Malam ini ku ditemani sepi. Ia mengajakku ke belantara rindu. Katanya, disana ada pohon yang berbisik lirih menyanyikan lagu-lagu. Katanya, ada jangkrik yang mengalunkan rintih lirih. Ada angin dingin berdesis. Ada Owa yang berteriak.
Tapi, saat aku memasukinya, aku hanya melihat wajahmu. Di dedaun, di batang-batang pohon, di rumput dan lumut, di tanah dan lumpur, bahkan di temaram purnama malam ini.
Tapi, aku hanya mendengar bisikan namamu. Bersama suara sengau dan lenguhmu.
Tapi, aku hanya merasa hangat pelukmu. Beserta desir nafasmu.
Aku menemukanmu. Hanya saja, di sana aku kemudian merasa sendiri. Hanya sepi yang mendampingi. Tanpamu.
Kemudian, sepi berbisik, “Kita akan tersesat selamanya jika kau bersimpuh dan menangis terus di situ! Lepaskanlah ia! Gadismu sebentarlagi bertemu bahagianya. Berbahagialah karena itu lalu lanjutkanlah hidup! Meski tanpanya.”
Namun, aku memilih tetap disitu. Terhisap oleh pasir sunyi di belantara rindu. Tertimbun dedaun kenang yang berguguran. Dipeluk dingin angin. Dininabobokkan oleh pepohon yang bernyanyi, jangkrik yang merintih dan Owa yang berteriak.