"Ada tiga hal yang perlu kita maafkan, yaitu diri kita, orang tua kita, dan orang lain."
"Tapi memaafkan tidak semudah itu. Apalagi memaafkan orang lain."
"Iya memaafkan memang tidak semudah itu. Apalagi kalau kita masih merasa marah, sedih, dan kecewa. Tidak apa-apa jika belum bisa memaafkan, itu adalah hal yang wajar.
Memaafkan bukan berarti kita mewajarkan kesalahan orang lain. Memaafkan bukan berarti kita setuju dengan apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Memaafkan bukan berarti kita kalah dan orang lain menang.
Memaafkan berarti menerima apa yang terjadi, melepaskan perasaan marah dan dendam terhadap kejadian buruk yang telah terjadi, membiarkannya berlalu sebagai proses pembelajaran, dan fokus melangkah maju."
"Memaafkan diri sendiri berarti memaafkan diri kita yang banyak salah dan kurangnya, ya?"
"Iya, memaafkan diri kita yang pernah melakukan kesalahan ... menerima bahwa kita ada kurangnya, tidak bisa melakukan semua hal dengan baik, dan tidak menyalahkan diri atas ketidakmampuan atau ketidakberdayaan kita."
"Aku masih belum bisa memaafkan diriku sampai sekarang, tapi akan aku coba ... Bagaimana dengan caranya memaafkan orang lain dan orang tua kita? Rasanya itu sungguh berat. Apalagi tidak ada kesadaran dan kata maaf dari mereka."
"Ini berat memang, karena aku juga belum sepenuhnya bisa memaafkan orang lain, apalagi orang tuaku. Aku masih merasa marah atas apa yang terjadi. Tapi aku berpikir, apakah aku akan terus begini?
Rasanya hidup dengan dipenuhi dengan kemarahan yang selalu membara, rasanya tidak mengenakkan. Energi dan waktuku habis untuk memikirkan kemarahanku atas kejadian yang telah berlalu. Sedangkan orang yang menyakitiku? Dia mungkin sudah lupa dan melangkah maju.
Aku memilih memaafkan untuk diriku sendiri, untuk kedamaian di hatiku, untuk kebahagiaanku. Semuanya sudah berlalu, dan aku memilih untuk berdamai dengan kenangan itu. Meskipun sulit, tapi aku akan mencoba memaafkannya. Mungkin dengan mencoba memahami mengapa orang itu menyakitiku, akan membuatku lebih mudah memaafkan."