Seringkali kita merasa bahwa hidup kita adalah yang paling bermasalah dibandingkan yang lain, setidaknya perasaan yang sama juga saya rasakan hingga beberapa saat yang lalu, sesaat sebelum bertemu mas taufik, alumni se-jurusan, di warung kopi depan PGN-Saka Energy-Gresik.
“Mas, kalau anda bertanya-tanya mengapa saya sering ceramah mengenai ketidak-becus-an angkatan jaman sekarang, termasuk angkatan anda, maka coba dengarkan cerita orang di depan ini (sambil menunjuk ke arah mas taufik)”, kata pak Ridho, dosen saya (yang mengajak proyekan).
Sesaat kemudian, saya mengatur posisi duduk sembari bersiap dengan apa saja kisah senior saya yang satu ini.
“Coba ceritakan masa kecilmu, fik”, ujar pak Ridho kembali bersuara.
Ia pun segera mulai membuka kisahnya, “Dulu saya pas kecil, tinggalnya di desa. Disana, saya tinggal di kontrakan bareng sama keluarga. (notabenya, orang desa sebagian besar punya rumah mereka sendiri) Ayah saya cuma seorang makelar barang-barang antik, anaknya banyak, jadi ya makan-sekolah seadanya saja, yang penting kenyang-selesai. Berhubung saya sedikit lebih pandai, akhirnya disuruh kuliah. Biar tak membebani orang tua, saya selalu ikut proyekan sama pak Ridho. Hitung-hitung bisa bantu orang-orang di rumah lah.”
Pak Ridho pun segera menimpali (bertanya ke saya), “Gimana kalau sampeyan mas, orang tua bisa makan tiap hari kan?”
“Alhamdulillah masih mampu pak”, ujarku pelan.
“Nah, itu bedanya. Mas Taufik ini kuliah, tapi masih mikir orang tua nya makan apa hari ini. Angkatan sampeyan dan yang lebih muda kan sudah tinggal belajar, kuliah. Gitu kok ya ngeluh terus kalo di kelas dapat tugas ‘rada’ berat. Padahal kerjaan nya ya ngapain, padahal nyari uang saja ndak. Cuma mikir besok makan apa enaknya, bukan besok makan apa ndak.”
Ibaratnya, kali ini sang jendral sedang menusukkan pedang pada prajurit tepat di dadanya. Aku terdiam, malu dan tak berani melawan.
“Lanjutkan mas Taufik ceritanya”, ujarnya.
“Terus pas mau semester akhir, saya nda punya uang buat biaya kuliah. Akhirnya saya mau cari uang dulu. Waktu itu, seingat saya pak Ridho pas menelpon, saya sudah ada di tengah laut -lagi cari ikan biar dapat uang. Beliau langsung bilang saya harus kembali (hari itu terakhir frs-an), urusan biaya katanya biar beliau yang urus. Tapi saya nda mau, soalnya saya nda mau merepotkan orang-lain, saya bukan tipe orang yang suka dikasihani. Akhirnya kata beliau, ada proyekan dan bayarannya bisa saya ambil dulu buat biaya kuliah, baru saya mau. Walaupun ternyata proyekannya sebenarnya masih tiga bulan kemudian. Istilahnya cuma biar ada alasan saja buat bayarin saya kuliah”, ceritanya sembari menyalakan lagi sebatang rokok.
Kali ini, anggap saja saja luka di dada si prajurit makin melebar. Ia sedang meratapi kelakuannya yang uang kuliah-makan saja masih bergantung pada orang tuanya hingga kini.
“Setelah lulus, saya ditawari jadi dosen di jurusan. Saya sudah setuju dengan syarat segera kuliah lagi S2. Saya lanjut di Cina, dek. Setahun kuliah, saya pulang dan nikah. Kemudian kembali buat melanjutkan thesis saya. Pas saya di Cina, ayah saya wafat. Jadi ibu saya sendirian, saya nda tega. Saya nda melanjutkan master saya. Saya pulang ke Indonesia, pamit ke pak Ridho soalnya beliau salah satu dosen yang merekomendasikan saya ke jurusan.”, ujarnya seraya menyeruput kopi hitam pesanannya.
“Masih ingat apa yang mas Taufik bilang waktu ketemu saya buat pamitan mas? Saya masih ingat betul, malah saya yang berkaca-kaca waktu itu. Bingung kok ada manusia yang bahkan sampai di gerbang mau sukses saja masih berat cobaan yang diberikan. Padahal tinggal sedikit lagi lho waktu itu.”, ujar pak Ridho.
Mas Taufik mengangguk lalu menjawab, “iya pak, masih ingat kok pak. Waktu itu saya jawab, namanya juga hidup pak.”
Sontak, si prajurit itu sudah tak di berdaya lagi. Saat ia mengeluhkan betapa kerasnya perjalanan yang ia lalui, ternyata masih ada mereka yang berjalan melalui duri tajam hanya untuk mencapai mimpinya.
Ia melanjutkan ceritanya, “Awalnya saya bingung mau kerja apa, yang penting dapat uang dulu biar ibu bisa hidup layak. Saya akhirnya ikut teman, anak sipil, di kontraktor. Saya nda punya modal apa-apa dek. Setahun, akhirnya saya berani buat kontraktor saya sendiri, sampai sekarang. Alhamdulillah, sekarang saya sudah punya rumah sendiri. Ibu saya kasih modal buat buka toko biar bisa hidup lebih baik.”
Seketika pak dosen berucap, “Jadi, sudah ngerti kan kenapa saya bilang mahasiswa jaman sekarang lemah dan tukang mengeluh? Lebih pinter sih oke, tapi buat apa kalau nanti nda bisa hidup, mas?”
“Iya pak, sangat mengerti”, jawabku -si prajurit.
Tak ada sukses tanpa pengorbanan. Tak ada perjalanan tanpa tantangan. Tak ada hasil yang baik tanpa proses yang berliku.
Tak ada jalan pintas dalam hidup, kan?
Mari merenung, memilih jalan yang terbaik untuk di esok hari. Menyadarkan hati bahwa hidup adalah perjalanan satu arah, ada pemberhentian, ada berbagai persimpangan, namun tak ada jalan kembali. Mari menikmati semua masalah seraya seraya menjaga kesadaran bahwa masih banyak orang -yang lebih bermasalah- namun nyatanya mereka yang lebih hebat.
Jadi, mengapa harus mengeluh jika kelak patut untuk diceritakan?
-Ananta, pencari kisah.
21 Agustus 2017