Dari sudut-sudut mataku, terindra orang-orang entah dari mana saja, tiba-tiba memenuhi rumah, di halaman, kolong rumah, pelataran, ruang tamu hingga ruang tengah tempatmu berbaring.
Saat itu, rumah kita penuh tapi hanyalah suara nafasmu yang semakin pelan.. pelan.. lebih pelan lagi dan dzikir lirihmu yang terdengar oleh pendengaranku. Semakin lirih... sunyi.. kemudian hilang sama sekali..
Angin seketika berhenti berembus, luruh entah kemana, lalu waktu seperti berjeda. Tatapanku kosong, jiwaku serasa tak ditempatnya, sedang jiwamu sungguh telah terbang ke dimensi lain.
Air mata dan suara tangis orang-orang yang sejak tadi sama sekali tak kudengar suaranya itu, tiba-tiba terdengar serempak tanpa komando, menyadarkan bahwa ketiadaanmu memang sebuah hal yang niscaya.
Meyakininya, bulir air di pelepa mata luruh jua seolah membawa waktu yang berjeda tadi kembali berputar dengan nyata di hadapan. Mamaku (Rahimahallah) telah pergi dengan iringan dzikirnya yang tak putus dan nafas yang tenang sekali. Maasyaallah.. Semoga Allah selalu merahmati mama~
Mengenang hari itu, ternyata sudah 11 tahun kini. 11 warsa, telah 11 kali revolusi bumi namun bukan lagi kehadiranmu yang jadi "porosnya".
Maka sepanjang rentang waktu di selama ketiadaanmu itu, ada banyak hal yang ingin kuceritakan dan kutanyakan Ma..
Tapi sudah kubungkus dan kuhiasi biar jadi kado terbaik untukmu di setiap waktu. Kusampaikan semuanya kepada Sang Pemilik ruhmu dan juga ruhku.
Harusnya tak ada yang perlu kukhawatirkan.. bukan?
Maka semoga Sang Pemilik Rabbul'alamiin.. kembali mempertemukan ruh kita, akan kuceritakan segala kenyataanku ini diselama ketidakhadiranmu. Biar jadi reuni yang terindah.
Katanya nanti kita bakal seumuran Ma?
Insyaallah kita jadi bestie.. atau sesuai yang Allah ridha dan rahmati saja~