taylor price
Interview Vampire Daily
Fai_Ryy
Keni
𓃗

🪼
Sade Olutola
Mike Driver

oozey mess

Origami Around
cherry valley forever
Doug Jones
Show & Tell

blake kathryn
EXPECTATIONS
Monterey Bay Aquarium
Misplaced Lens Cap

#extradirty
seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Philippines
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany
seen from Morocco
seen from Ireland
seen from France
seen from Argentina
seen from Kenya

seen from United States
seen from Ireland
seen from Greece
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from Ukraine
@pencintawarnakuningsejakdewasa

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Halaman Zaki: Bab 1 “Komik Pertamaku”
Notifikasi berdenting, dan balon cakap menunjukkan sebuah pesan yang membuatku mengatupkan bibir dan berhenti menggulir layar.
“Selamat, Bro.” “Ngapo melok lomba cerpen ketimbang lomba lukis. Kau, kan, pinter ngelukis, Bro.”
Ponsel kubaringkan ke lantai, dan memilih menutup mataku dengan tangan, daripada membalas pesan itu.
***
Aku tidak suka dengan ayahku, karena dia lelaki menyebalkan. Namun akan kutarik ucapan itu di saat dia pulang membawa majalah Bobo. Dari pada membaca iqro, aku lebih suka membaca komik atau majalah anak seperti ini. Buku pelajaran pun yang kusukai cerita pendeknya saja. Namun yang menyebalkan, ibu lebih suka anak yang pintar mengaji. Sayangnya anak perempuan sepertiku tidak pintar akan hal itu.
Aku juga tidak pintar menghitung, dan menghafal perkalian. Dijemur dengan teman-teman yang juga tidak pintar, tak masalah. Asal wanita paling tua di rumahku tidak mengetahuinya. Jika ia menyuruhku menunjukkan nilai di sekolah, aku cukup perlu memberikan buku gambarku, dan mengatakan buku lain sedang berada di Buguru.
Andai di sekolah ada mata pelajaran berbohong, mungkin aku akan mendapatkan nilai tinggi.
Sepertinya yang paling ibuku suka adalah gambaranku, karena hanya itu yang ia pamerkan ke teman-temannya. Namun, ia berhenti menyukainya saat aku di daftarkan lomba mewarnai. Padahal momen itu adalah halaman yang berbekas. Semua orang membawa pensil warna, dan krayon. Bahkan ada yang membawa pensil mahal, rasanya jadi ingin. Akan tetapi aku yakin ayah tidak akan membelikannya.
Singkat saja kuberi tahu bahwa aku kalah.
Hari itu aku tidak menjadi anak terpintar.
Tidak juga menjadi juara lomba.
Aku bahkan tidak tahu gambar mana yang masuk kategori juara. Meski ibu tidak lagi pamer gambaranku, sejak saat itu, ia jadi berhenti bertanya nilai di sekolahku. Aku tidak perlu cemas lagi sekarang. Akan tetapi ia tetap bertanya bagaimana mengajiku.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin ibu memang hanya ingin aku punya masa depan.
Hidupku terus berjalan, temanku silih berganti. Akhirnya aku berada di kelas empat. perasaanku sangat senang karena sudah tidak lagi memakai pensil, saatnya memakai pena. Rasanya seperti seumuran kakakku, walau tubuhnya lebih tinggi.
Percayalah, waktu itu aku benar-benar menganggap pena adalah tanda kedewasaan.
Aku mendapatkan teman sebangku yang baru. Kulitnya putih, bibirnya juga pucat. Jarinya sangat lentik. Kami seperti berasal dari dunia yang berbeda. Ia menyapa terlebih dahulu, dan memperkenalkan namanya, padahal aku sudah tahu. Namanya Alya, ia adalah anak guru di kelas lain. Setiap pulang ia tidak perlu menunggu jemputan sepertiku, sangat beruntung.
Hatiku terus bertanya-tanya, apakah ia tahu bahwa aku sangat senang duduk di sebelahnya sekarang. Karena saat kelas menggambar, ia juga mendapat nilai sepertiku. Tetap aku yang tinggi. Alya bukanlah anak pemalu, dengan terang-terangan ia menceritakan banyak hal padaku. Membuatku menemukan kemiripan antara kami ber-dua. Kami sama-sama menyukai komik.
Di rumahnya ada banyak sekali komik, dan berbagai judul. Aku jadi iri, di rumahku juga sangat banyak buku, tetapi jika itu komik, sepertinya hanya milikku saja. Mendapatkannya pun perlu banyak perjuangan. Aku masih ingat betapa beratnya hidup di rumah eyang hanya demi tumpukan komik. Aku banyak menangis hingga sakit perut. Gigiku juga ikut sakit. Karena itulah menjadi berat.
Ah, cerita itu lain waktu saja, ayo lanjut mengenal Alya. Selain pintar menggambar, ia juga pintar menulis. Alya jadi memiliki komik buatannya sendiri. Aku sangat takjub, Alya seperti bintang. Ada perasaan yang begitu aneh di dadaku, seperti pertama kali aku membaca majalah Bobo.
Pena itu kuputar-putar di sela jari. Apa aku bisa membuat komik seperti Alya? Sesaat tanganku bergerak menggambar karakter hantu yang memiliki telinga seperti kelinci. Matanya berbinar, dan ada ada tahi lalat di bawah matanya. Ternyata Alya menyadarinya. Ia bertepuk tangan, dan mengatakan: “Zaki pintar sekali menggambar, kenapa tidak membuat komik sepertiku?”
Dia berkata seperti itu padahal gambarnya terlihat lebih cantik. Yang ini tidak tidak bohong.
Mataku menyipit dan kepalaku terasa gatal. Aku memang pintar menggambar, tetapi tidak bisa menulis cerita seperti Alya. Percuma saja jika gambar tidak ada alurnya. Hasilnya akan menjadi buku gambar, bukan komik. Namun Alya menggeleng mendengar ucapanku.
“Kamu, kan, suka bercerita padaku. Kenapa tidak ceritanya kamu gambar. Tulisanmu masih bisa terbaca meski berantakan.”
Aku terdiam sejenak. Hantu bertelinga kelinci itu seperti tersenyum padaku.
“Alya perkenalkan, ini Aoi Ghost.” Aku seperti mendengar tawa dari Aoi Ghost, Alya juga tersenyum dan memperkenalkan gambarannya.
Sepulang sekolah, aku meminta buku tulis baru pada ayah. Aku berbohong lagi bahwa buku yang lain telah penuh. Ia memberikannya. Ada bunga di perutku.
Mulai saat itu aku mulai membuat komik seperti Alya. Memang tidak sebagus miliknya, tetapi aku sangat bangga dengan buku itu. Tidak peduli jika ada yang menertawakannya, selagi dia tidak membuat komik juga. Alya mengajakku untuk memberi tarif seribu rupiah pada teman-teman kami yang ingin membaca. Aku setuju. Setidaknya jika mereka mau mengejek komikku, aku mendapatkan uang.
Alya mendapatkan banyak pembaca, membuatnya memiliki banyak uang. Berbanding balik denganku, yang hanya mendapat sedikit pembaca. Hanya saja aku tidak merasa iri seperti biasanya, karena yang aku rasakan adalah Bahagia saat menggambar dan menulis.
***
Telapak tangan kusingkirkan dari mataku. Lampu kamar menyilaukan pandanganku. Kuraih lagi ponselku, kemudian menjawab pesan sahabatku sejak smp itu.
“Aku dak pinter, Nita. Cuman suka aja.”
Manusia membawa sila ke-1, tetapi lupa membawa sila ke-5.
Yang tahu kamu, ya, kamu.
Penulis yang berani adalah penulis yang mengambil langkahnya sendiri.
Indralaya, 28/07/2026

