Bagian 7 - Hati Kecil Paling Kerdil
Moy jadi sering pulang larut. Awalnya Tara bertanya singkat seperti, âDari mana?â atau, âSudah makan malam?â Lama-lama Tara hanya diam karena bingung harus bagaimana. Tara hanya terus menyiapkan sarapan, bekal makan siang, dan makan malam, meski setelah pertengkaran akbar itu, Moy dan Tara hanya bicara seperlunya. Pada suatu pagi, Moy meminta Tara untuk tidak membekalinya makan siang karena Moy akan makan bersama teman kantornya di luar. Semenjak itu, Tara tak pernah lagi membekali makan siang untuk suaminya. Beberapa kali Tara mengajak Moy untuk bicara, tapi Moy terus beralasan, terus pulang larut, bahkan di hari libur Moy selalu menyibukkan diri di luar rumah yang entah apa. Tara tak pernah tahu. Tara tidak mau pertengkaran kemarin menjadi pertengkaran yang berkelanjutan, hingga di suatu sabtu, Tara langsung menanyakan hal terpenting dalam pernikahannya, âKamu bahagia, gak, sih, sama aku?â
Moy yang sedang memasukkan botol minum ke dalam tasnya dan hendak mencari alasan untuk berkegiatan di luar rumah langsung mamatung. Apakah ia bahagia dengan Tara? Tidak. Kali ini tidak. Dengan kondisi begini, ia tidak bahagia. Namun, lagi-lagi, Moy tak ingin mengatakannya.Â
âBoleh jawab aja gak pertanyaanku yang satu itu?â Tara mulai frustasi dengan perlakuan suaminya. Tara ingin mendengar langsung dari mulut Moy, meski diamnya Moy sudah cukup menjawab.
âSekarang, enggak.â Moy akhirnya menjawab. Tara tersenyum pahit. Perasaannya campur aduk.Â
âAkuâŚminta maaf. Apa sebaiknya kita udahan aja?â Ujar Moy dengan ragu. Ia menatap Tara dengan ekspresi yang luar biasa lesu.
âMaksud kamu? Cerai?â Nada bicara Tara meninggi.Â
Moy mengangguk. Tara tak percaya bahwa pernikahannya ada di tepi jurang. Tara tidak mau terjatuh dan hancur berkeping-keping. Lebih baik baginya untuk mendorong pernikahannya menjauhi jurang dengan babak belur, dibanding terjatuh ke dalam jurang dengan sia-sia.
âKita lagi sama-sama emosi. Aku gak mau ngomong lagi soal ini.â Tara menahan amarahnya, seperti yang selalu ia lakukan bertahun-tahun.Â
âAku anter kamu ke rumah Ibu, ya?âÂ
Tara menarik napasnya dalam-dalam. Ucapan Moy barusan seolah mengusir halus ia dari rumah mereka. Namun, setelah dipikir-pikir, ada baiknya Tara pulang ke rumah Ibu MaeâIbunyaâuntuk menenangkan diri. Mungkin, dengan demikian, baik Moy maupun Tara bisa berpikir lebih jernih. Tara lalu mengepak beberapa pakaian, disertai dengan seperangkat suplemen yang harus diminum rutin untuk mengatasi PCOS-nya. Perjalanan ke rumah Ibu Mae diiringi dengan hening panjang yang paling menyiksa.
Seminggu berlalu, Tara tidak mau bercerita apapun meski Ibu Mae bertanya. Ibu Mae tahu bahwa ada yang tidak beres dengan anaknya. Beberapa kali Ibu Mae mengirimi Kismoyo pesan, tapi tak ada jawaban. Telfonnya pun tak kunjung diangkat Moy. Beberapa kali Ibu Mae berniat untuk bertanya kepada besannya, tapi langsung ia urungkan niatnya dan memilih untuk menunggu Tara bercerita lebih dahulu. Ibu Mae lalu menyarankan Tara untuk bertemu teman dekatnya, Ghea. Tara setuju.
