Pinter-pinter diri mau ngebawa hati kemana, bahkan di titik paling jengah dan jenuh dalam hidup pun kita masih punya pilihan untuk berdoa yang baik-baik
i don't do bad sauce passes
One Nice Bug Per Day
Monterey Bay Aquarium
hello vonnie
🪼

⁂
sheepfilms

祝日 / Permanent Vacation

blake kathryn

if i look back, i am lost
Today's Document
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Game of Thrones Daily
d e v o n

Peter Solarz
Xuebing Du

izzy's playlists!
occasionally subtle

★

seen from Norway

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from T1

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from China
seen from United States
seen from Türkiye

seen from New Zealand
seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from United States
seen from Peru
seen from Greece
seen from United Kingdom
@kaderiyen
Pinter-pinter diri mau ngebawa hati kemana, bahkan di titik paling jengah dan jenuh dalam hidup pun kita masih punya pilihan untuk berdoa yang baik-baik

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jangan menakar hasil dari pupuk yang ditebar hari ini; sebab tanah pun memiliki adabnya sendiri dalam menyimpan dan mengurai,
Benih tidak pernah berunding dengan musim, hanya setia pada tugasnya—membelah gelap, menembus sunyi, lalu tumbuh tanpa banyak suara.
Maka bila hari ini yang terlihat baru sebatas tanah yang diam, mungkin saja kehidupan sedang bekerja di kedalaman yang tak bisa ditafsir,
Yang tergesa biasanya hanya ingin panen, sementara yang tau proses akan bersabar merawat akar.
Ada masa ketika pikiran tentang mati muda terasa lebih tenang daripada bayangan hidup panjang yang terus diuji tanpa jeda.
Bukan karena ingin mengakhiri segalanya, melainkan karena lelah bernegosiasi dengan dunia yang kerap meminta lebih banyak dari yang sanggup kuberi.
Aku tidak sedang putus asa—hanya sedang jujur pada diri sendiri. Bahwa hidup, di titik tertentu, bisa terasa seperti beban yang diwariskan tanpa pernah ditanya kesiapan.
Maka terlintaslah pikiran polos namun getir: jika usia harus singkat, semoga ia cukup bersih; jika langkah harus berhenti cepat, semoga tidak sia-sia.
Namun semakin dewasa, aku belajar satu hal yang lebih sunyi: mati muda bukan tentang cepat atau lambatnya ajal, melainkan tentang bagaimana seseorang menjaga dirinya selama masih diberi napas. Tentang tidak membiarkan dunia mengikis iman, tidak membiarkan pahit mengeras menjadi kebencian.
Jika aku masih di sini hari ini, itu bukan karena aku selalu ingin hidup, melainkan karena aku memilih menunaikan waktu sebaik yang aku bisa.
Entah panjang atau singkat, aku hanya berharap kelak bisa pulang tanpa terlalu banyak membawa keluhan—cukup membawa lelah yang sudah diikhlaskan, dan hati yang tetap berusaha lurus meski sering tertatih.
Biarlah ia tidak dihabiskan untuk menuntut dunia yang tak pernah berniat adil; cukup kupastikan imanku tidak runtuh sebelum waktuku dipanggil pulang.
Hal. XII — Bab Kecewa
Sudah saya bentangkan niat sebersih pagi, namun tangan yang menyambut tak searah. Maka kecewa saya lipat rapi, tak saya pamerkan ke tengah. Saya simpan yang tinggal sebagai kenangan, saya lepaskan yang pergi sebagai takdir; biarlah adat mengajarkan batas, biarlah syara’ menuntun reda. Yang tersisa, saya serahkan pada waktu-
28 Des 2025 | YK
Ada pintu yang tidak pernah benar-benar terkunci, hanya dibuka dari dalam, oleh mereka yang sudah lama saling mengenal bayangannya sendiri.
Aku datang membawa peta yang rapi, jalur-jalur yang saling bertaut, bekas langkah yang tidak pendek. Namun rupanya, di tempat itu, arah bukanlah yang utama—keserupaanlah yang paling mudah dipercaya.
Satu cela kecil dijadikan senyap penutup. Bukan karena ia tak bisa disulam, melainkan karena kesempurnaan sering dipakai untuk menghindari keberanian memberi waktu.
Aku menyebut ini takdir, meski tahu ia lebih menyerupai kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bukan tentang siapa yang paling siap berjalan jauh, tetapi siapa yang sudah lama berdiri di lingkaran.
Dan anehnya, yang paling melelahkan bukan ditinggalkan, melainkan menyadari bahwa seluruh perjalanan tak sempat benar-benar dilihat. Lalu dinilai sebagai manusia yang tidak dapat bertumbuh
Jika hari ini aku memilih menepi, itu bukan karena jalanku buntu. Aku hanya enggan menyesuaikan bentuk demi masuk ke ruang yang mencintai pantulannya sendiri.
Barangkali ada tempat lain yang tidak menanyakan dari mana aku datang, melainkan ke mana aku bersedia tumbuh.
Dan di sana mungkin, aku akan berdiri tanpa perlu menjelaskan mengapa aku layak bernapas di ruangan itu.
Walau tulisan ini tidak menghapus sakitnya, tapi setidaknya memberi bekal untuk kehidupan selanjutnya, tentang tidak mengerdilkan orang lain hanya dari satu sudut pandang; dan ini adalah cara luka mengubah arah, tanpa merusak nilai diriku sedikit pun ….

