Pada ilalang yang bergoyang seseorang berbincang.
"Jika ia bukan jodohku, mengapa aku harus jatuh cinta padanya lebih dulu?"
@penaalmujahidah || @komunitaspuanberaksara
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Belgium
seen from Morocco

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Indonesia

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Venezuela

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Panama

seen from United States
seen from Germany
seen from Malaysia
Pada ilalang yang bergoyang seseorang berbincang.
"Jika ia bukan jodohku, mengapa aku harus jatuh cinta padanya lebih dulu?"
@penaalmujahidah || @komunitaspuanberaksara

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mimpiku
Ilalang bergoyang
Disapu waktu
Mimpiku terbang
Ke mana tak tentu
Ku harap ia pergi
Menembus 'Arsy
Menemui Robbii
Menembus batas
Kelemahan diri
Ilalang liar mulai tumbuh kembali, tanpa takut dihempas angin. Si ilalang yang tidak pernah takut, Ia mati dan hidup kembali. Begitu seterusnya, hingga angin pun mulai menghembus dahi-dahinya, kelopak matanya, bibirnya dengan cintanya.
April 2019
ilalang dan sajaknya
Dalam diam yang tak beranjak
Ilalang merangkai sajak
Tentang Hujan, Langit, dan Awan
“tentang perkawanan”
Senyumnya Ilalang berkisah Hujan Hujan. Seperti sendu saja nama itu. Hujan memang sedang bersendu. Menahan rindu. Lamanya tak jumpa Ilalang. Hujan sangat bersendu. Tak tahu kepada siapa mengadu. Langit tak mau mendengar. Awan pun tak lagi bisa. Hujan ingin berlari saja. Meninggalkan Langit, memburu kedamaian. Namun, Hujan tahu. Mereka pernah satu. Hujan, Langit, dan Awan. Mereka pernah berkawan. Dulu.
Ilalang berkisah Langit Langit. Yang sungguh luas. Langit tersenyum puas. Ia kembali berkuasa. Menjadi Langit Sang Adikuasa. Langit tak lagi peduli. Pada Hujan ataupun Awan. Langit telah bahagia. Sendiri. Langit sekarang tak perlu berkawan. Hanya kenangan yang perlahan menghilang. Tentang Awan dan Hujan.
Ilalang berkisah Awan Awan. Sayang sekali, ia telah mati. Dibunuh Langit.
“Hujan takkan pernah ada tanpa Langit dan Awan”
Ilalang mengakhiri sajak itu.
Tepat saat hujan mulai membasahinya.
Ia menatap langit dan kembali tersenyum
“mereka masih berdamai”
---yah.
DAUN YANG JATUH TIDAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
Suatu ketika sebuah ilalang melihat daun yang baru jatuh dari sebuah pohon di dekatnya. Dengan lembut sang ilalang menyapa daun yang tersandar lemah. Lalu, terjadi percakapan antara mereka:
Ilalang: Wahai daun kenapa kamu terlihat begitu lemah? Dan kenapa kamu berada di sini? Bukankah tempatmu jauh di atas sana? Menjulang tinggi bersama tangan sang pohon.
Daun: Ilalang, tidak tahukah kamu bahwa baru saja angin telah melanda sang pohon dan aku?
Ilalang: Angin? Aku tidak merasakan adanya angin yang datang. Sebelum ini aku melihat kamu dan sang pohon baik-baik saja tanpa ada yang menggoyangkan kalian. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kamu terhempas ke bawah dan terpisah dengan sang pohon.
Daun: Entahlah, ilalang. Entah dari sebelah mana angin itu datang. Entah apa yang tepikir olehnya sehingga dia datang saat aku dan pohon tengah merasakan indahnya menjulang bersama menatap langit. Ya, mungkin kamu tidak bisa merasakan angin yang datang tersebut. Karena hanya pohon tinggi yang mampu merasakan angin yang datang menerpanya.
Ilalang: Oh, baiklah. Mungkin memang aku yang tidak menyadari keberadaan angin yang kamu maksud. Lantas, kenapa kamu bisa berada sejauh ini? Bukankah masih bisa kamu berada di atas sana bersama sang pohon? Sebegitu kuat kah angin menggoyangkan seluruh sendi-sendi pohon sehingga kamu terlepas dari nya?