Suara klakson mobil Ghea terdengar keras dan khas. Tara sudah hapal suara klakson ânyamperâ-nya Ghea tiap kali ia menjemput Tara untuk bermain. Suaranya selalu sama dari tahun ke tahun. Tara lalu bergegas keluar rumah dan pamit kepada ibunya. Ibu Mae berharap pertemuan anaknya dengan teman dekatnya akan membuat Tara lebih baik. Setidaknya Tara bercerita kepada orang lain agar tidak merasa sendiri.
Tara dan Ghea sampai di cafĂŠ dengan konsep perpustakaan. CafĂŠ itu ada di daerah Ciumbuleuit, di tengah perumahan yang sepi dan asri. Sejak kuliah, keduanya sering ke cafĂŠ itu. Dari yang sepi, hingga sekarang amat ramai. Dari yang boleh meminjam buku, hingga sekarang tidak boleh meminjam buku. Di tempat itu pula mereka berdua bercerita dan update kehidupan masing-masing.
âMoy ngajak cerai.â Kalimat itulah yang keluar pertama kali dari mulut Tara. Tidak ada ba-bi-bu, langsung ke puncak masalah. Ghea segera duduk dengan sikap sempurna, bersiap mendengarkan cerita teman lamanya itu dari A sampai Z. Matanya kadang ikut berlinang, tak menyangka bahwa pernikahan temannya yang ia pikir sempurna ternyata penuh pilu. Tara memang menghindari media sosial karena ia sadar unggahan teman-temannya hanya membuat perasaannya kian resah. Tidak punya anak, tidak punya pekerjaan, tidak ada yang bisa ia banggakan dalam dirinya. Hilangnya Tara dari media sosial membuat siapapun termasuk Ghea tidak tahu kabar Tara dengan tepat. Â
Ghea pernah beberapa kali menghubungi Tara, tapi percakapan mereka selama ini hanya soal hal-hal lucu yang terjadi di kehidupan mereka. Ghea yang baru potong rambut dan potongannya lebih mirip Dora dibanding model yang jadi acuannya, atau Tara yang malah menarik tangan orang lain di supermarket alih-alih suaminya, hingga Ghea yang operasi wasir dan ternyata dokternya adalah gebetannya di gimansium. Ghea tidak tahu bahwa yang dialami Tara selama ini semenyakitkan itu.Â
âAku harusnya gak resign waktu itu kalau tau akhirnya Moy pengen cerai. BahkanâŚ.salah, gak, sih, Ya, kalau aku nyesel nikah sama Moy? Aku sebenernya gak mau udahan. Tapi, aku gak kuat juag terus-terusan kayak gini.â
âGak ada yang salah, Ra. Keluarga emang rumit. Keputusan yang diambil waktu masa lampau gak bisa dicap salah atau bener karena apa yang kamu putusin waktu itu adalah keputusan terbaik yang bisa kamu pilih.â Ghea mencoba menenangkan.
âAku gak bisa kasih saran yang banyak, tapi kamu udah bicara sama Ibu?â Ujar Ghea.
âBelum. Aku takut dia khawatir. Kegagalan pernikahan bukan suatu kabar yang pengen aku kasih tau ke Ibu.â Jawab Tara sambil memainkan sedotan di gelas minumannya.Â
âCobain, deh. Ibu punya pengalaman yang lebih lama dari pada kita. Lagian Ibu bukan tipe yang kayak si Bunda itu.â Bibir Ghea membentuk rupa wajah menyebalkan ketika menyebut nama Bunda.
âIya, sihâŚnanti kalau aku udah siap, aku bakal cerita, deh.â
Pertemuan mereka berdua diakhiri dengan kisah Ghea yang akhirnya menemukan calon suami yang ia idamkan. Kisah Ghea agak menghibur Tara karena memang temannya yang satu itu selalu mengalami kejadian yang aneh dan lucu. Sepulang dari pertemuan itu, ingatan Tara terus merapal kata-kata Ghea. Keputusan apapun di masa lampau adalah keputusan terbaik yang bisa kupilih. Gak ada yang salah. Gak ada yang salah. Kata-kata itu sebenarnya sudah ada jauh di hati kecil Tara. Pertemuannya dengan Ghea membuat kata hatinya yang semula kerdil berubah menjadi begitu lantang.
Bagian selanjutnya dapat dibaca di Bagian-Terakhir!
Bagian 6 dapat dibaca di sini!