Dulu, waktu awal hamil, setiap baca buku karangan Bidan Yessie tentang Gentle Birth saya selalu nggak percaya kalau melahirkan bisa tanpa rasa sakit. Apalagi waktu beliau cerita beberapa pasiennya melahirkan tanpa mengejan. Apa ya bisa gituuu, kalau bisa saya juga mau!
Alhamdulillah, kuasa Allah, Allah Maha Baik, di kehamilan ini saya diizinkan untuk menjalani proses persalinan tanpa mengejan. Padahal di minus tinggi yang dikhawatirkan ya saat mengejannya. HUHUHU ALLAH BAIK BANGET. Semoga anak kedua dan seterusnya diparingi kemudahan seperti ini Ya Allaaaah.
Persalinan mudah tapi…apakah tanpa rasa sakit? Oh jelas! Jelas sakit hahaha. Tapi sejauh ini saya menikmati itu. Meskipun rasanya nanonano, sempat lemesss juga di bukaan 3 ke atas dan di detik-detik jelang persalinan, ah nantilah saya cerita. :D
Di awal kehamilan, begitu banyak orang yang mengkhawatirkan minus mata yg begitu tinggi. Termasuk saya. Mungkin suami saya juga, meski beliau terlihat kalem-kalem saja. Secara terakhir saya periksa, minus mata udah mau 8 aja, bahkan mungkin sudah 8. Cuma nggak saya turuti kenaikannya, jadilah meski sudah pakai kacamata, pandangan saya masih agak blur-blur sedikit. wkwkwk. Para pejuang minus tinggi memiliki resiko otot retina tidak sekuat teman-teman yang minusnya di bawah tiga. Saat memasuki bulan ke tujuh, dokter kandungan langsung meminta saya untuk pergi ke spesialis mata supaya tahu tekanan otot retina dan kekuatan mata.
Waktu diminta ke spesialis mata rasanya…Deg degan! Panas dingin. Tapi saya tetep afirmasi positif; kalau mata saya nggak kenapa-napa. All is well. Saya sering gitu…setelah sholat biasanya, atau di saat senggang dan keinget, saya elus-elus mata sambil bilang, “sehat-sehat yaa, bantu aku lahiran normal ya, mata!”. Alhamdulillah juga, di zikir ma’tsurat ada doa untuk kesehatan mata, biasanya saya baca sambil elus-elus mata dan telinga XD :
“Allahumma ‘aafini di badani, wa’aafini fi sam’i, wa’aafini fii bashori.”.
Sambil nunggu panggilan dokter spesialis mata, saya nggak berhenti baca doa itu. Saya ulang-ulang.
Alhamdulillaaaaaah, setelah drama kecemasan akan mata sendiri-tapi-mencoba-tetap-optimis, dokter spesialis mata bilang meski minus saya tinggi, tapi tekanan dan tensi mata normal. Masya Allah, rasanya LUEGAAAAAAA PUOOOOOL, tapi…dokter spesialis mata bilang, saya nggak boleh sampai ada tindakan induksi medis lebih dari tiga kali dan tensi saya harus normal (tidak tinggi). Perjuangan tidak berhenti sampai disini untuk bisa bersalin normal, justru baru dimulai!
Berarti saya harus menghindari dua hal itu! Menghindari induksi medis dan tensi tinggi. Mulai deh ikhtiar dilipatgandakan menjelang persalinan. Supaya nggak ada induksi-induksian, berusaha nggak stress juga biar tensi nggak naik. Bismillaaah, berbekal beberapa buku dan kelas online saya mulai rajin lagi dan meniatkan diri supaya persalinan berjalan lancaaarrrr. Dan inilah ikhtiar yang bisa saya lakukan jelang persalinan :
Beli gymball : memasuki bulan ke-8 saya mulai beli gymball untuk olahraga ringan. Karena olahraga pake gymball seru bangettt, nggak kaya olahraga, malah kaya mainan!