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yan, arah yang tidak serasi tak selalu layak diperpanjang;
Maka, disela-sela upaya kita menemukan arah, semoga kita menemukan tempat bernaung yang dengan teduhnya mampu menumbuhkan satu halus budi setiap harinya
Sungguh, telah cukup bagiku bahwa Engkau menelaah ikhtiarku sedalam Engkau memahami kelemahanku. Dan biarlah doa-doa yang terucap pelan itu menjadi tanda kefakiranku di hadapan-Mu—serta pengakuan bahwa seluruh rumpangku telah tertutup oleh kasih-Mu
Selamat Hari Bapak, entah sedunia, entah nasional, entah cuma milik kita berdua.
Aku tumbuh tanpa banyak bicara sama Bapak.
Bukan karena nggak sayang, cuma karena kami nggak pernah benar-benar tahu cara nunjukin kasih tanpa canggung.
Telepon rumah pun selalu buat Ibu; kalau Bapak yang angkat, ujung-ujungnya tetap diserahin juga ke Ibu.
Tapi entah gimana, aku tahu setiap kabarku tetap sampai ke Bapak — lewat jeda percakapan yang sederhana, lewat tanya yang diselipkan di sela-sela diam.
Aku masih nyimpen potongan core memory tentang Bapak, yang aku harap bisa terus aku simpen sampai tua.
Ikut Bapak ke sawah, menjejak lumpur, menatap punggungnya yang menua di bawah cahaya sore.
Waktu SD, Bapak pernah nganterin sepeda bekas ke sekolah — bukan baru, tapi penuh makna.
Senangnya aku waktu itu nggak kepalang, aku pulang dengan tawa kecil, sementara Bapak ngikutin dari belakang, dengan senyum yang mungkin nggak akan pernah kutemuin lagi di wajah siapa pun.
Pas SMP, Bapak selalu njeunguk aku sebulan sekali ke pondok.
Naik Supra tua, dengan semangat yang entah datang dari mana.
SMA, ingatanku mulai samar — tapi aku tahu, setiap keinginanku selalu diusahakan, bahkan yang kadang nggak layak diminta.
Ponsel pertamaku, misalnya. Aku minta dengan takut-takut, tapi Bapak cuma mengangguk — diam-diam, tapi tulus.
Kuliah jadi masa paling berat buat Bapak.
Aku tahu, banyak hal yang Bapak korbankan demi aku — satu-satunya anaknya yang bisa kuliah di kampus negeri, di Jawa pula.
Kata Ibu, Bapak sering nyeritain aku ke teman-temannya, dengan nada bangga yang pelan.
Tapi ke aku? Nggak pernah, wkwkw.
Mungkin karena buat Bapak, rasa bangga memang nggak perlu diucapin — cukup disimpan dalam caranya bertahan.
Dua kali aku wisuda, dua kali juga Bapak nggak bisa hadir.
Dan aku paham, sebab keadaan seringnya nggak berpihak.
Tapi rasa bangga dan cinta Bapak nggak pernah luntur; tetap ada di balik pengorbanan yang bahkan nggak sempat disebut nama.
Sekarang anakmu ini udah dua puluh enam tahun, Pak.
Masih berjuang nyelesain studi doktornya, masih mencoba berdamai dengan banyak hal: takut gagal jadi hamba, jadi manusia, dan… jadi anakmu.
Maaf ya, Pak — di usia segini aku malah belum jadi apa-apa, belum bisa ngasih bahagia yang selayaknya.
Tapi doaku buatmu nggak pernah alpa, Pak. Semoga seterusnya pun begitu.
Dan… selamat Hari Bapak, entah sedunia, entah nasional, entah cuma milik kita berdua.
Terima kasih, karena dalam banyak hal, Bapak adalah rumah yang nggak pernah berkata “pulanglah”, tapi selalu nunggu aku untuk nemuin arah sendiri.
Meski hidup sering memukul, meski keluarga kita pernah retak — makasih sekali, Bapak tetap berusaha bikin semuanya utuh, dengan banyak cara yang kadang malah bikin Bapak sakit.
Aku memang nggak pernah pandai nunjukin rasa,
tapi aku selalu nyimpen satu hal ini rapat-rapat:
aku sangat, amat, termat bangga jadi anakmu, Pak.
Terima kasih sudah mengizinkan “bin Abdullah” itu ada dalam namaku ini. ☺️
Yogyakarta, 2025
Kita tak pernah sepenuhnya mafhum dari kisah apa seseorang dibentuk. Setiap lakunya, mungkin adalah gema dari riwayat yang tak sempat ia sadari;
Dan mungkin, dengan memahami sekelumit fragmen hidupnya, kita akhirnya mengerti bahwa begitulah ia ditempa oleh hari-hari yang tak pernah kita jalani.
Maka, beri saja seutas ruang untuk sebuah pemakluman; barangkali di sanalah hati belajar lebih pelan, lebih lapang.
Ada jalan yang disiapkan bukan untuk kita tiba melainkan agar kita belajar bagaimana caranya berjalan.
Ada takdir yang tak ditujukan untuk berujung, melainkan untuk menuntun hati, agar paham seni melepas dengan ridha.
Sebab tidak setiap langkah dimaksudkan untuk menuju hasil, sebagian hanya untuk menanam ikhlas di tiap prosesnya.
Barangkali, Tuhan memang menitipkan rezeki dan rahmat-Nya bukan pada akhir perjalanan, melainkan pada cara kita bertumbuh di sepanjang ikhtiar.
- YK| 2025

