tidak akan pernah kelopak bunga menyesali takdirnya layu jatuh ke bumi. pun tidak akan pernah air hujan menyesali jatuh ke bumi tersesap dalam diam. pun aku, takkan pernah menyesali jatuh hati kepadamu meski berulang kali takdir mengiyakan bahwa aku dan kamu punya jalan yang berbeda.
malam ini aku tahu deskripsi dari patah hati dalam diam; kamu sedang berusaha memberikan yang terbaik bagi dia yang kau sebut ‘tersayang’. aku pun paham, sudah seharusnya begitu, membahagiakan seseorang yang telah kamu pilih menjadi alasanmu tersenyum menjalani hari-harimu.
sebagai perempuan; aku tak seharusnya merasa cemburu jika kamu berusaha menyempurnakan rasa untuknya; namun entah mengapa seperti tak adil bagiku yang baru menyadari kamu salah satu dari perjuangan berharga yang semestinya dari dulu aku beri notice :p karena memang egoisku bermain, aku yang pertama sadar kamu ada di dunia ini, daripada dia. :D
SANTAI SAJA, BAHKAN JIKA TIBA WAKTUNYA BERTEMU DENGAN TAKDIRMU, KAMU MEMBACA INI PUN: AKU TIDAK BERNIAT MENJADI ORANG YANG MERUSAK KEBAHAGIAANNYA, KARENA AKUPUN PEREMPUAN.
hanya; cukup hanya hari ini aku merasa sendu dalam diam
hanya; cukup hanya hari ini aku merasa teralihkan saat pesanku amu abaikan, sementara aku selalu berusaha secepat mungkin membalas pesanmu.
hanya; cukup hari ini aku mengalah pada kekalahan.
karena memang aku bukan kriteria perempuan yang larut dalam kehampaan. secepatnya pasti kutemukan bahagiaku yang aku tau pasti masih banyak di sana.
jangan harap doa terbaik dariku. mari kita jujur, ada yang sanggup mendoakan yang terbaik bagi sakit yang dia rasa?
tak ada ikhlas yang mendoakan, setauku ikhlas hanya karena melupakan. iya, egois adalah caraku mempertahankan tatanan hatiku. karena pun jika terluka yang memberi perhatian penuh untuk hatiku adalah aku, pemiliknya. :)