Kemelekatan
14 April 2026
Masih dalam jurnal perjalanan pulang ke diri sendiri. Harapannya perjalanan ini akan membawaku menjadi pribadi yang lebih berkesadaran, bahagia, dan tenang.
Selama perjalanan ini ada satu kata yang sering bergaung dalam duniaku, yaitu kemelekatan. Kata yang awalnya hadir sebagai sesuatu yang asing sampai akhirnya begitu akrab karena setiap harinya selalu menyapaku. Terutama setiap melakukan sesi meditasi pagi dan malam. Karena dalam proses meditasi itu, kemelekatan dan kebebasan adalah dua yang saling mentiadakan.
Dalam buku "The Freedom from The Known" Karya J Khrisnamurti, kemelekatan diibaratkan seperti sesuatu atau seseorang yang melekat pada tubuh, jiwa, raga, atau pikiran kita. Dan sesuatu atau seseorang yang melekat itu menjadi suatu berat yang kita bawa setiap saat. Sehingga sedikit banyak ada dampaknya terhadap kebebasan untuk menjadi mandiri atau untuk memahami diri sendiri, terutama dalam memahami kebebasan sejati.
Kita sebagai manusia, tidak luput dari apa yang tertinggal di tubuh ini. Sebuah potret dari masa lalu, luka yang belum termaafkan, sebuah jejak-jejak yang ditinggalkan, maupun kenangan yang membelenggu dalam ruang yang belum dikunci. Sekali-kali kita menoleh kembali, lalu dunia berlalu begitu saja bersama waktu yang berjalan ke depan.
Dalam keseharian misalnya, omongan orang lain, atau emosi saat berkendara di jalanan, bahkan rasa rendah diri, bisa melekat pada diri dan kita bawa seharian. Saat ini selama menjalaninya, meditasi mengajarkanku cara-cara paling dasar untuk menjadi manusia yaitu bernafas. Proses mengambil nafas dan membuang nafas adalah tangga menuju tenang dan berkesadaran. Setiap mengambil nafas adalah hulu dan setiap membuang nafas adalah hilirnya. Dalam aliran nafas sampai ke hilir, segala yang melekat itu juga di lepaskan. Sehingga tubuh dan jiwa ini tidak membawa serta kemelekatan yang ada. Tubuh dan jiwa akan lebih ringan dan kebebasan bisa dengan mudah digenggam.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika kemelekatan itu memiliki akar yang begitu dalam sehingga sulit dilepaskan?
Ada sebuah quote dari J Khrisnamurti dalam bukunya "The Freedom from The Known" ;
"To understand ourselves needs no authority either of yesterday or of a thousand years because we are living things, always moving, flowing, never resting.
Untuk memahami diri kita sendiri, kita tidak membutuhkan otoritas dari masa lalu atau dari seribu tahun yang lalu karena kita adalah makhluk hidup, selalu bergerak, mengalir, dan tidak pernah beristirahat."
Aku mempelajari bagaimana manusia sebagai makhluk hidup memiliki alam sadar dan bawah sadar yang berkesinambungan. Manusia tidak dengan mudah melupakan, kita tidak bisa dengan tiba-tiba menjadi amnesia. Namun, kesadaran dapat membawa kita pada mencari pelajaran maupun menjadikan pelajaran pada setiap peristiwa. Melalui J Khrisnamurti, memang seolah tegas mengatakan bahwa masa lalu tidak memiliki andil dengan bagaimana kita dimasa kini.
Tetapi buatku prosesnya tidak akan semudah itu. Duka contohnya, proses berduka bisa berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Dan kembali memiliki kebebasan tanpa duka yang melekat, bukanlah proses yang instan. Tidak bisa hanya dengan mengambil nafas, dan buang duka itu melalui buang nafas. Kemelekatan yang berakar dalam dan meranting tinggi adalah rimba di tubuh dan jiwa. Butuh kita untuk merawatnya sehingga menjadi indah. Atau dengan kata lain, butuh diri sendiri untuk merubah maknanya, sehingga duka yang melekat bisa bermetamorfosa dan makna dan indah tetap tinggal dalam diri kita.
Perjalanan pulang ini membuatku sadar pada diri sendiri. Aku bukan perempuan yang suka dinasihati atas kekeliruanku lalu menerimanya. Aku menerima nya dengan mencari teori, membaca buku, melakukan sesuatu hingga kutemukan makna yang kujadikan ideologi. Menggenggam itu sebagai identitasku sebagai manusia yang lebih baik lagi.
Proses yang masih panjang, sudah kujalani sebagiannya dan nanti kuceritakan bagaimana merawat rimba kemelekatan yang akarnya menghujam dan sulit dilepaskan. Setidaknya dari pengalamanku.
Terimakasih sudah membaca,
Inhale......
Exhale.......
Peluk hangat,
-Debur debar-