Ikut senam hamil : karena satu dan lain hal, saya dan suami memutuskan nggak ikut kelas yoga. Tapi saya tetep ikut kelas senam di RS HappyLand. Sebenernya bisa aja sih senam sendiri di rumah, tapi manfaatnya senam sama-sama itu bisa dapet support dari sesama ibu hamil dan ada instrukturnya yang benerin gerakan kita. Di senam hamil saya juga diajari teknik pernapasan saat pembukaan, relaksasi, dan cara mengejan.
Tetap memantau kesehatan janin : Healthy mom, healthy baby! Tetap makan makanan yang bergizi, rajin kontrol (sesuai waktunya) ke dokter/bidan, minum suplemen yang dibutuhkan ibu hamil. Kalau janin sehat kitanya nggak mudah stress. Saya hobi nyemil kurma ruthob, alhamdulillah masih musim yang setengah matang hihi. Rebusan air kacang hijau dan air kelapa muda juga baik untuk janin. Untuk bumil yang BB Janin sudah berlebih, sebaiknya melakukan diet sesuai kebutuhan janin. Jangan lupa minum air putih minimal 3L dan minum susu :D
Rajin update ilmu : Semakin bertambah usia kehamilan, tentunya bertambah dan berganti pula keluhannya, nah disini ilmu dibutuhkan. Semakin kita berilmu, semakin rendah kecemasan kita. Makanya, saya doyan banget ngelonin buku segede gaban wkwkwk, rekomendasi buku kehamilan ; Gentle Birth Balance yang ditulis Bidan Yessie dan Superbook for Supermom yang ditulis grup SAM. Selain itu, kalau ada seminar-seminar boleh banget ikutan! Saya juga ikut kelas online bersama bidan yang diselenggarakan @bidanmudabergerak. Alhamdulillah ilmunya terpakai.
Cari teman bumil : Teman sesama bumil dibutuhkan, gunanya buat saling support dan berbagi ilmu. Alhamdulillah, saya hamil bebarengan sama @luthfitriana, @dokterfina, dan @yulialatifah. Ilmu dan supportnya mantep-mantep, kami juga satu grup dimana-mana rasanya XD. Maaci mbak-mbakkuuuhhh!
Cari dokter atau bidan yang support melahirkan secara normal : Dokter kandungan saya gonta-ganti sejak bulan pertama, dan baru menemukan ke-sreg-an di bulan ke delapan sama dokter yang membantu saya dalam persalinan. Saya gonta-ganti karena mencari dokter yang sevisi dengan saya, alhamdulillaah ketemuuu dan deket bangettt sama rumah, padahal sebelum-sebelumnya dibelain sampai mbelah kota Jogja demi cari dokter :D
Jalan kaki dan berdayakan diri! : Ini puentiiing! Hamil bukan berarti kita malah tidur-tiduran. Kalau kita males, bukaannya juga nanti males-malesan karena fisik kita belum pemanasan. Beda yaaah tetap aktif dan kecapekan. Tentunya kita sendiri yang bisa mengukur sampai sejauh mana aktivitas fisik yang bisa kita lakukan. Rajin-rajin juga olahraga ringan untuk mempercepat pembukaan (ini dilakukan untuk kehamilan usia 8bulan ke atas yah, kalau yang ekstrim malah amannya untuk 35weeks ke atas), seperti njut-njutan di gymball (ini saya perhari min 30 menit), senam kegel, duduk tailor, duduk butterfly, goyang pinggul/ pelvic rocking (aman untuk 36w ke atas), squatting (khusus 36w ke atas), jongkok-jongkok (mulai 36w semua saya jongkokin! Mulai iris-iris sayur mayur buat masak, sampai mandi. everydayyy!), jalan kaki minimal 30menit sehari, senam hamil sendiri di rumah, dan biasakan pernapasan lewat perut. Sampai di bukaan 3 sebelum ketuban rembes, saya masih jalan kaki sambil goyang pinggul, karena gymballnya ketinggalan di rumah hahaha.
