Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Waktu: 8 April 1960
Tempat: Pula (saat itu di Yugoslavia, sekarang Kroasia)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Josip Broz Tito (Presiden Yugoslavia)
Peristiwa: Josip Broz menyambut Soekarno di pangkalan udara Pula, dalam kunjungan kenegaraan Soekarno ke Yugoslavia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: AFP/Getty Images
As an Indonesian I was shocked that Che Guevara and Soekarno were chummies like that?! They met in Indonesia in 1959 and then they met again in Cuba in 1960.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kisah Gemini yang Hadir dan Berakhir di Bulan Juni
BULAN JUNI sudah menyambut di depan pintu. Gara-gara Sapardi Djoko Damono, hujan (dan asmara) selalu jadi topik paling syahdu.
Kamu mungkin tahu: tak ada yang lebih tabah dibanding hujan bulan Juni. Hingga 2021 kini, dilahirkannya kumpulan gemini yang pernah jadi pengiasa negeri ini. Empat dari tujuh Presiden Indonesia lahir di Juni.
Tapi akan kuceritakan satu saja dahulu. Inilah dia: Putera Sang Fajar.
“Tak bisa kutolak matahari/ memaksaku menciptakan bunga-bunga//”
Lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, sejak kecil ia sudah dikenal karena sifatnya yang bengal. Betul, di antara kawan-kawannya dia-lah yang banyak akal.
Sementara anak-anak yang lain mesti setuju dengan segala ia punya tindak-tanduk. Bukan lantaran takut, tapi kawan-kawannya mudah termanipulasi oleh aura kharismatik yang ia bawa.
Bocah ini disebut-sebut punya mata bagaikan kombinasi Elang dan Burung Hantu. Luar biasa dan penuh daya pikat.
“Matamu serupa mata kucing candramawa,” kata eyangnya yang punya pendapat lain soal mata si cucu.
Ketika balita, kakeknya mendaftarkannya ke sekolah di sebuah desa di Tulungagung. Inilah sekolah pertama yang memberi pelajaran baca tulis padanya.
Sekolah ini boleh bangga. Sebab satu tokoh pejuang kaum Marhaen pernah duduk di bawah atapnya.
Kemudian, saat ia bersekolah di Hogere Burger School di Surabaya, bocah kharismatik ini indekos di rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam (SI).
Di rumah sewaan itu pula, ia mulai meminati buku-buku politik dan sosial. Di situ, ia berkenalan dengan Agus Salim, Alimin, Darsono, Moeso dan lain-lain.
Surabaya sudah seperti New York, pikirnya. Satu kota pelabuhan yang ramai nan berisik.
Mungkin karena kondisi seperti itu, ia lebih suka menyepi ke Mojokerto yang lebih damai. Konon, di Mojokerto ia sempat akrab dengan pembantu rumah tangga bernama Sarinah.
Meluapkan keresahan sekaligus rasa penasaran, ia sesekali mulai menulis artikel di surat kabar Oetoesan Hindia, satu terbitan berkala milik SI.
Beberapa tulisannya nongol sebagai tajuk utama. Namun, tak ada yang mengenalnya. Sebab, ia menggunakan nama pena “Bima”.
Kemudian...
Tahun 1920-an atas naif dan kenekatannya, ia melamar cewek londo totok bernama Mintje.
Mbonek (bondo nekad), ia pergi bertemu Papa Mintje. Terheran-heran, Papa Mintje komat-kamit, “Kamu? Inlander kotor seperti kamu? Mintje ndak boleh kawin sama yu!”.
Akhirnya ia menyadari, saat itu ia hanya bisa berkawin dengan perempuan lokal. Lantas, si Bima ini menikahi anak Tjokro dan membawanya ke Kota Kembang.
Saya bayangkan, pasangan kekasih ini berjalan-jalan sepanjang Jalan Braga tiap sore, di atas bayangannya sendiri. Bergandengan tangan, saling tunjuk perhatian.
