Menjadi Guru
Ketika tiba masanya bangku itu menjadi otoritas kami.. saat itu pula ingatanku melayang pada masa ketika diri ini masih berstatus murid.
Aku ingat sekali. Saat duduk di bangku menengah atas, seorang guruku marah. Marah yang tertahan. Sebab seorang kawan sekelas kami berulah. Ulahnya tak begitu kuingat detailnya, yang jelas ia berbuat sesuatu yang merendahkan profesi guru kami yang marah itu.
"Sepintar-pintarnya kamu, dalam masa ini kamu tidak akan pernah menempati bangku ini sebagai seorang guru. Mungkin di masa mendatang iya, tapi setidaknya selama kamu bersekolah di sini, kamu akan selalu menyandang status murid,"
Seisi kelas hening. Baju seragam guru yang dikenakan ibu guru kami itu seolah-olah tak sanggup berkata-kata. Tak nampak sedikitpun kerutan atau kusut di baju beliau.
Bahkan dinding pun seolah tak berani menampakkan retakannya. Jam dinding seolah hilang bunyi gerakan detiknya.
Siapa yang bisa beradu argumen dengan pernyataan beliau? Wewenang beliau sebagai guru saja sudah membuat kita ciut nyali. Ini Indonesia, negara yang menjunjung tinggi adat ketimurannya.
Dan..memang sangat tidak beradab jika dalam proses belajar mengajar ada celetukan yang menghina profesi ini.
Bu, aku ingin bilang padamu. Aku sudah bertahun-tahun berprofesi sama denganmu. Namun, aku mengevaluasi diriku. Aku bahkan belum seujung kuku dengan kualitas dirimu. Aku sangat merindukan masa-masa diajari olehmu.
Pelajaran Matematika level sekolag menengah atas terasa mudah, bu. Padahal aku tipikal murid yang perlu latihan berulang kali saat belajar Matematika. Pelajaran yang menjadu momok bagi sebagian besar siswa.
Semoga Allah selalu menjagamu, bu guru.
Terimakasih sudah mengajari kami dengan sangat baik. Terimakasih sudah mendidik anak yang juga teman sekelas kami dengan baik. Teman yang setia dan selalu berinisiatif membantu.
*kenangan masa putih abu-abu

