Briefing sama suami soal persalinan : katakan do and don’ts kepada suami menjelang persalinan. Sering-sering curhat juga ke suami biar lebih rileks dan suami tahu perkembangan serta kesiapan psikologis kita jelang persalinan. Yang melahirkan bukan cuma ibu-ibu, tapi bapak-bapak juga berperan besar di proses persalinan. Selama bersalin rasanya saya harus banyak-banyak terimakasih sama mas @kurniawangunadi :”D
Mendekat sama Allah : ini hajat besar loh, kalau kita semakin menjauh dariNya, kepada siapa lagi kita memohon pertolongan? Perbanyak amal yaumi, jangan lupa ngaji untuk obat hati, sedekah untuk melapangkan, sering-sering minta doa ke keluarga dekat serta minta maaf sama suami. minta restu juga sama orangtua, terutama ibu kita! Kayanya kemudahan bersalin ini juga berkat doa banyak orang huhuhuhu. Nanti saat persalinan bakal kerasa kalau kita sungguh nggak ada apa-apanya :”””””” Allahuakbar.
Tawakkal alallah : kita boleh berikhtiar, tapi tetap hasil akhir Allah yang pegang, ikhlaskan perjuangan sedari awal. Maksimalkan usaha, tapi juga lapangkan dada selapang-lapangnya. Kalaupun kita harus bersalin secara SC, nggakpapa! Mau normal ataupun SC tidak akan mengurangi hakikat kita sebagai seorang ibu. KIta tetap ibu dan kita tetap berjuang dalam persalinan! Apapun jenis persalinannya, berarti itu yang terbaik buat kita dan bayi kita. Yang penting semuanya sehat dan selamat :D Jangan takut sama persalinan, semua ibu di dunia mengalami hal ini. Ibu-ibu kita juga. Jangan kalah sama setan! Dia menghasut lewat ketakutan saat kita mau berjihad. Saya selalu ingat ayat favoritnya mas kalau mulai resah akan bersalin :
“Infiru khifafan wasikolan wajahidu biamwalikum wa anfusikum fisabilillah dhalikum khoirul lakum inkuntum ta’lamun”
Artinya: “Berat maupun ringan tetap berangkatlah untuk membela agama Allah dengan harta dan tenaga kalian. Demikian itu lebih baik untuk kalian jika kalian tahu”
kita bersalin dalam rangka melahirkan penerus agama Allah selanjutnya, kita berjihad, dan hanya kepada Allahlah kita meminta perlindungan. Bismillaaah :)
Kuasa Allah, saya bisa melahirkan dengan proses yang berjalan lancar. Alhamdulillaaaaah, Kak Shabira lahir setelah adzan dan iqomah Ashar. Watu hamil saya sering elus-elus perut sambil bilang,
“Kakak, nanti Mamah bersalin nggak ngejan kakak keluar sendiri ya, Mamah tinggal ehem, terus kakak oek-oek yaaa.”
Dan saat bidan bilang bukaan saya sudah 8, saya berdehem “ehem, ehem” harapannya kasih kode ke Kakak sesuai briefing di dalam kandungan. Alhamdulillaah diijabah sama Allah. Beneran dong, Kak Sha lahir di saat saya belum mengejan di bukaan lengkap. *birthstory bakal diposting di postingan lain karena ternyata: PANJANG JUGA EUY T.T kalau kepanjangan nggak enak wkwk
saya mah nggak ada apa-apanya kalau Allah nggak mudahkan saat persalinan. Karena waktu udah bersalin, yang ada semuanya Allah yang gerakkan. Saya nyaris nggak bisa ngapa-ngapain saking menyenangkannya gelombang cinta di setiap bukaan hihihi
Intinyaaa, kalau kamu, yang baca ini, mempunyai minus tinggi dan mau bersalin normal. InsyaAllah bisaaaaa, karena pasien dokter saya juga ada yang minus di atas saya dan mereka juga bisa melahirkan normal! Bismillah khusnudzan dan tetap ikhtiar yaaa, yang pasti : SERAHKAN SEMUANYA SAMA ALLAH :)