abadi
pada riuh ruai tengah kota
ku simpan lekat tiap jalan yang pernah kita jejaki dan ku persembahkan bahwa kamu pemiliknya
di tiap kalimat yang coba ku urai bagaimana senyummu
ku terjemahkan bahwa kamu merupa tentram yang abadi
seperti lagu-lagu yang diputar hingga seribu kali
seperti puisi-puisi yang ku tulis agar tentangmu tak lekas mati
tak akan bosan untuk kunikmati
aku membiarkanmu membahasakan diri sebagai kekal rindu yang melekat pada tiap memori
biar tak lagi bernyawa sebagaimana janji terakhir kali
aku bersumpah bahwa jatuh cinta padamu adalah kenangan yang akan ku bawa mati
maka, hiduplah di sini
bersama tulisan yang berubah menyepi
bersama doa yang akan memelukmu di tiap lelap hingga kamu mampu jatuh cinta kembali
—itsbyw




















