Aku bertanya sebuah retoris; yang jawabannya mungkin telah ada di dalam hati tapi sengaja kamu tepis, hingga tak lagi dianggap perlu untuk dijawab.
Kamu tak bisakah melihat ketulusan hatinya yang sejernih embun pagi?
Yang muntah karena terlalu sering menyaksikanmu terluka oleh perangai lelaki lain? Ia yang selalu bersedia menyediakan pundak wangi untukmu, dan jemarinya yang siap kapan pun membantu mengusap air matamu saat kau tak berdaya?
Sulitkah melihat itu semua?
Terlalu mengada-adakah jika hatinya dibungkus rapi hanya untukmu? Hingga ia membiarkan hati wanita yang lain hanya menggantang rindu? Benarkah hatimu sekeras itu? Atau apakah isi kepalamu sudah penuh dengan bunga-bunga imitasi dari lelaki lain yang menurutmu luar biasa hanya karena jatuh cinta?
Lelaki itu, memang tak menjanjikan apa pun, karena khatam bahwa janji akhirnya hanya akan menyakiti jika manusia yang mengucapkannya. Karenanya ia tak selalu datang dengan gula-gula di genggaman. Ia tahu terlalu banyak manis tidak baik untuk peredaran darahmu.
Dia juga lah seseorang yang tidak pernah tenang melihatmu lagi-lagi harus berenang dalam kubangan kenangan yang isinya hanya kunang-kunang; terang sekejap lalu kembali menghilang.
Dia hanya punya rasa tanpa permintaan apa pun, selain melihatmu bahagia; punya doa yang tanpa kamu tahu, selalu dipanjatkan dengan sepenuh jiwa pada Yang Kuasa.
Dia yang sedih, karena kamu salah satu yang setuju bahwa cinta itu buta; bahwa logika mati rasa hanya oleh sebuah sapa. Yang merelakan jalanmu terang sementara dia harus meraba langkah agar tak jatuh.
Adalah lelaki yang dengan tabungan keberanian dan keyakinan serta tulus, meminta kedua orangtua untuk menyerahkan kekuasaan atasmu lalu bersedia menanggung dosa-dosamu, pantaskah diperlakukan seperti itu?
Benarkah kamu tak ingin tahu bahwa bahagia bukan selamanya tentang hidup dengan sesuatu yang kita inginkan? Tak percayakah kalau bahagia bisa diciptakan?
Maaf, aku banyak bertanya, tapi melihat lelaki yang hari-harinya selalu menjadi perhatianku sedang tersiksa rasa, bukan hal menyedapkan mata.