Batu So’on Bondowoso, 2023
Waktu pulang ke Bondowoso di lebaran kali ini, saya menemukan teman melancong baru. Sepupu jauuuuuuhh sekali. Jauh dari jarak temu, juga galur marga. Mereka yang kemudian mengajak saya menyusur kabupaten kecil ini.
Tahun ini saya mendapatkan jatah libur yang cukup panjang dari kantor, sekitar sepuluh hari untuk hari raya. Ibu juga memutuskan untuk mengambil cuti. Kami sekeluarga bersepakat untuk menghabiskan hampir seluruh hari libur ini di Bondowoso dan Malang.
Saya sudah membawa laptop, buku, dan aneka rupa barang tempur lainnya untuk berjaga-jaga terhindar dari kebosanan selama liburan. Saya memang tidak merencanakan banyak perjalanan. Hanya ingin datang karena sudah lama tidak pulang.
Namun, saat berkumpul dengan keluarga besar di hari raya, seorang kerabat nyeletuk, “besok kalo ke Bondowoso kabarin, nanti diajak jalan-jalan. Ayo, besok ke Batu So’on!” Tentu saja dengan riang gembira saya menyambut tawaran tersebut.
Saya, ibu, adik kemudian diangkut oleh Budhe Yanti, Mbak Ovin, Mbak Iving, dan Mas Ipang menuju salah satu kawasan Ijen Geopark tersebut. Sekitar jam 8 pagi kami berangkat. Mbak Ovin sendiri yang menyetir.
Batu So’on adalah situs sejarah berupa batuan-batuan yang tersusun secara alami membentuk pilar-pilar tinggi secara. Mirip Stonehenge di Inggris. Konon katanya situs ini terbentuk di zaman megalitikum. Dulu area ini pernah menjadi tempat perkumpulan dan pertapaan para abdi Kerajaan Majapahit.
Sebelum bernama Batu So’on, situs ini dikenal dengan Batu Solor. “Solor” berarti sulur. Tanaman-tanaman rambat menutupi batuan besar tersebut. Pemukiman di sekitarnya juga disebut Desa Solor, berada di paling atas Kabupaten Bondowoso. Sementara itu, “So’on” sendiri artinya susun, “Batu So’on” adalah batu yang disusun.
Karena letaknya berada di puncak pegunungan, akses jalan menuju lokasi ini cukup menantang. Jalanan sempit dan kanan-kirinya banyak parit. Belum lagi jalannya berupa tanah dengan banyak bebatuan. Perjalanan ke sini terasa seperti off-road.
Hanya saja, perjalanan menantang sekitar 1 jam dari pusat Bondowoso tersebut kemudian akan terbayar dengan pemandangan dan udara sejuk di atas sana. Hamparan hijau mengelilingi seluruh jarak pandang. Gazebo-gazebo dengan warung makan disiapkan untuk para wisatawan menikmati pemandangan. Kami sendiri langsung membuka bekal dan melahapnya bersama. Kondisi area yang sepi juga menjadi nilai tambah untuk pelancong bersantai dalam plesirnya.
Sayangnya, waktu saya datang ke sana, akses menuju objek utama batu susun masih dalam pembangunan. Alhasil, saya hanya bisa melihat bangunan “ajaib” tersebut dari jarak jauh. Batu-batuan itu juga sedang ditutupi oleh tanaman rambat yang membuat struktur bertumpuknya semakin tidak kentara. Hanya beberapa spot saja yang bisa terjamah untuk diambil potretnya.
Sekitar setengah hari saya dan keluarga menghabiskan waktu di Batu So’on. Pas untuk melipur penat dari hidup perkotaan. Sepulang dari Batu So’on, kami memutari lagi pusat kota untuk mengisi perut kosong. Banyak warung makan yang masih tutup karena libur lebaran. Dan mie ayam akhirnya menjadi penutup perjalanan hari itu.
“Jangan kapok, ya! Masih ada Kawah Ijen, Pantai Pasir Putih, Gunung Bromo, dll. Besok kalau ke Bondowoso lagi kabarin aja, nanti jalan-jalan lagi,” kata Budhe Yanti di ujung perpisahan. SIAP!!!
-alcaristia-
280523
Semarang