Oleh : prawitamutia dalam bukunya Teman Imaji, Hal. 125
Di Sebuah rimba hiduplah keluarga Batu. Bapak Batu, Ibu Batu, beserta tiga anak Batu. Si Besar bernama Cadas, si sedang bernama Kali, dan si Kecil bernama Kerikil.
Suatu hari Bapak Batu bertanya kepada anak-anaknya, “Wahai Anak-anakku, kalau kalian sudah dewasa, ingin menjadi apakah Kalian ?”
Si Cadas menjawab, “Aku ingin jadi prasasti, Pak. Menjadi batu abadi yang mencatat sejarah.”
Si Bapak Tersenyum, “Cadas anak Bapak yang pintar.”
Si Kali menjawab, ”Aku ingin menjadi fondasi bangunan, Pak. Menjadi yang paling penting dari menara tinggi.”
Si Bapak Tersenyum, “Kali anak Bapak yang Kuat.”
Si Kerikil menjawab, ”Aku ingin menjadi kerikil di jalan, Pak.”
Bapak Batu heran, ”Kenapa kerikil di jalan, Nak? Nanti kamu tergerus waktu dan hilang. Lebih baik seperti Bapak. Tetap tinggal di Gunung. Menjadi Gunung.”
Si Kerikil lebih heran, ”Bukannya Bapak yang bilang, jadi apa pun asal berguna itu boleh, kan, Pak ? Kalau semua jadi bangunan, siapa yang jadi jalan?”
Akhirnya di Bapak tersenyum, “Kerikil anak Bapak yang paling pintar dan kuat. Pintar merasakan yang tidak dirasakan orang lain. Kuat menghadapi tantangan yang tidak bisa dihadapi orang lain.”
Si Kerikil tersenyum lagi, “Seseorang mengajariku untuk menjadi teladan meskipun aku bungsu.”
“Siapa orang itu, Nak?”
“Ibu.”
Â
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Pesan MoralÂ
“Pertama, setiap anak bukan cetakan ulang orang tuanya. Kedua, setiap cita-cita itu boleh. Asalkan bermanfaat dan halal. Ketiga, setiap makhluk memiliki peran hidup masing-masing. Keempat, tak harus menjadi yang paling besar untuk menjadi teladan. Kelima, kita harus memperjuangkan mimpi-mimpi kita. Supaya besok, anak-anak kita bisa memiliki dan memperjuangkan mimpi-mimpinya sendiri.”