Keliru?
Merasa beruntung menjadi manusia utuh ketika merasakan segala rasa, merasa hidup ketika harapan menjadi nyata dan bahagia yang dirasa. Umumnya begitu. Kita secara tak sadar terbiasa menjadikan bahagia sebagai standar rasa tertinggi yang selalu menjadi tujuan. Selalu terucap ditiap doa, terulang dihari-hari bahagia.
Terfokus untuk bahagia sampai sibuk mencari sesuai skenario di kepalanya, meyakini bahwa keinginannya adalah sumber bahagianya kelak. Biasa kita lihat di usia remaja hingga dewasa awal, fase mancari jati diri hingga fase berprinsip hidup berkaitan erat dengan bagaimana mereka sibuk mencari tujuan bahagia yang dibayangkan.
Sayangnya masih banyak yang keliru, terlalu berfokus pada pencarian bahagia di luar diri, mereka sibuk mencari bukan menciptakan. Mereka menggantungkan bahagianya dari apa yang mereka dapatkan, dari apa yang sekitar berikan, dan ketika dunia sekitarnya memberikan hal baik yang membahagiakan sesuai skenario kepalanya itu jadi alasan kuat yang membuatnya bahagia. Iya mudah jika sekedar teori, padahal nyatanya bahkan kami diusia dewasa pun masih terus belajar untuk memahami bahwa menciptakan kebahagiaan adalah kebahagiaan.
Semakin banyak standar bahagia yang dibentuk dimedia sosial yang secara tak sadar menjadikan doktrin bahwa bahagia harus sesuai seperti apa yang terlihat didunia maya. Kekeliruan selanjutnya adalah ketika kita berfokus mencari bahagia maka kebahagiaan di luar diri perlahan masuk menjadi patokannya, hingga akhirnya lupa untuk menciptakan bahagia dari dalam diri. Sampai puncaknya adalah ketika mereka terus berputar di lingkaran untuk mencari bahagia yang terlihat di depannya, padahal yang dicari selama ini selalu ada melekat di sampingnya, terus berputar dan takkan menemukan. Sebabnya kita terlalu sering mendambakan apa yang jauh, yang belum dan bahkan tidak kita miliki hingga lupa seharusnya cukup sederhana dengan melihat apa yang ada saat ini.
“Betapa bodohnya manusia,
Dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan,
tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya.”
- Ali bin Abi Thalib -











