Dunia Yang Lebih Baik
Katamu, aku adalah perantara yang akan menghubungkanmu dengan Sang Penciptamu. Pintamu pun agar aku selalu menyemangatimu dalam meningkatkan kualitas iman dan amal salehmu. Padahal, manusia lain hanya menjadi perantara, selebihnya kamu harus berjuang sendiri untuk menjemput hidayah itu, dengan atau tanpa orang lain.
Aku pun seakan berada dalam sebuah pilihan yang sangat dilema, antara mengabaikanmu atau menyemangatimu. Jika aku memilih mengabaikanmu berarti hati dan pikiranku pun masih terjaga tanpa ada bayang-bayangmu. Namun, jika aku memilih menyemangatimu maka aku akan memperkenalkan dunia yang lebih baik dari dunia yang kamu jalani sebelumnya.
Lantas, seiring berjalannya hari aku tetap memilih keduanya, walau aku sadar akan ada kecenderungan pada satu pilihan, dan aku tidak bisa menghindar untuk menyemangatimu. Pelbagai usaha telah kamu tempuh agar duniamu lebih berwarna, di mana kamu pun sadar dunia yang lebih baik itu adalah ketika kamu lebih mendekat kepada Sang Pencipta dunia.
Bagaimana dengan kita? Lagi-lagi kamu menyudutkanku dengan pernyataanmu, "Duniaku akan semakin lebih baik jika kita bersama, bersisian, saling bergenggaman tangan untuk menggapai ridha-Nya".
Drama macam apa ini? Aku kira setelah mengantarkanmu menuju dunia yang lebih baik, aku akan terlepas dari sosokmu dan segala tentangmu, sehingga aku bisa hidup tenang tanpa memikirkan seseorang yang belum jelas akan menjadi jodohku kelak.
Kamu dengan kedewasaanmu, tanggungjawabmu kepada keluarga, dan keberanian bertatap muka dengan Ayahku hadir sepaket. Pintaku satu, kelak dipertemukan dengan yang terbaik versi-Nya, walau mereka pun mengajarkan bagaimana cara berdoa dengan lebih spesifik, tapi aku tak berhasil menerapkannya, karena aku tidak berani mendikte, aku hanya ingin jatuh cinta denga jodohku saja, kamu sangat paham dengan isi kepalaku, namun kamu tetap saja membuatnya semakin rumit. Aku ingin dipertemukan dengan orang yang ketika sudah berniat menggenapiku, dia sudah jelas dengan niat baiknya dan kapan dia akan menikah, kamu sudah memenuhi, tapi sayangnya aku tak memiliki kesabaran dalam menunggu. Karena bagiku tak ada pilihan menunggu di antara menghalalkan atau mengikhlaskan.
Mungkin dunia yang lebih baik telah kau genggam, namun aku semakin dipenuhi pertanyaan, bagaimana duniaku kelak ketika bersamamu sedangkan aku tak berani berjanji untuk menunggu?
Kamu tak pernah alpa dalam mengusahakanku, demi mewujudkan dunia yang lebih baik bersamaku. Namun, aku yang kepala batu hanya menyambut sekadarnya. Kamu tertawa atas semua pengelakkanku, dan kamu pun berani mengungkapkan bahwa tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku selain kamu. Kamu terlampaui percaya diri, namun meluluhkanku bukan dengan cara seperti ini. Ketika kamu menemukan dunia yang lebih baik dari sebelumnya, tingkat kepercayaan dirimu pun semakin meningkat.
Mengenalmu ternyata ujian untuk hati dan pikiranku. Benarkah kebersamaan denganmu akan membuat duniaku lebih baik? Semoga yang lebih baik bukan perkara dunia saja tapi juga perkara akhirat. Bukankah menyatukan dua anak manusia akan menghasilkan perpaduan unik yang saling melengkapi?












