Pada Pohon, Daun, dan Udara Kita Belajar
âPada Pohon, Daun, dan Udara kita bisa belajarâ
 Weekend terakhir di bulan ini sekaligus yang paling ku tunggu; menikmati Autumn berlatar Gunung Fuji
Adzan berkumandang dari ujung kawasan wisata disini, masjid satu-satunya. Aku terpaksa harus berjalan kaki 15 menit dahulu agar sampai kesana, batinku. Masjid yang tidak terlalu besar, tetapi memiliki model arsitektur yang modern, lebih mirip kafe-kafe mewah ibu kota kita bahkan jika dibandingkan.
Waktu melesat cepat, 3 tahun sudah kehidupanku berlanjut labuhannya di negara yang penduduknya termasuk salah satu yang paling prduktif di dunia, workaholic
Kulepaskan sepatuku, tatkala sampai di pelantaran masjid, bersiap mengambil wudhuâ. Imam mengumandangkan takbir pertama sesaat setelah wudhuâku selesai, buru-buru ku ikuti dia. âkapan terakhir kali aku merasakan kenikmatan beribadah? Tak taulah, kota ini begitu sibuk, mungkin pula orang-orang beribadah hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja, tapi siapa peduli?
Selang beberapa saat imam mengucap salam, dengan tetiba berlarian memisahkan diri dari shaf menuju ke pojok masjid, sekelompok anak kecil, kemudian membaca mushaf Al Qurâan. âkapan terakhir kali aku mengaji? Tak taulah, mungkin ramadhan kemarin setelah aku gagal mengkhatamkannya, mungkin pula debu telah menutupi mushaf tersebut. Kota ini begitu sibuk, tapi siapa yang peduli?
Kau tau? Anak kecil tersebut melantunkan ayat-ayat keagungan tersebut dengan khidmat dan merdu, tersentuh hatiku mendengarnya, astaga, merdunya, melesat menusuk ke sanubari menghancurkan segala keangkuhan. Lantunan merekalah yang akhirnya menggerakan hatiku untuk membuka Mushaf Al-Qurâan di gawaiku. Kupilih acak daftar surat, konon katanya ketika kita memilih ayat secara acak maka itulah yang relate dengan kondisi kita. kubaca demi huruf, baris demi baris, ayat demi ayat. Pada akhirnya aku menyerah setelah berkutat 10 menit dengan kitab suci tersebut, terhenti persis pada ayat 101 surat yunus, kubaca artinya âkatakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi, tidak berguna itu semua dan para Rasul pemberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman!â
Pagoda Curheito, tempat terindah di kota ini untuk menikmati Autumn berlatar Gunung Fuji. butuh 30 menit perjalan yang lumayan menanjak untuk sampai kesana. Seperti yang kusampaikan tadi, hari ini Weekend; banyak kutemui muda-mudi berlalu-lalang, bahkan pasangan tua pun tak kalah banyak, mengenang masa lalu mungkin. bagi orang sini, salah satu cara terbaik untuk menunjukkan rasa sayang yaitu dengan mengenang masa lalu.
astaga, kapan terkahir kali aku jatuh cinta? Entahlah, mungkin saat itu; saat perasaan itu dipaksa gugur, bahkan saat musim semi sedang mencapai puncak keindahannya, dipaksa menyerah pada kenyataan bahwa âdiaâ lebih memilih jalan âperjodohanâ dari orang tuanya, suatu adat yang masih dipegang kuat oleh orang tua kolot disana. Kenyataan yang mungkin belum bisa kuterima hingga saat ini; yang mungkin pula makin membulatkan tekadku untuk melanjutkan labuhan hidupku di kota ini, Yamanashi, Jepang.
Hanya butuh 15 menit bagiku, untuk sampai ke Pagoda curheito, Hemat setengah waktu perjalanan. Wajar saja, aku dahulu penggiat alam, sebulan saja bisa 2 sampai 3 gunung kudaki, tak sebanding dengan trek wisata seperti ini.
terlihat muda-mudi berlalu-lalang, beberapa berfoto-ria, banyak pula pasangan tua yang duduk manis dibangku taman, berpegang erat khidmat, seolah itu adalah kebersamaan yang terakhir.
 Kapan aku akan jatuh cinta lagi? Entahlah, akupun tak begitu mempedulikannya apakah aku akan jatuh cinta lagi atau tidak. Sudah tebal kuping ini ditanya beribu pertanyaan dari orang tuaku di seberang sana âkapan mau nikah?â atau sindiran tentang anak tetanggga yang telah banyak menentukan pasangan hidupnya. Bahkan, pamanku; yang satu atap dan mengurus hampir seluruh keperluanku di sini pun kerapkali gencar ingin memperkenalkanku dengan anak tetangga.
Tapi aku adalah aku; yang sejak 3 tahun lalu terlalu apatis dalam hal-hal yang berbau romantis, hal-hal kasmaran, atau yang berbau cengeng. Meskipun dibalik sikap apatisku kepalaku selalu bising tentang optimisnya aku akan menemukan sosok penggantinya tapi setengah hatiku pun menggubris bahwa ia belum sepenuhnya sembuh. Terlalu hipokrit mungkin.
 Angin menerpa wajahku, Gunung Fuji berdiri tegak nun jauh disana. Autumn yang sempurna, pikirku. Daun Maple dan Ginko pun kembali berguguran disini dengan warna orange kecokelatan indahnya. Aku menikmati semuanya, meski dengan sedikit perih di dada.
Segerombolan anak kecil berlarian di depanku, salah-satu dari mereka menabrakku, âGomenasai!â (maaf!), aku mengiyakan. Ternyata anak yang tadi di masjid. Kembali kunikmati pemandangan sekitar, menghirup udara dalam-dalam sambil sesekali mengambil foto. Mungkin karena kemunculan segerombolan anak kecil tadi yang mengusik ketenanganku, dengan tetiba aku teringat ayat terakhir yang kubaca tadi.
âkatakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langi dan bumi, tidak berguna itu semua dan para Rasul pemberi peringan bagi orang-orang yang tidak beriman!â
âPerhatikanlah apa yang ada di langit dan bumiâ terus bising di kepalaku. Kuperhatikan Pohon Maple dan Ginko yang kembali kehilangan daunnya. Kata seorang teman pun menatap pohon mengajarkan kita kekuatan. Kutatap pohon maple tersebut dengan tatapan penuh kagum, sebab, bagaimana mungkin ia tetap dapat berdiri kuat, sementara melihat dedaunan yang selama ini ia pertahankan justru pergi kemudian meninggalkan?
Kutatap daun maple yang berguguran di terpa angin; daunnya yang mungkin sedikitpun tak pernah membenci angin yang membuatnya berguguran jatuh, tanpa keluh, meskipun ia telah berjuang dengan peluh.
âPerhatikanlah apa yang ada di langit dan bumiâ Inikah cara Tuhan mengajarkanku menjadi kuat?
âKuat itu sepeti pohon dan daunâ celetukku dalam hati.
Kembali kunikmati pemandangan sekitar, menghirup udara dalam-dalam
âIkhlas itu seperti udara, tak pernah terlihat, namun selalu ada. Ternyata persepsiku keliru selama ini. Cinta menjadikan kita kuat dan ikhlasâ lanjutku.