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kadang kepala terasa seperti lorong panjang yang tak berujung, penuh gema pertanyaan yang tak kunjung padam. Arah hidup tampak kabur, bahagia seperti janji jauh yang tak pernah tiba, dan diri sendiri kerap terasa asing di tengah ramai.
Namun dalam sunyi yang panjang, ada bisikan halus: bahwa langkah yang goyah ini pun harus tetap berada dalam genggaman Yang Maha Mengatur.
Mungkin jawaban bukanlah hak yang harus digenggam segera, melainkan rahasia yang dijaga agar manusia satu ini belajar bertahan. Sebab tugasnya hanyalah melangkah—meski dengan lutut bergetar, meski dalam kabut pekat—sambil percaya bahwa setiap jejak yang terhuyung pun tetap ditampung oleh tangan yang tak pernah lepas.
“Yan, kepala boleh penuh tanda tanya, tapi hati akan tetap utuh selama masih ingat siapa yang menggenggam”
- Mlati, Yogyakarta | 2025
Tumbuh dari keterbatasan yang berlapis, dari tanah sunyi yang menanamkan kesabaran sebagaimana benih menanti musimnya. Menyusuri lorong-lorong luka yang tak terbilang, yang warnanya samar namun aromanya pekat dalam ingatan. Terperosok berkali-kali ke dalam jurang yang sama, namun setiap kali bangkit dengan cara yang tak pernah serupa. Menggenggam pergumulan yang hanya dapat dirasakan dalam bahasa diam—bahasa yang bahkan gema pun enggan mengulangnya—seraya terus berjalan, meski peta tak selalu terbentang.
Dan di antara langkah-langkah yang terseret letih, ada hari-hari yang tak punya nama. Hari ketika cahaya terlalu tipis untuk disebut pagi, namun gelap pun terlalu rapuh untuk disebut malam. Hari yang dipenuhi jeda panjang antara tanya dan jawab, di mana dada menjadi altar sunyi tempat segala resah diletakkan, menunggu satu isyarat yang membuatnya sanggup bergerak lagi.
Namun di sela semua itu, waktu mengajarkan pelan-pelan: bahwa hidup tidak selalu harus dimengerti untuk tetap dijalani. Bahwa tidak semua jawaban datang cepat, dan tidak semua luka harus dihapus untuk bisa berjalan lagi. Hingga akhirnya, satu keyakinan pun tumbuh:
Selama masih percaya kepada Allah, mau beribu kali pun berada dalam keadaan “kenapa-kenapa”, pada akhirnya akan menjadi “tidak apa-apa”.
Dan mungkin memang begitu cara Allah menjaga: bukan dengan menyingkirkan badai, melainkan menanamkan akar yang menyusup jauh ke inti bumi, agar meski angin mengguncang dengan murka, batang tak tercerabut dan daun tetap pulang kepada cahaya.
Yang dihela dari genggaman hanyalah amanah yang telah sampai pada ajal yang ditetapkan dalam qadar-Nya; maka rawatlah yang tersisa sebagai titipan yang kelak pun akan digenapkan.
Dan tatkala yang pergi telah kembali kepada Pemiliknya, serahkan ia sepenuhnya kepada Rabb yang tidak pernah pergi-dengan hati yang tunduk di bawah ridha-Nya, dan hidup yang dicukupkan oleh rahmah-Nya.
Merawat yang Tersisa
Ada masa dalam hidup di mana pilihan kita tidak lagi tentang mengulang yang telah usai atau memaksa kembali yang telah pergi. Waktu memaksa kita berdiri di persimpangan, lalu membisikkan bahwa tak semua kehilangan harus kita rebut kembali, dan tak semua retakan menunggu untuk disatukan. Kadang, satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah merawat apa yang masih ada di depan mata—walau bentuknya tak lagi sama, walau hangatnya tak selengkap dulu.
Rumah yang sejak kecil kita kenal pun, bisa saja suatu hari berubah menjadi dua pintu yang berdiri saling membelakangi. Kita berdiri di tengah, memandangnya bukan dengan teriakan, melainkan dengan hening yang penuh pengertian. Sebab kita tahu, ada yang sudah tidak bisa dipanggil pulang, dan ada yang hanya bisa kita jaga dari jarak. Dalam momen itu, kedewasaan bukan lagi tentang memperbaiki segalanya, tetapi tentang menjaga agar yang tersisa tidak ikut hilang.
