Rentetan gerbong bak ular itu akhirnya hilang di pelupuk pandang, menyisakan antrian Pengendara yang saling berebut melintasi rel kereta, deru kendaraan saling memburu, cuitan klakson terus bersahutan.
Tukang becak di depan kendaraan kami takut-takut, sesekali menggeleng melihat kendaraan di belakangnya, becak tuanya dikayuh lebih cepat dengan kakinya yang kian ringkih namun tetap kalah dengan berat, tumpukan dos air mineral di bangku penumpangnya tak sebanding dengar kuatnya.
Klakson bergantian memberi kode, Mbah becak kaget-kaget menoleh lagi, memilih menyerah, meloncat dari kayuhnya, memilih turun mendorong becaknya dengan kaki telanjangnya yang dirasa akan lebih cepat. Meskipun begitu kita tetap tak bisa lewat mendahuluinya, merayap kendaraan dari arah depan.
Tatapku masih tak bergeming menyaksikan Mbah tukang becak dengan kaki telanjang nan ringkihnya mendorong becaknya di jalan rel yang sedikit menanjak, terlihat kewalahan, dihamparan Pesedamotor lain yang saling berburu, hingga kemudian seorang tua separuh baya datang dengan lari kecilnya, memegang sandaran becak, menyedekahkan tenaganya kepada Mbah becak hingga melintas tanjakan.
Rasanya hangat, betapa kebaikan itu ada disetiap hati, menyalur dan membagikannya itu kembali lagi pada seberapa kuat energi kebaikan pemiliknya.
Trimkasih Mbah dan Mamang Penolong masih ditawarkan cerita kebaikan di perlintasan ini dengan kisah becaknya.
Rel perlintasan ini memang selalu ramai, layaknya sebuah keberuntungan melewatinya tanpa syarat antri dan lebih beruntung lagi berlalu tanpa kegerahan hati.