kayak mau pergi jauh."
Namun senyum itu terasa rapuh.
Sunday: "Mungkin semua orang memang sedang pergi."
Luke berdiri di depan pintu.
Ingin mengatakan sesuatu.
Tetapi tidak ada kata yang keluar.
Sunday berjalan menjauh melewati lorong.
Langkahnya perlahan menghilang.
Dan Luke hanya berdiri di sana.
Memandang punggung gadis yang selama ini selalu berjalan beberapa langkah lebih dulu.
Bab 14 — Pagi yang Tidak Sama
Luke tertidur menjelang pagi.
Ia hanya ingat suara hujan yang mulai turun.
Kemudian suara pintu yang dibuka keras.
Suara orang-orang berlari.
Ada yang berbicara dengan suara pelan.
Jantung Luke mulai berdetak lebih cepat.
Melihat wajah-wajah yang pucat.
Melihat seseorang menunduk.
Dan untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan yang sangat besar.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya salah seorang teman mereka berkata dengan suara bergetar.
Sulit baginya untuk mengucapkan kalimat itu.
Luke tidak mendengar suara apa pun setelah itu.
Yang ia ingat hanyalah beberapa jam sebelumnya.
Sunday berdiri di depan pintunya.
"Terima kasih karena pernah ada."
Langit pagi berwarna abu-abu.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Sunday, ia merasa benar-benar kehilangan arah.
Karena ada orang yang selama ini selalu berjalan lebih dulu.
Dan sekarang ia tidak tahu ke mana harus mencarinya.