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Seseorang yang kusimpan dilagu Enchanted -taylor swift
aku punya cerita yang ingin kubagikan untuk sekedar meringankan hatiku. aku menyukai seseorang yang sampai sekarang masih kusukai. hal ini bermula dari bangku SMA, ketika pertama kali aku melihatnya. saat itu akan ada foto bersama di sekolah untuk Kalender. aku adalah anak IPA, dan anak Ipa serta anak Ips jarak kelasnya sangat jauh, jadi sangat mungkin sekali aku hanya sedikit mengenal anak ips.
aku duduk bersama teman-temanku selagi berteduh sambil menunggu giliran, hingga tiba-tiba aku tak sengaja menemukan keberadaanya. seseorang yang langsung membuatku tertarik dan mrasa Dejavu melihatnya. ia mengingatkanku pada salah satu karakter series dari thailand yang pernah kutonton. aku bertanya dengan temanku, "siapa dia?"
temanku memberi tahu namanya, kuberi inisial A. mendengar namanya saja sudah membuat aku tersenyum tanpa sadar, aku menyadari ada rasa ketertarikan yang besar padanya. aku sadar jikalau aku terpesona dengannya, namun aku masih denial dan mengubur semuanya agar tak jatuh cinta pada pandangan pertama, karena bagiku itu sangat konyol.
4 bulan berlalu dan aku masih terbayang-bayang olehnya, setiap atensiku menangkap keberadaanya, diam-diam aku menatapnya disetiap kesempatan yang ada. jujur saja jantungku berdebar, dan berusaha agar tak telihat oleh siapapun jikalau aku penasaran dengan si A. Tapi aku masih berusaha menyangkalnya jikalau aku menyukainya, entah perasaan takut dengan hal apa kenapa aku begiu berusaha menyangkal perasaanku sendiri. hingga saat itu aku merasa cemburu, aku mlihatnya bernyanyi dengan temanu sendiri, aku tau temanku tak menyukainya, tetapi tetap saja perasaan panas didada ada dalam diriku. aku merenung beberapa saat ketika berada di asrama, hingga suatu hari aku pun memutuskan untuk menerim diriku sendiri jikalau au telah menyukainya.
hal konyol memang, karena aku sama sekali tak pernah berteman bahkan berbincang dengannya. aku dengannya bagaikan orang asing, itulah mengapa keputusan yang berat untuk menerima diriku sendiri. hingga saat ini au masih memiliki perasaan yang sama, meskipun aku dengannya telah berpisah karena telah lulus sekolah.
aku masih berharap bisa bertemu dengannya, dan jikalau ada kesempatan itu, aku tak akan menyia-nyiakannya dan akan menyapanya. namun aku juga tetap berharap suatu saat akan ada seseorang yang bisa mengganti dirinya.