Hari ini kupuaskan menangis sebelum hari H.
Aku ingin terlihat kuat. Bersiap tanpa prasangka buruk. Meminimalisir.
Terbersit jika suatu saat nanti mereka tahu. Jika pun tahu bagaimana? Atau mungkin ketika hari H tiba, mental dan fisik harus kuat dan bangkit untuk kemungkinan terburuk. Jika perlu diangkat atau tidak. Dokter bisa saja merubah keputusannya saat di medan perang. Keputusan mendadak ini pasti di luar obrolan dengan diriku sebagai pasien. Maka, aku harus bersiap. Apapun keputusannya pasti itu yang terbaik. Mereka yang ahli pasti take decision berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Mereka juga memiliki keterbatasan dari apa yang mereka putuskan.
Maka pengharapan dan doa adalah jalan terakhir menuju ke tak yang terhingga, melampaui kemampuan manusia. Entitas yang menciptakan seluruh alam dan Maha Kaya, Allah.
Dan hari itu, bukan dokter lagi ruang berteduh. Hanya Allah, di pikiran, bukan juga suami, atau pun orang tua. Allah saja. Meminta keajaiban menerpa relung hati dan pikiran yang duka ini.
Caci maki dan ekspektasi orang luar, mengharuskan diri ini bersiap bertempur sambil mencari baju zirahnya sendiri. Tameng yang dipakai pun sekenanya.
"Ya Allah berikan aku nikmat beribadah setelah ini, setelah sekian lama hilang dari diri ini. "
"Ya Allah, aku mohon lindungi diri ini dari mereka yang dzalim kepadaku. Ya Allah aku meminta pertolongan Mu. Ya Allah pulihkan aku, sehatkan aku, bimbing dan dekatkan dengan rekan yang menjauhi larangan-larangan Mu, dan mendekatkan diri pada keridhoan Mu."
"Aku juga ingin menikmatinya Allah. Ya Allah, berkahi dan restuilah atas tindakan ku yang terbatas ini. Ya Allah aku berusaha semampu ku, selebihnya kuserahkan pada-Mu. Amin."