Coba Lagi
Menemani bulan-bulan penghujung 2021 kemarin, di hamparan resolusi yang jauh dari solusi, ketidakpastian ikut-ikut menyumbang porsi kekhawatiran. Masih banyak yang belum terkejar, belum yang terlepas, malah ada pula yang terpental jauh.
Gagal, masih jadi diksi yang mewarnai 2021. Meski demikian, tahun itu tetap hebat untuk lebih mengenal diri sendiri dengan segala realistisnya.
Masih kebayang Aku yang mulai prepare menyambut 2022, mulai dari bersih-bersih hp, menghapus semua pesan, chat, wa, yang sudah kadaluarsa meski memoriable -move on guys-, keluar dari WAG yang vakum, menutup akun-akun yang tidak lagi releate, hingga unistal aplikasi-aplikasi yang banyak tidak terpakainya. Tumbl, masuk di dalamnya.
Maret 2020, jadi corat-coret terakhirku di agenda resepsi itu. Setelahnya, di banyak penyesuaian dengan karir baru, mesti kejar-kejaran target, prioritas-prioritas ikut bergeser, menyisakan clue-clue kisah dalam draft yang tidak bisa dikembangkan sama sekali. "Alasan ada yang lebih mendesak, selalu mengkerdilkan nyaliku yang hanya secuil". Tersisalah tumpukan kisah yang mulai kehilangan nyawanya. Itu 2020!
2021 beda lagi, aku tidak sibuk sama sekali. Tapi karena tidak sibuk, kisah-kisah yang kutemui klasik dalam keseharian, yang justru sebenarnya lebih lekat untuk dimaknai, namun yang terjadi menyeret diri lebih jauh dalam konflik dan membicarakannya menguras energi tersendiri. Akhirnya Tumblr 2021 berlalu lagi begitu saja.
Sampai pada hari ini, detik-detik menjelang unistall. Aku buka lagi Tumblrnya, scrool kisah-kisahnya, terharuuuuuu kembali.
Meski sepenggalan-sepenggalan, kisah itu tetap milik aku dengan segenap sudut pandang positif-negatifnya.
Batal unistall deh, malah jadi nulis ini. Hehe
Kuyyyy, mulai lagi Jum.
#merawatkebaikan #ceritabaik #selfhealing #menasehatidiri