Mungkin di situ, pada momen itu, si Bima komat-kamit baca sebuah sajak perlawanan akan suatu kedurjanaan ini: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
Namun, nasib berkata lain. Istrinya pergi meninggalkan Bima saat dia sedang sayang-sayangnya.
Perbedaan pendapat dengan mertuanya, Tjokro, berakibat fatal. Bima yang memilih menjauh, bergegas, berkemas, berlayar.
Perpisahan itu membuatnya kerap terjaga. Hidup terasa di ruang hampa. Tak ada rasa, hanya banyak tanya.
Tiada waktu untuk tak bertanya, “Oh, apakah si dara manis itu akan bahagia?” Nyatanya, anak Tjokro itu kawin lagi dan beranak tujuh kepala bayi!
Bima jadi paham betul makna lagu Sal Priadi:
Aku ingin jadi jantungmu
Dan berhenti semauku
Agar kau tahu
Rasanya hampir mati ditikam
Patah hati
Sakit hati bikin ia lebih dekat dengan Tuhan. Bukan lain perempuan.
Dalam sujudnya, Bima tak mengetahui awal dan akhir doa; ia tak pernah tahu kenapa. Yang ia tahu, hidup merupakan kumpulan dari doa-doa pendek.
Dalam proses mencari petunjuk dari-Nya, ia baru sadar jika di dunia ini hanya ada dua jenis pencarian cinta yang saling bertolak belakang.
Yang pertama, perjalanan memiliki cinta dari pasangan hidup; dan Kedua, perjalanan memiliki hidup yang penuh cinta. Pilihan pertama ialah membagikan cinta kepada pasangan hidupnya, sedangkan yang terakhir yaitu menyalurkan rasa cinta kepada lebih banyak manusia.
Sebagai pemuda yang menggebu-gebu atas nasionalisme, si Bima memilih jalan kedua. Cintanya pada banyak orang menggerakkan laku dan pikirnya untuk berjuang meraih pembebasan. Barangkali hidup adalah doa yang…
Hingga ia bertemu dengan perempuan ini. Yang lebih tua 12 tahun dan tak pernah sekalipun menuntut sesuatu yang berarti.
Jiwa nasionalismenya yang meronta-ronta bikin Ia makin galak terhadap penjajah. Artikelnya yang berjudul “Nasakom” lamat-lamat membuat Belanda “moentah darah”.
Bima ditangkap dan diadili oleh para londo. Pengadilan digelar di muka umum. Ia dituduh menyebarkan ujaran kebencian hingga mengganggu ketertiban umum dan sebagai provokator. Dalam pengadilan itu, atas nama bangsa dan keadilan, ia malah balik menggugat!
Panas kuping Gubernur Jenderal Hindia Belanda mendengarnya. Bersama istri keduanya saat itu, Bima dibuang ke Ende, Flores dengan menumpang kapal “van Riebeeck” yang kepayahan.
Pada 14 Februari 1938, datanglah surat yang mengharuskan Bima berpindah ke Bengkulu. Di tanah pembuangan yang baru ini, ia bergabung pada perserikatan Muhammadiyah.
Ternyata, tak hanya diri Bima yang nomaden, hatinya pun ikut berpindah. Di Sumatra, ia jatuh hati pada seorang gadis belia puteri seorang tokoh Muhammadiyah.
“Lupakah kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?” sindir istrinya yang sudah sewot. Bima hanya tersenyum kecil coba memberi tahu dan rayu bak Aldebaran kepada Andin.
Tercatat dalam sejarah, perjalanan hidup yang penuh petualang “bawah perut” telah mencap Bima jadi playboy kelas kakap. Ia adalah The Great Lover.
“Rasio saya nasionalis, hati saya romantis, perut saya sosialis, lalu dari bawah perut ideologi saya itu playboy dan womanizer,” ucapnya terkekeh suatu kali saat perempuan bule mewawancarainya.
