Secangkir Malam, Sebait Hati;
Ada orang-orang yang tak lagi mengejar tepuk tangan, sebab sunyi telah mengajarkan bahwa tenang tak pernah lahir dari keramaian.
Ia duduk di sudut malam, dengan secangkir kopi yang perlahan mendingin. Bukan karena tak ada yang menemaninya, melainkan karena ia telah belajar bahwa tidak semua yang datang akan tinggal.
Tangannya menggenggam cangkir, sementara hatinya menggenggam dirinya sendiri.
Tak lagi haus akan perhatian, tak lagi lapar pada pujian. Ia telah selesai berdamai dengan ruang yang dulu disebut kesepian.
Kini, sepi hanyalah rumah yang ia bangun dari luka-luka yang tak sempat diceritakan. Jika kamu datang membawa kata-kata manis, senyumnya masih tetap ada untukmu.
Namun kamu harus tau, tak mudah membuka pintu yang karatnya telah berakar ke jiwa. Bukan karena hatinya membeku, melainkan karena ia telah mengerti, bahwa janji paling indah sering kali diucapkan oleh mereka yang paling cepat meninggalkan.
Orang-orang mengira ia dingin, padahal ia hanya berhenti menghangatkan tangan yang tak pernah berniat menggenggamnya.
Lingkarannya kecil, tetapi di sanalah ketulusan tinggal. Ia lebih memilih diam daripada berbicara demi disukai.
Sebab ia tahu, nilai seseorang tak pernah ditentukan oleh banyaknya orang yang mengenalnya, melainkan oleh sedikit orang yang tetap memilih tinggal.
Maka jangan takut pada seseorang yang menikmati kesendiriannya. Takutlah ketika ia masih memohon agar kamu tidak pergi.
Karena seseorang yang telah akrab dengan sunyi, tak akan mudah dipatahkan rayuan, tak akan mudah dibeli perhatian, dan tak akan tinggal di tempat yang tak lagi menghargainya.
Biarlah malam memeluknya, dan kopi menjadi saksi bahwa kebahagiaan paling tenang bukanlah yang ditemukan pada orang lain, melainkan yang diam-diam ia seduh sendiri, setiap kali hidup mengajaknya pulang kepada dirinya sendiri.