Daun: Ilalang, mungkin bukan hal mudah untukku bercerita kepadamu. Karena sama saja itu memperdalam lukaku. Aku baru saja tergoncang kemudian terhempas. Bisakah kamu bayangkan itu?
Ilalang: Maaf daun jika itu membuatmu sakit. Jika kamu ingin, aku akan ada di sini untuk mendengar ceritamu, sehingga aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi jika kamu tidak cukup kuat untuk berbagi denganku, aku akan pergi meninggalkanmu. Hingga kamu menemukan waktumu untuk berbagi.
Daun: Tidak perlu ilalang, kamu tidak perlu pergi. Kamu telah bertanya, dan tugasku untuk menjawab semua pertanyaanmu. Semoga kamu bisa paham dan mengambil hikmah dari ceritaku.
Daun: Ilalang, entah dari mana aku harus memulai ceritaku ini. Apakah aku harus mengulang membuka semua lembaran-lembarannya?
Ilalang: Tidak daun, kamu tidak perlu mengurai semuanya dari awal. Aku, kamu, dan sang pohon bertumbuh bersama. Sedikit banyaknya aku bisa melihat perjalananmu bersama sang pohon. Jika tidak sanggup kamu mulai becerita dari kisah indahmu, coba ah uraikan bagaimana kamu bisa sampai di sini, berada hampir sejajar, bersamaku.
Daun: Ilalang, kamu tahu, bagaimana aku dan pohon yang awalnya baik-baik saja. Bahkan kami tumbuh bersama-sama sampai dengan setinggi ini. Menjulang bersama, merasakan panasnya matahari bersama, menatap langit malam bersama, dan merasakan dinginnya hujan yang kadang menyapa. Tetapi tiba sang angin datang, mengguncang seluruh sendi-sendi sang pohon. Seluruh badannya bergetar tergoyah. Sang angin tidak menginginkan aku untuk tetap bersama pohon, angin ingin aku terbang bersamanya jauh dari pohon. Karena angin tidak ingin helaian demi helaianku menghalangi sang pohon untuk tetap menjulang tinggi. Kau tahu? Angin yang datang tidaklah sebuah badai, tidak juga sebuah topan yang sekalinya datang langsung memporak-porandakan semua. Angin ini hanya angin lembut, yang datang menyusup dari sudut tangan sang pohon. Angin yang ikut berjalan bersama dengan sang pohon. Hingga akhirnya angin itu mampu membuatku terbang kemudian terhempas dan berada bersamamu saat ini. Ya, Ilalang, angin yang lembutlah yang membuat aku terhempas secara perlahan.
Ilalang: Lantas apa yang dilakukan pohon? Dia membiarkanmu berlalu begitu saja? Tidakkah dia berusaha untuk mempertahankanmu untuk tetap bersama nya? Atau setidaknya, tidakkah dia berusaha untuk bertahan tetap bersamamu? Karena sejauh ini aku melihat pohon menginginkanmu tetap di sisi nya, seolah tidak pernah ingin melepas mu.
Daun: Kamu benar ilalang, kamu benar! Pohon selalu berkata padaku bahwa dia masih merasakan keberadaanku untuknya. Jika kamu bertanya apakah dia mempertahankanku, entahlah. Aku pun tidak pernah tahu apa yang akan dia jawab. Pada kenyataannya dia membiarkan angin membawaku perlahan-lahan jauh darinya
Ilalang: Dan sekarang kamu menerima saja jika dia benar-benar membiarkanmu terlepas darinya? Apakah sekuat itu nuranimu untuk ikhlas?
