Apa Urusanku dengan Dunia?
“Apa urusanku dengan dunia?”
Kalimat ini bukan keluhan. Ia adalah ukuran: dunia ditempatkan sebagai persinggahan, bukan sandaran.
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apalah urusanku dengan dunia. Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh sebentar di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Begitulah dunia dalam pandangan iman: tempat berteduh sebentar, lalu perjalanan dilanjutkan.
Pohon itu bermanfaat. Naungannya bisa menenangkan. Seorang musafir boleh duduk di bawahnya, mengambil napas, merapikan bekal, dan bersyukur atas teduh yang Allah beri.
Tetapi musafir yang sadar tujuan tidak membangun rumah di bawah pohon itu.
Di sinilah hati perlu ditata. Bekerja tetap perlu. Menafkahi keluarga tetap ibadah. Menjaga amanah, mencari rezeki halal, merawat tubuh, dan membangun kehidupan tetap bagian dari tanggung jawab.
Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan amanah dunia. Beliau berdakwah, memimpin, mencintai keluarga, menolong manusia, dan memikul beban umat.
Yang beliau ajarkan bukan lari dari dunia, tetapi merdeka dari diperbudak olehnya.
Dunia di tangan bisa menjadi bekal. Dunia di hati bisa menjadi belenggu.
Maka rezeki yang datang disambut dengan syukur, bukan kesombongan. Rezeki yang pergi diterima dengan sabar, bukan kehancuran. Pujian tidak membuat diri melayang. Celaan tidak membuat iman runtuh.
Sebab pohon tempat berteduh memang bukan rumah. Yang sebentar tidak layak mengalahkan yang abadi.
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A‘la: 17)
Ayat ini mengembalikan pandangan yang mulai kabur. Akhirat lebih baik daripada keberhasilan yang membuat lalai. Lebih kekal daripada harta yang suatu hari berpindah tangan. Lebih penting daripada nama yang disebut manusia tetapi tidak membawa ridha Allah.
Karena itu, pertanyaan yang perlu sering diulang bukan hanya, “Apa yang sedang kukejar?”
Apa yang membuat shalat terasa sisa waktu?
Apa yang membuat tawakkal melemah?
Apa yang terlalu ditakuti sampai lupa bahwa Allah Maha Menjamin?
Apa yang terlalu dicintai sampai pulang kepada Allah terasa jauh?
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا menjadi pengingat untuk hati yang mulai menetap di tempat sementara.
Ia menenangkan ambisi yang berlebihan. Ia meluruskan sedih yang melewati batas. Ia menegur rasa takut miskin, takut kalah, takut tidak dianggap, dan takut kehilangan bagian dunia.
Bukan berarti tidak boleh memiliki dunia.
Yang perlu dijaga: jangan sampai dunia memiliki hati kita.
Jadikan dunia kendaraan menuju Allah: dipakai, disyukuri, ditunaikan haknya, lalu tidak disembah dalam dada.
Semoga Allah menjadikan dunia cukup di tangan kita, bukan berkuasa atas hati kita.
Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah dunia, memberi rezeki yang halal, dan hati yang qana‘ah.
Semoga ketika perjalanan ini selesai, kita termasuk hamba yang pulang kepada-Nya dengan selamat.