Sepertiga malam selalu punya cara yang klise untuk membuat manusia kembali menjadi dirinya sendiri.
Lampu dipadamkan. Dunia perlahan mengecil. Tidak ada percakapan, tidak ada keramaian, hanya detak waktu yang berjalan seperti langkah kaki di lorong panjang.
Katanya, pada jam-jam seperti ini orang akan berdoa.
Tapi aku tidak.
Aku hanya duduk bersama pikiranku yang berisik, lalu tanpa sadar menyebut namamu dalam hati.
Bukan sebagai doa.Bukan pula sebagai permintaan.
Hanya sebuah kebiasaan yang tumbuh diam-diam, seperti embun yang memilih turun tanpa suara.
Aneh rasanya.
Aku bisa meminta banyak hal kepada Tuhan; tentang rezeki, umur yang panjang, atau jalan hidup yang lebih mudah. Namun setiap kali malam sampai pada titik paling sunyi, yang muncul justru namamu.
Berkali-kali.
Seolah hatiku memiliki liturginya sendiri.
Dan mungkin ini terdengar klise. Seseorang yang diam-diam berharap, seseorang yang diam-diam menunggu. Tetapi ada perasaan yang memang tidak membutuhkan bahasa. Ia hidup dari penyebutan yang tak pernah terdengar.
Maka malam ini aku tidak berdoa apa-apa.
Aku hanya menyebut namamu sekali lagi.
Lalu membiarkan langit menafsirkan sendiri apakah itu rindu, harapan, atau sekadar cara paling sederhana untuk mencintai seseorang dari kejauhan.
@gramabiru | sepertiga