Daun: Aku? Aku menerima saja? Tidak ilalang, tidak! Sulit bagiku menerima kenyataannya, untuk mempercayai apa yang tengah aku hadapi. Di saat aku berusaha memikirkan langkah-langkahku bersamanya. Dan tiba-tiba semua menjadi begini, tanpa ada pertanda sedikit pun. Ikhlas? Mungkin aku belum menemukan rasa itu di dalam nuraniku. Sakit? Sangat terasa wahai ilalang, menusuk dan menikam rasanya melihat semua berubah begitu saja. Tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa memaksa, walau aku sangat ingin tapi aku tidak bisa memaksakan semuanya dan tidak ada pula hakku untuk memaksa. Semua sudah ada jalannya. Meski bersusah payah aku membangun kata-kata itu untuk diriku sendiri. Jika bisa aku memilih, biar saja aku hancur bersama angin, biar saja! Agar tidak lagi rasakan perih saat aku terjaga. Tapi Tuhan tidak memberikan pilihan itu, ilalang. Aku tidak punya pilihan apapun, aku harus menjalani, aku harus merasakan sakit itu. Karena jauh dari yang aku bayangkan. Tuhan pasti punya cara untuk mengajarkanku, bahkan untuk menghukumku.
Ilalang: Daun, sekarang apa kamu menyalahkan angin?
Daun: Menyalahkan? Sempat terpikir olehku, ini semua tidak adil untukku maupun untuk sang pohon. Tapi aku tidak menyalahkan angin ilalang, tidak pernah! Karena jauh dalam nuraniku, angin punya alasan yang kuat untuk melakukan itu. Angin sangat peduli dengan pohon yang telah lama dia lindungi. Aku bisa mengerti, karena itu aku tidak pernah berpikir untuk menyalahkan angin. Sedikit pun tidak.
Ilalang: Lantas bagaimana dengan pohon? Kamu tidak membencinya? Dia tidak berkata ingin bertahan denganmu atau ingin mempertahankanmu. Malah mungkin saja perlahan-lahan dia mulai berusaha untuk melepasmu.
Daun: Iya, bagaimana dengan sang pohon? Kamu bertanya apa aku tidak membenci? Ilalang, kamu tahu. Tidak mudah membenci hal yang tumbuh bersama dengan kita. Tidak mudah membenci hal yang pernah mengalami berbagai macam kisah bersama kita. Apakah aku benci? Tidak ilalang! Aku tidak benci, bahkan berpikir untuk membenci pun tidak. Tidak ada alasanku untuk membenci. Lagi pula Tuhan tidak pernah mengajarkanku untuk membenci segala sesuatunya, baik itu yang telah meninggalkan luka sekalipun. Bukanlah suatu ketulusan yang aku berikan, jika pada akhirnya aku memilih untuk membenci. Kau benar, sang pohon tidak pernah berkata akan bertahan atau mempertahankanku. Tapi hingga saat ini, aku masih punya keyakinan. Bahwa jauh dalam nuraninya, dia juga tidak menginginkan hal ini terjadi.
Ilalang: Dan kamu percaya? Meski bisa saja sewaktu-waktu dia beranjak menjauh darimu?
Daun: Aku percaya. Hingga aku melihat atau mendengar darinya sendiri. Aku tahu, dia adalah salah satu pohon terbaik yang diciptakan Tuhan. Sehingga aku yakin jauh di balik sikapnya, nuraninya tidak akan memungkiri apa yang sudah pernah dia ucapkan. Tuhan tidak akan pernah membiarkan ciptaan terbaiknya untuk ingkar. Kalaupun nanti keadaan memaksanya untuk ingkar, biarkan. Tuhan lebih tahu segala sesuatunya.
Ilalang: Lantas apa kamu akan bertahan untuk menunggunya? Bertahan untuk tetap menyayanginya? Apa kamu tidak ingin melepaskannya? Bukankah sakitmu bisa terobati jika kamu melepasnya? Dan memulai menjalani harimu tanpanya. Bukankah itu lebih baik?
Daun: Memang, ilalang. Semua yang ada di sekelilingku mengatakan bahwa dengan melepasnya, akan bisa menyembuhkan lukaku. Tapi ketahuilah, ilalang. Melepaskan atau bertahan adalah dua hal yang sama pahitnya. Jika hari ini aku melepasnya sedangkan nuarniku masih ingin bersamanya itu sama saja menyayat nuraniku secara perlahan-lahan. Dan jika aku memilih bertahan dengan selalu mencurahkan semua rasaku padanya. Setidaknya aku tidak menghukum diriku, dan setidaknya aku masih tetap bisa menjaganya dalam setiap do’a dan harapanku. Mungkin dengan bertahan, aku bisa memberikan ruang pada nuraniku ke mana dia akan bermuara. Itu mungkin lebih baik dibandingkan aku harus memaksa nurani untuk melupakannya. Aku belum bisa untuk berhenti di sini begitu saja, begitu juga dengan perasaanku.
