Procastinasi
Tahun ini artinya bisa bulan depan, bulan depannya lagi, bahkan bisa juga desember nanti. Bulan ini artinya bisa minggu depan, minggu depannya lagi, juga minggu terakhir. Hari ini bisa siang, sore, atau bahkan menjelang tengah malam. Dan tiba-tiba menganggap hidupnya kebanyakan tugas, pekerjaan yang berat, merasa orang paling menderita dan memiliki beban yang terberat. Kemudian sok-sok an berkata bijak "Beberapa hal memang tak perlu dikerjakan!". Pernah ?
Tiba-tiba prihatin membaca berita tentang investasi miras diizinkan. Tiba-tiba bahagia dapat broadcast diskon produk dambaan. Tiba-tiba sedih mendapat kabar aktris pujaan kena skandal perselingkuhan. Tiba-tiba mengumpat gara-gara kasus korupsi anggaran pemberantasan korupsi. Tiba-tiba stres kehabisan ruang dan waktu yang terbuang si-sia akibat gagal fokus. Sering ?
Menunda sesuatu kalau sekali dua kali itu normal. Tapi kalau sudah "mbalung sungsum" itu bisa bahaya. Jangankan bisa selesai, keseringan menunda bahkan bisa membuat pekerjaan nol progres. Dan akhirnya tidak ada yang selesai.
PROCASTINASI adalah istilah psikis tentang kecendurang untuk menunda suatu pekerjaan atau tugas. Menunda bukan suatu trik manajemen waktu kalau sering dilakukan. Procastinasi perlu diatasi agar hidup lebih rapi. Ya, bukan cuma baju yang dirapikan. Mindset untuk melakukan sesuatu juga perlu dirapikan.
Untuk mengatasi procastinasi ada beberapa tips. Pertama cari akar pemicunya. Kenapa kamu memilih menunda suatu pekerjaan, atau apa penyebab kamu akhirnya menunda suatu tugas?. Dengan mengetahui akar penyebabnya, kamu tidak salah menyikapinya. Menurut Tym Pychyl [ahli psikologi], kebanyakan orang mengira menunda pekerjaan adalah masalah manajemen waktu, padahal faktanya masalah emosional seseorang. Ya, orang cenderung menghindari hal yang membuat tidak nyaman. Selain itu otak manusia cenderung mementingkan kapan deadline suatu pekerjaan, ketimbang waktu proses pengerjaannya. Jadi seperti gambaran di awal, misal ada tugas untuk bulan ini. Seseorang cenderung merencanakan mengerjakannya mepet di akhir bulan. Dan ketika akhir bulan ternyata waktu yang tersisa tidak cukup. Dan ujung-ujungnya memicu stress.
Kedua dengan manipulasi beban tugas atau pekerjaan. Pada umumnya orang enggan mengerjakan sesuatu yang menurutnya berat, dan menganggap dirinya tidak sanggup. Maka bisa dengan membagi suatu tugas menjadi beberapa part. Sehingga untuk memulai prosesnya lebih mudah. Tidak berpaku pada total beban tugas. Apalagi dengan prmbagian tugas, dopamine atau perasaan puas kita lebih cepat terisi. Ketimbang mikirin caranya menyelesaikan sampai akhir tapi malah stress. Bisa juga dengan memanipulasi deadline. Misal ada deadline seminggu, bikin 3 hari. Sehingga ada toleransi ketika ada keadaan mendadak atau ketika ada revisi.
Ketiga rubah mindset bahwa tidak harus sempurna. Ketika mendapat tugas seringkali berusaha untuk memperoleh hasil yang sempurna. Padahal yang lebih penting adalah selesai. Lupakan kesempurnaan, selesaikan saja dulu.
Keempat, kerjakan saja dulu. Yang paling sering terjadi adalah kita merasa bisa menundanya, padahal pertama menunda sering keterusan menunda. Bahkan ada kok sebuah tugas yang awalnya dianggap berat, tapi ketika mulai dikerjakan ternyata tak seberat yang dipikirkan.
Terakhir bentuk lingkungan yang mendukung. Non aktifkan notifikasi, cari tempat yang bisa membuatmu fokus.
Kualitas hidup tak melulu soal kedudukan, tapi bahagia dengan hidupmu. Bisa mengerjakab tugas-tugasmu dengan senang hati. Berbahagialah!.