Semburat merah kuning yang membara, tetapi tetap santun.
Mengisyaratkan semangat yang berapi api, tetapi seolah teredam.
Senja yang muncul sebentar untuk menghangatkan. Sekilas menawarkan ketenangan. Lalu sedetik kemudian dilibas oleh kelam menuju malam. Gelaplah cakrawala, tanpa sisakan nyala.
Paham tidak? Senja adalah jeda singkat.
Di sekian nama tak berarti, yang tak menetap, tetapi sempat lewat meski bukan berarti terlewat. Nama nama itu tetap ada. Di tempatnya yang semula. Menyempurna memori di tiap pertemuan.
Itulah senja. Ia mengajarkan kita agar menghargai sesuatu yang hanya sekejap. Untuk kemudian kembali pada nyata, melanjutkan apa yang ada.
Apakah kamu senja? Apakah aku senja? Ah, rasanya tidak!
Pernah kan, suatu waktu di tepian hari, kamu lupa pada gurat wajah yang datang padamu meski hanya sekejap?
Kamu dan aku tidak akan pernah menjadi senja!
Hatimu pun hatiku seperti burung. Yang selalu berkelana.
Mencari langit yang lain, berharap akan menemukan ruang langit yang sempurna. Dan terus mencari hingga lelah, hingga engkau sadar bahwa di ruang langit yang sebelumnya ternyata kenyamanan itu ada meski hanya merasainya sembari lewat saja, tapi kau dan aku tak bisa kembali ke sana karena kepak sayap itu terus saja maju, lantas kau dan aku menyesalinya.
Tahukah? Kepak sayap itulah yang dinamai ego. Kadang kita tak bisa mengendalikannya. Out of controll kata orang.
Kadang semua berbalik, diatas normal kata peterpan. Yang harusnya ego kita kontrol, malah ego yg mengontrol kita.
Ego kadang menang, inginkan jabatan tinggi, inginkan sanjungan, inginkan unggul diantara yg lain, inginkan saingan di bawah kita.
Kadang kita tak sadar, kapan saatnya controll itu kembali pada genggaman kita. Sebelum akhirnya ego itu sendiri yang akan mematikan jiwa kita.
Manifestasinya, jiwa kita jadi kosong melompong.
Sadar tak? Kau tak sempurna, begitu juga aku. Kita berdua, atau kita semua ini, bak burung yang tak pernah puas, kita ini serakah, loba, tamak. Inginkan yang sempurna meski nyaman telah dirasa.
Paling tidak, mari belajar bersama senja, yang tahu bagaimana menghargai kesekejapan, dan yang tahu bagaimana mengalahkan ego.