Ilalang: Daun, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Sakit memang, mungkin aku belum bisa berpikir sebagaimana engkau berpikir. Tapi sampai kapan engkau akan cukup kuat untuk bertahan? Sampai kapan engkau akan terus menunggunya, mencurahkan segalanya? Sedangkan kamu tidak tahu pasti bagaimana dia akan menjelangmu suatu saat nanti, meski dia sekali pun sangat menginginkanmu. Tapi dia juga tidak bisa menangguhkan rasanya padamu. Mungkin kini kamu memilih untuk bertahan, dan berharap suatu saat sang angin akan luluh dan membiarkanmu kembali dengan sang pohon. Alangkah baiknya jika sabarmu sekarang, terbalaskan dengan terwujudnya pengharapanmu. Namun jika tidak? Bukankah ini akan menjadi hal yang sia-sia? Pahitmu berharap, sakitmu untuk bertahan sama saja tidak terbalaskan. Bukankah itu akan jauh lebih sakit lagi?
Daun: Ah, iya sebuah pengharapan. Awalnya aku juga berpikir seperti itu ilalang, aku juga memiliki harapan seperti yang kamu jelaskan, sangat jelas aku berharap, bahkan sangat berharap. Tapi, melihat bagaimana Tuhan menyayangiku melalui berbagai pengharapanku. Aku menghapuskan harapanku wahai ilalang. Aku tidak lagi berharap. Aku tidak lagi memikirkan akan bagaimana ujung dari sabarku. Aku tidak lagi memikirkan akan bagaimana akhir jalanku bersamanya nanti. Jika akhir dari ini aku bisa tetap bersamanya, itu adalah berita baik bagiku, atau bagi hidupku. Namun jika nanti aku tetap tidak bersamanya, biarkan saja. Mungkin itu yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untukku. Jika tidak ada yang bisa menjamin aku akan tetap bersamanya, maka biarkan. Tuhan yang mengatur segalanya.
Ilalang: Lantas bagaimana dengan dirimu sekarang wahai daun? Kamu tengah terluka. Bagaimana kamu mengobati itu? Bagaimana kamu akan mengumpulkan kekuatan untuk membangun dirimu, untuk bisa bertahan seperti apa yang ingin kamu lakukan. Sungguh, aku tidak yakin melihatmu, karena sedihmu mudah saja terbaca dari rautmu.
Daun: Iya, ilalang. Kini aku terluka, sangat! Karena baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini. Sekalinya berharap, dipatahkan. Sekalinya mencurahkan, segenapnya tertumpahkan. Sekalinya bermimpi, terbantahkan. Biarkan. Biarkan, ilalang. Sakit ini tidaklah begitu buruk bagiku. Karena melalui sakit ini, melalui jalan ini, aku tengah belajar banyak hal. Iya, banyak hal. Aku belajar untuk tidak terlalu berharap, atau bahkan mengubur harapan yang belum aku tahu pasti bagaimana jalannya. Aku belajar untuk tetap menyemangati diriku sendiri, meski tengah terpuruk sekali pun. Aku belajar mulai menata nuraniku sendiri. Aku belajar menata langkahku, agar tidak selalu bergantung terhadap pohon bahkan terhadap ranting sekali pun. Aku belajar menatap sebuah pengharapan atau mimpi tidak selalu indah. Aku belajar untuk melihat segala sesuatunya tidak selalu berjalan sesuai dengan inginku. Aku belajar untuk menghargai apa pun yang datang dan pergi di hidupku. Banyak hal lagi, ilalang. Banyak hal lagi yang ingin aku pelajari dari kejadian yang menimpaku sekarang ini. Jalanku masih panjang ilalang.
Ilalang: Tapi daun, kamu telah kehilangan pohon tempatmu bergantung. Kamu bisa saja layu nantinya. Sedangkan pohon, dia akan tetap bisa bertumbuh bahkan lebih tinggi lagi dari ini meski tanpamu. Apa yang akan kamu lakukan?