Kenpeitai datang bawa banyak impian. Terbuai, Bima berkolaborasi dengan penjajah baru. Oleh karenanya, ia kerap dianggap antek Kenpeitai.
Namun, Bima tak peduli. Kenpeitai, suka-tak suka, membuka kesempatan bumiputera menengok kemerdekaan dari sebuah jendela.
Ia dan kawan-kawannya mulai mempersiapkan dasar negara. Akhirnya terkumpul lima sila. Di mana sila pertama yang tercipta di menit-menit akhir berbunyi begini:
“Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain…,” jelasnya panjang-lebar.
17 Agustus 1945, ia dan seorang kutubuku memproklamirkan satu teks. “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Ia mengklaim bahwa kemerdekaan bangsanya ini bukanlah sebuah pemberian.
Perompak Belanda datang lagi ke negeri merdeka ini usai Kenpeitai akui jadi pecundang. Aksi-aksi bela negara tak terelakkan lagi.
Para pendekar angkat senjata membela tanah air — juga merampok, membunuh, dan memerkosa perempuan londo. Darah bertumpahan pada periode yang disebut ‘Masa Bersiap’ ini.
Perjanjian demi perjanjian dengan Belanda terjadi. Entah menghasilkan tolak dan/atau sepakati. Bersama kawan-kawan seperjuangan, ia meminta keadilan di muka hukum deklarasi. Ia dicap lembek oleh Ibrahim Tan Malaka, si revolusioner klandestin.
Tak hanya sekali tegur. Datuk Minangkabau ini kerap mengkritik Bima karena Bima tak berusaha menghentikan romusha yang menyerabut sekian ratus nyawa.
Memasuki paruh kedua abad keduapuluh, Bima terlihat semakin tua. Pula, ia semakin nyaman di singgasana kekuasaan.
“Tetapi begitu cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai beterbangan dan menyesakkan udara dan…”
Ketika zaman revolusi, Bima dikenal sebagai pribadi yang simpatik, idealis, terbuka dan demokratis. Kini, ia berubah menjelang masa tua. Menjadi orang yang tidak toleran, keranjingan kekuasaan, otoriter dan beberapa orang menyebutnya cabul.
Lantas, ia semakin berkuasa saat dikukuhkan sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Hingga ia tak sadar kalau dirinya sedang dimangsa oleh revolusi yang Bima ciptakan sendiri.
Pada suatu kali tanggal 23 Oktober 1965, kata-kata Bima mencerminkan kengerian, “Bencana 30 September… bisa dianggap sebagai suatu hal yang lumrah, biasa dalam suatu revolusi. Yang terpenting adalah revolusi, bukan saya, juga bukan beratus-ratus Pemuda Rakyat yang telah dibunuh!”
Arogansi dan kepanikan terlihat sangat jelas. Ia akan mendamprat siapa saja yang menentangnya. Kontra-revolusi!
11 Maret 1967, pria bulan Juni lain menggantikan Bima dengan surat super sebelas Maret. Secarik surat yang hingga kini misterius ada di mana.
Konon katanya, Bima menitipkan surat super itu pada pemilik penerbitan buku yang menerbitkan buku Di Bawah Bendera Revolusi!
“Maut dilahirkan waktu fajar/ia hidup dari mata air/ …maut mencintai fajar/ dan mata air, dengan tulus//”
Beberapa purnama kemudian, tepatnya pada Juni tahun 1970, seorang dokter merasakan panas dari tangan Bima. Tubuhnya pun melemas.
Kemudian, tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Bima hembuskan napas terakhir. Ia sendiri dalam sepi.
Seperti sudah digariskan titimangsa kehidupan, Bima hadir dan berakhir di bulan Juni. Di bulan yang basah ini.***
_______________________________________
P.S: Pernah terbit di blog medium.com saya di sini.