Aku pernah berdiri terlalu lama di depan langit, membawa nama yang sama dalam setiap doa.
Kukirimkan harapan itu berkali-kali, seperti surat yang selalu kutulis ulang karena takut ada kalimat yang kurang sopan untuk didengar Tuhan. Aku memperbaiki niatku, memperhalus pintaku, bahkan belajar menerima jika jawabannya harus menunggu.
Tetapi waktu berjalan seperti sungai yang tak pernah menoleh ke hulu.Yang kupinta tetap tidak datang.
Pada awalnya aku marah. Bukan karena Tuhan tidak mendengar, melainkan karena aku yakin sekali bahwa yang kuminta adalah sesuatu yang baik. Aku menghitung segala alasan mengapa doa itu pantas dikabulkan. Aku menyusun argumen seolah-olah langit membutuhkan pembelaan dari seorang manusia yang penuh kekurangan.
Namun tahun demi tahun mengajarkan sesuatu yang tak pernah kutemukan dalam buku mana pun.
Bahwa tidak semua doa gagal karena buruk. Ada doa yang tidak dikabulkan justru karena terlalu sempit dibandingkan jalan yang sedang disiapkan.
Aku masih tidak tahu mengapa Tuhan tidak memberiku apa yang kuinginkan. Mungkin aku memang tidak perlu tahu. Mungkin ada pengetahuan yang terlalu besar untuk ditampung oleh hati yang masih sibuk menghitung kehilangan.
Kini aku tidak lagi meminta dengan tangan yang mengepal.
Aku meminta dengan tangan terbuka.
Jika Engkau berikan, aku akan bersyukur.
Jika Engkau tunda, aku akan belajar.
Jika Engkau ambil, aku akan mencoba mengerti.
Dan jika Engkau tidak pernah mengabulkannya sampai akhir hidupku, biarlah doa itu menjadi saksi bahwa pernah ada sesuatu yang sangat kuinginkan, tetapi aku tetap memilih percaya kepada-Mu.
Sebab pada akhirnya, yang paling berat bukanlah menerima bahwa doaku tidak terkabul.
Yang paling berat adalah menerima bahwa kehendak Tuhan kadang berbeda dari cerita yang sudah kutulis sendiri di dalam kepala.
Dan mungkin, kedewasaan lahir tepat di titik itu:
Ketika hati berhenti bertanya, "Mengapa bukan yang aku minta?"
Lalu mulai bertanya, "Apa yang ingin Engkau ajarkan melalui semua ini?"
@ruangrindusblog | @gramabiru