Daun: Mungkin aku akan layu, karena tidak bergantung lagi bersama dengan pohon. Tapi aku masih punya Tuhan yang akan menyiramiku dengan kasih sayangnya. Hingga aku bisa terus bertahan, dan menjalani semuanya semampuku. Jika pun nanti aku semakin layu seiring dengan waktuku, itu sudah menjadi jalanku. Untuk sekarang, aku ingin menata lagi nuraniku yang sebagiannya sudah remuk. Ya, itu baru sebagian saja nuraniku yang remuk. Belum semua, sehingga belum terlambat untukku memperbaikinya. Selagi Tuhan masih mendekapku erat di sisi-Nya. Aku akan terus berdo’a. Semoga Tuhan merubah rasa sakit ini dengan ketulusan. Semoga Tuhan merubah rasa sedih menjadi rasa sayang yang semakin ikhlas. Semoga Tuhan tidak membiarkan aku untuk membenci apa pun dan bagaimana pun jalan hidupku. Dan semoga Tuhan menggenggam setiap do’aku. Dan melepasnya di saat yang paling tepat.
Ilalang: Daun, aku tahu bagaimana dirimu. Tidak sekuat itu nuranimu. Tapi aku percaya Tuhan punya jalan yang indah bagimu. Kamu tidak sendiri, sakit tidak selamanya bersamamu. Maka percayalah, kesedihan itu datang bersama dengan kebahagiaan. Hanya saja tidak selalu keduanya muncul beriringan. Aku percaya, nuranimu lebih kuat dari yang kamu bayangkan.
Dan kemudian Ilalang meninggalkan Daun dalam kesendiriannya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dikala engkau terhanyut permainan sang bulan, disini aku mencoba sesederhana ilalang dan sedatar tanah. Menunggumu kembali ke bumi.
Gugusan kata embun dan gersang layaknya ilalang yang merindu pelukan hujan. Kering menerpa juga angin yang mengkaburkan dedaunan kering. Asal jangan disulut dengan kata kata yang merambat luka, atau akan membakar setiap jengkal resahnya. Dan akhirnya mati dikubur duka.
Ilalang Senja
“Naik yuk, Dir” Sepertinya Dira sudah bosan dengar kalimat ajakan itu.
“Emak, aku mau naik gunung” Tampaknya Emak juga sudah bosan dengar rengekan itu.
Aku pernah merasa sangat bosan. Bosan dengan janji-janji orang yang katanya “Kalau lu udah lulus, kita naik deh” atau “Kamu boleh naik kalau udah lulus”.
Sepertinya itu hanya wacana.
Sampai ngantuk saking bosannya. Sepertinya tidur lebih baik dibandingkan mengingat-ingat janji.
Tidur...
Lalu...
Menarik..
Tiba-tiba aku ada di padang ilalang. Tingginya melebihi kepalaku. Aku tenggelam dalam ilalang, tapi tidak tersesat karena ada jalan setapak.
Ilalangnya persis dengan ilalang tempat Jimin lambai-lambai seolah ajak aku ke sana. Persis. Langitnya pun persis. Warnanya pink, campur oranye, campur ungu. Ah, pokoknya syahdu..
Di sepanjang jalan setapak ada rumput warna ungu. Daunnya lembut jika kau sentuh. Sepanjang jalan setapak itu aku berlari, sembari membebaskan ujung jemari menyentuh lembutnya dedaunan ungu.
Aku berlari tenggelam dalam padang ilalang. Tiba-tiba kutemui banyak temanku, salah satunya ada Dira. Lalu kita lari-lari kayak bocah. Masuk ke sela-sela ilalang. Melihat ilalang bergoyang berirama karena tertiup angin sore.
Senja semakin memerah. Warnanya semakin cantik. Ungu, merah, oranye. Ah, syahdu..
Lalu aku terbangun. Aku lihat sekelilingku, hanya berupa tembok abu-abu. Kipas angin dengan kecepatan level 1 masih berputar-putar. Aku lihat jariku. Rasanya nyata sekali. Lembutnya dedaunan, kasarnya batang ilalang, wanginya tanah, dan hangatnya sore itu.
Ah, Allah begitu baik... Saking inginnya bahagiakan aku, mimpi pun berupa padang ilalang di sore hari.
Mari, melukis mimpi lagi