Merawat sisa adalah seni yang tak pernah diajarkan sekolah: seni memeluk serpih hangat di sela-sela jemari agar tidak lepas, seni menatap yang telah berubah tanpa menuntutnya kembali seperti semula. Merawat sisa juga adalah pengakuan, bahwa kita tidak berkuasa atas semua yang pergi—tetapi kita berkuasa untuk menjaga yang masih berpihak.
Dan di titik ini, aku belajar bahwa merawat sisa sama berharganya dengan membangun dari awal. Ia mengajarkan rendah hati, melatih sabar, dan memaksa kita menanam teduh di dalam diri, agar kita tidak selalu bergantung pada atap di luar sana. Sebab terkadang, rumah tidak lagi berupa dinding dan pintu, melainkan rasa aman yang kita bangun sendiri dalam hati.
Maka, ya Tuhan, bimbinglah manusia ini untuk terus merawat yang tersisa: waktu yang masih berpihak, ilmu yang tengah diperjuangkan, dan hati yang senantiasa belajar pulang kepada-Mu—meski rumah di dunia telah berganti rupa. Ajari aku menanam teduh di dalam jiwa, agar kelak kemanapun langkah ini pergi, aku tak lagi mencari rumah, sebab aku telah membawanya ke manapun aku melangkah.
Tentang Doa yang Pernah Meneduhi Duniamu
Di sebuah sudut kafe kecil di Jogja, ketika malam mulai menua dan lampu-lampu temaram menggantung lesu di antara wangi kopi dan rintik gerimis, seorang teman berbicara dengan suara yang nyaris remuk oleh kenangannya sendiri. Tak ada dramatika dalam ucapannya, hanya kejujuran yang terucap sebagaimana adanya—dan justru karena itu terasa menohok.
“Aku bisa bertahan sampai hari ini karena teduhnya doa ibuku. Doa-doanya seperti langit yang menaungi tanpa suara, menjaga tanpa meminta terima kasih. Tanpa itu semua, aku tak pernah punya kekuatan untuk berdiri di tengah hidup yang kadang terlalu bising, kadang terlalu sunyi”.
Ia terdiam sejenak, menatap cangkirnya seakan berharap ada jawaban di dasar ampas.
“Sekarang beliau sudah tiada. Dan aku sungguh menangisi diriku sendiri—yang kini merasa tak lagi memiliki sesuatu yang keramat untuk kujadikan pegangan."
Kata-katanya menggantung di udara. Lama. Tak ada yang berani menyela, seolah kesedihan itu terlalu suci untuk dibantah, terlalu dalam untuk disentuh dengan kalimat yang tergesa. Tak banyak yang bisa kukatakan, karena aku belum pernah berdiri di tempat yang sama dengannya — belum pernah kehilangan seorang ibu. Perlahan ku coba menyentuh perihnya dengan seutas kata yang mudah-mudahan tak melukai:
“Kalau dulu Tuhan meminjamkan seseorang sebagai tameng dan naungan untukmu menjalani hidup, maka saat Tuhan mengambilnya kembali, berati Tuhan pun sudah menjamin, bahwa sekarang kamu telah cukup kuat untuk meneduhkan hidupmu dengan doa-doamu sendiri”
Kita tak pernah benar-benar siap ditinggal oleh seseorang yang menjadi suara sunyi kita di langit. Tapi hidup terus berjalan, dan iman kita pun harus terus belajar dan berkembang.
Dan Tuhan, yang dulu hadir melalui pelukan ibu, kini mengajarimu cara menemui-Nya langsung: dalam sepi, dalam sajadah yang mungkin basah air mata kerinduan, juga dalam langkah-langkah yang tertatih namun selalu jujur.
Langit masih mendengar, dan Tuhan tidak pernah alpa.
—————————
Dan angin malam kota terasa ikut memeluk luka yang tak terucap, seolah paham, bahwa ada duka yang tak minta dihibur—hanya ingin dihormati dalam diam.
- Yogyakarta, Agustus 2025

