Bekal Pernikahanku Belum Utuh
Seringkali aku mendapat respon dari temen-temen seperti,
“Lu tinggal nyari laki aja sih. Udah bisa semuanya, apa yang kurang.”
“Kamu kapan dong dinikahin? Yaampun padahal enak banget jadi suami mu lin. Bisa dimasakin enak-enak mulu. Istriable banget.”
“Tapi, kakak kalo nikah tahun ini udah siap belum?”
Yaaa, memang yang aku bagikan di sosial media selama #dirumahaja lebih banyak soal masak-memasak atau mencoba menu baru.
Bukankah apa yang kita bagikan di sosial media lebih kepada kemampuan kita, kesenangan kita atau bahkan keunggulan di bidang tertentu ?
Begitu juga aku, yang senang masak dan menyalurkan hobi fotoku.
Mungkin itu yang jadi membentuk opini mereka kali ya.
Sesungguhnya apa yang terlihat di sosial media tidak sepenuhnya utuh.
Ada kesiapanku yang aku rasa belum penuh.
Dibalik kesempurnaan yang mereka lihat, ada kekhawatiranku yang belum runtuh.
Aku akan bilang ke mereka bahwa buatku menikah itu tidak semudah itu, maemunah.
Kemampuan yang aku share itu untuk menutupi kekuranganku.
Di saat kalian bekerja dengan beban kerja dan tanggung jawab yang berat, jam kerja yang ketat, tidak sempat untuk belajar masak, tapi mungkin keuangan kalian sudah mencukupi.
Sedangkan aku punya lebih banyak waktu buat belajar masak karena tanggung jawab menggantikan mama dan waktu bekerjaku yang lebih fleksibel.
Nah, di pekerjaanku saat ini, aku merasa belum settle, aman ketika harus melanjutkan ke pernikahan dan menjalani rumah tangga.
Cukup sih kalo cuma buat memenuhi kebutuhanku sendiri aja.
Tapi kan menikah bukan sekedar berputar pada diri sendiri kan?
Itu yang mungkin jadi beropini, “apa yang kurang ? apa lagi sih lin yang dicari?”
Pada akhirnya kita hanya wang sinawang kan?
Dan Allah Maha Mengetahui, diriku yang belum utuh.
Pada akhirnya, belum Allah dekatkan hati ini berlabuh pada yang mana.
Yogyakarta, 18 April 2020