Ruang yang Tidak Pernah Kucari
Aku tidak takut pada WhatsApp. Aku takut pada apa yang mungkin ada di dalamnya.
Awalnya hanya satu pesan.
Lalu nomor yang tidak kukenal.
Lalu pesan-pesan yang datang tanpa pernah kuundang.
Setiap kali layar ponsel menyala, jantungku ikut berdebar... setiap kali muncul nomor asing, pikiranku langsung berlari ke banyak kemungkinan buruk.
Aku mulai takut membuka WhatsApp.
Takut melihat notifikasi.
Takut menemukan sesuatu yang akan membuatku kembali mengingat hal-hal yang sedang berusaha kulupakan.
Orang-orang mengira aku hanya jarang membalas pesan... Padahal mereka tidak tahu bahwa ada masa ketika membuka WhatsApp saja membutuhkan keberanian.
Aku menjadi lebih banyak diam.
Lebih sering duduk sendiri sambil menatap kosong ke arah yang bahkan tidak sedang kulihat.
Ada hari-hari ketika aku bangun pagi dan tidak ingin melakukan apa pun.
Bukan karena tidak punya tanggung jawab.
Aku hanya merasa sangat lelah.
Lelah yang tidak bisa hilang hanya dengan tidur.
Lelah yang tidak bisa sembuh hanya dengan liburan.
Aku tetap menjalani hari seperti biasa.
Tetap menjawab pertanyaan orang lain.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tetapi sesungguhnya aku sedang tenggelam perlahan... yang paling menyedihkan bukan tangisnya... melainkan ketika aku mulai terbiasa menyembunyikannya.
Aku menangis sebelum tidur.
Kadang aku menangis hanya karena mengingat sesuatu yang sebenarnya sudah lama berlalu.
Mengulang kembali begitu banyak kejadian di kepala. Seolah pikiranku tidak pernah benar-benar pulang.
Aku mulai menghindari banyak hal.
Bukan karena aku membenci mereka. Aku hanya tidak lagi merasa aman... Ada masa ketika melihat orang banyak membuat tanganku gemetar... Mendengar nama tertentu membuat dadaku sesak.
Aku merasa semua orang sedang menilai.
Aku hanya terlalu lelah untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang berasal dari luka yang belum selesai.
Aku tidak ingin pergi ke mana-mana.
Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa.
Karena pada masa itu, merekalah satu-satunya manusia yang tidak membuatku merasa harus berjaga-jaga.
Mereka tidak bertanya macam-macam, tidak menuntut penjelasan, tidak meminta aku terlihat kuat, mereka hanya ada... Dan kadang, itu sudah lebih dari cukup.
Sampai akhirnya aku duduk di hadapan seorang psikolog.
Aku bercerita tentang ketakutan yang bahkan terdengar aneh ketika diucapkan.
Tentang pesan-pesan yang terus menghantuiku.
Tentang kecemasan yang tidak mau pergi.
Tentang diriku yang perlahan kehilangan rasa aman terhadap dunia.
Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menyuruhku untuk kuat.
Tidak menyuruhku untuk melupakan.
Tidak menyuruhku untuk berpikir positif.
Kemudian aku memahami bahwa apa yang kurasakan bukan sekadar sedih, bukan sekadar kecewa... Ada luka yang sudah terlalu lama kubawa sendirian.
Dan ada bagian dari diriku yang membutuhkan pertolongan lebih dari sekadar nasihat.. karena itu aku juga bertemu psikiater.
Tetapi karena terkadang hati yang terluka terlalu lama juga membuat tubuh dan pikiran ikut kelelahan.
Namun sebenarnya, jauh sebelum aku duduk di ruangan itu, aku sudah lebih dulu bercerita. Kepada Allah yang mengetahui isi dadaku bahkan sebelum aku mampu menjelaskannya.
Dalam doa-doa yang panjang.. Dalam sujud yang kadang disertai air mata... Dan ketika sesak itu masih tinggal di dalam dada, aku menuangkannya ke dalam tulisan... Bukan kepada manusia...
Melainkan kepada kertas-kertas yang diam.
Kepada halaman-halaman yang tidak pernah menyela.
Kepada tulisan-tulisan yang kubuat saat dada terasa terlalu sesak untuk dipikul sendirian.
Aku menulis ketika aku tidak sanggup menjelaskan.
Aku menulis ketika aku takut bertemu orang.
Aku menulis ketika air mata lebih mudah keluar daripada kata-kata.
Dan sering kali, tulisan-tulisan itulah yang kubawa ke ruang psikolog... Karena ada luka yang lebih mudah dituliskan daripada diucapkan.
Ada kesedihan yang lebih jujur ketika keluar melalui kalimat-kalimat sederhana... Mungkin karena itu aku tetap menulis sampai hari ini.
Bukan karena aku pandai merangkai kata, tetapi karena menulis adalah salah satu cara aku bertahan.
Salah satu cara aku mengurangi sesak di dada.... Salah satu cara aku pulang kepada diriku sendiri.
Dan ketika aku akhirnya bertemu psikolog, aku menyadari sesuatu..Ternyata aku tidak sedang menulis untuk melupakan... Aku sedang menulis agar tidak tenggelam... Dan mungkin, proses sembuhku memang dimulai dari sana.
#TentangManusia #TentangHati #CatatanKecil #MenulisUntukSembuh #TentangPemulihan #YollaOlla