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Belajar memberi ruang pada orang lain yang tak selalu bertindak sebagaimana mestinya, dan pada diri sendiri yang pun tak selalu sanggup seutuhnya.
Sebab memahami sesama tak pernah sesederhana menilai benar atau salah—begitu pun saat belajar memahami diri sendiri.
Yan, kala dunia mengecil dalam pandanganmu, jangan lekas menyangka Allah tengah menjauh.
Tetap percaya dengan syukur dan sabarmu, bahwa Ia sedang menggugurkan segala yang semu, agar yang hakiki lekas kau peluk. Ketika langit tampak dekat ke ubun-ubun dan bumi terasa mencengkeram langkah, bisa jadi itu adalah ruang suci tempat hatimu dilatih untuk kembali merunduk.
Yan, ksempitan hidup tak selalu berbicara tentang kurang—kadang ia perantara limpahan yang belum sempat kau kenali. Ada berkah yang disembunyikan dalam nestapa. Ada Kautsar yang sedang diramu, bukan dalam gemerlap, tapi dalam senyap. Dan saat waktunya tiba, kau akan tahu: sabarmu telah menjelma kunci dari pintu-pintu yang kau kira tertutup selamanya.
Yan, Allah punya cara yang lembut untuk membentuk jiwamu—lewat luka yang halus, sepi yang teratur, dan harapan yang ditundukkan.
Allah kirimkanmu redup, bukan untuk membunuh cahaya, tapi agar kau peka pada sinar yang benar-benar berasal dari-Nya. Sinar yang tak menyilaukan mata, tapi menyala di relung kalbu.
Yan, ada saat di mana engkau sedang dikecilkan dari dunia, agar ruang jiwamu dilebarkan untuk akhirat.
Terkadang, justru dalam keadaan tercabut dari segala yang nyaman, kita temukan bahwa tangan kita masih menggenggam dzikir, dan itulah cukup. Sangat cukup.
Yan, tak mengapa jika hari ini kau berjalan dalam kabut. Tiap langkah yang terseok tetap dihitung-Nya. Jangan risau jika dunia mengecil; bisa jadi itulah tanda bahwa Al-Kautsar-mu sedang tumbuh, diam-diam, dalam lorong waktu yang telah disiapkan khusus untukmu.
Karena tak semua karunia datang dalam bentuk tawa atau pelukan. Sebagian datang dalam bentuk jeda, diam, dan air mata yang tak bersuara. Dan justru di situlah, Tuhan paling dekat—membisikkan bahwa ujian ini bukan akhir, tapi jeda sebelum kelimpahan yang meluber.
-Semangat kembali dalam merawat sabar dan syukurmu ya, Yan!-
Jalan Monjali, YK 2025