PENGHUNI RUMAH RAKYAT
Gema ruang memecut perang suara Liuk lisan terumpama ampuh senjata Ada telunjuk menusuk liang mata dan hati Kalian berfantasi dengan keji ambisi
Tersandang sebagai penyambung lidah Merengkuh mereka menjelma tugas mulia nan mewah Ah! Tapi itu hanya mimpi manusia jelata sumpah bagi kalian tidaklah bertuah berubah menjadi hal remeh nan murah!
Padahal di luar sana banyak hati teriris berjuta pasang mata tak usai menangis Tapi sayang hati kalian telah mati! kalian tabu tuk berempati!
Menjerit lagi!!! Perut-perut merajuk menanti sebutir nasi Ah! Hidup mereka diperkosa manusia tak bernurani
—– Jakarta, 02 April 2017 Abdul Rahman Hanif 18.30

















